bukamata.id – Simak berikut ini naskah khutbah Jumat yang membahas tentang membangun kesalehan diri sebagai bekal memilih pasangan hidup.
Hari Jumat merupakan Sayyidul Ayyam atau rajanya hari bagi umat muslim di dunia, yang diyakini sebagai hari penuh keberkahan.
Pasalnya, pada hari tersebut setiap muslim yang balig diwajibkan untuk mengerjakan shalat Jumat, yang menjadi salah satu penanda perayaan hari raya kecil bagi umat muslim.
Adapun beberapa syarat berlaku dalam pelaksanaan salat Jumat, di antaranya adalah melangsungkan khutbah sebagai rukun dalam salat Jumat.
Nah, berikut ini naskah khutbah Jumat tentang membangun kesalehan diri sebagai bekal memilih pasangan hidup, dilansir dari laman NU Online, Jumat (31/1/2025).
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الْمُنْعِمِ عَلَى مَنْ أَطَاعَهُ وَاتَّبَعَ رِضَاهُ، الْمُنْتَقِمِ مِمَّنْ خَالَفَهُ وَعَصَاهُ، أَشْهَدُ أَنْ لآ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةَ عَبْدٍ لَمْ يَخْشَ إِلاَّ اللهَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِي اخْتَارَهُ اللهُ وَاصْطَفَاهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ. أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ ، وَتَفَكَّرُوْا فِي نِعَمِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوْهُ، وَاذْكُرُوا آلَاءَ اللهِ وَتَحَدَّثُوا بِفَضْلِهِ وَلَا تَكْفُرُوْهُ، قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَهُوَ أَصْدَقُ الْقَائِلِيْنَ، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: وَما أُمِرُوا إِلَاّ لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفاءَ ،صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْمِ
Ma’asyiral Muslimin, jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Segala puji bagi Allah swt yang telah memberikan kita berbagai macam kenikmatan sehingga kita dapat memenuhi panggilan-Nya untuk menunaikan shalat Jumat. Di antaranya ialah nikmat masihnya kita diberi kesempatan untuk bisa menghirup udara sehingga bisa dipertemukan di siang Jum’at hari ini.
Shalawat beserta salam, mari kita haturkan bersama kepada Nabi Muhammad SAW, juga kepada para keluarganya, sahabatnya, dan semoga melimpah kepada kita semua selaku umatnya. Amin ya Rabbal ‘alamin.
Hadirin jamaah Shalat Jumat yang dimuliakan Allah
Pernikahan merupakan ibadah terpanjang dalam kehidupan di dunia. Agar perjalanan ibadah ini berjalan dengan lancar, penting bagi kita untuk mempersiapkan bekal dengan sebaik mungkin, baik dari segi materi maupun non-materi.
Persiapan tersebut dimulai dari langkah awal yang fundamental, yaitu memilih pasangan hidup. Sebab, pasangan yang baik akan membawa kita menuju kebaikan.
Namun, sebelum lebih jauh dalam menyeleksi pasangan, hal yang tidak kalah penting adalah memantaskan diri terlebih dahulu. Menjadi pribadi yang layak merupakan kewajiban yang harus dipenuhi, karena laki-laki yang baik akan dipasangkan dengan wanita yang baik, begitu pula sebaliknya. Laki-laki yang buruk akan ditakdirkan dengan wanita yang buruk.
Hal ini juga ditegaskan dalam firman Allah SWT dalam Al-Qur’an, surat An-Nur ayat 26:
اَلْخَبِيْثٰتُ لِلْخَبِيْثِيْنَ وَالْخَبِيْثُوْنَ لِلْخَبِيْثٰتِۚ وَالطَّيِّبٰتُ لِلطَّيِّبِيْنَ وَالطَّيِّبُوْنَ لِلطَّيِّبٰتِۚ اُولٰۤىِٕكَ مُبَرَّءُوْنَ مِمَّا يَقُوْلُوْنَۗ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّرِزْقٌ كَرِيْمٌ ࣖ
Artinya: “Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka (yang baik) itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia.”
Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, Tafsirul Qur’anil ‘Azhim, menjelaskan bahwa QS. An-Nur ayat 26 ini diturunkan untuk mempertegas posisi Aisyah istri Rasulullah SAW yang difitnah oleh orang-orang munafik. Kala itu, Aisyah dituding selingkuh dengan Shafwan bin Mu’aththal saat pulang dari perang Muraisi’.
Dengan ayat tersebut mengindikasikan kepada kaum muslimin, bahwa tidak mungkin bagi Allah SWT menjadikan Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai istri Rasulullah SAW, kecuali merupakan wanita yang baik dan layak bersanding dengan makhluk yang paling mulia.
Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah
Selain itu, Sesungguhnya Islam menganjurkan kepada laki-laki untuk menikah dengan wanita yang salehah. Sebab secara fitrah, seorang istri akan menjadi pendamping sepanjang hidup bagi suaminya di dunia. Rasulullah SAW pernah menjabarkan kriteria wanita ideal dalam haditsnya.
Informasi ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abu Hurairah RA:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ
Artinya: Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW, bahwasanya ia bersabda: “Wanita itu dinikahi karena empat hal: hartanya, silsilah keluarganya, parasnya, dan agamanya. Maka beruntunglah engkau yang menikah dengan wanita yang baik agamanya.” (HR. Bukhari)
Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah
Namun, sebelum memastikan bahwa calon pasangan telah memenuhi keempat kriteria tersebut, hal yang paling utama adalah menilai diri sendiri, sudah pantaskah kita untuk mendapatkannya?
Apakah kualitas yang kita miliki telah sejalan dengan kriteria yang kita harapkan? Sebab, sungguh tidak bijak jika seseorang menginginkan pasangan yang luar biasa, sementara diri dan usahanya masih biasa-biasa saja.
Percayalah, pasangan yang baik akan datang di waktu yang tepat, yaitu saat kita telah berusaha memantaskan diri sebagai pribadi yang layak untuk mendapatkannya. Selain itu, setiap ikhtiar yang dilakukan harus selalu dibarengi dengan doa dan harapan kepada Allah SWT.
Salah satu doa yang dianjurkan untuk memperoleh pasangan dan keturunan yang baik adalah sebagaimana yang dipanjatkan oleh orang-orang saleh dalam Al-Qur’an, surat Al-Furqan ayat 74:
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا
Artinya: “Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami penyejuk mata dari pasangan dan keturunan kami serta jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ بنِ عَبدِ اللهِ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ المُسلِمُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَاعلَمُوْا إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَواْ وَّٱلَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ. قَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ خَاصَّةً بِلَادِ فَلِسْطِيْن. اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا فِي فَلِسْطِيْن وَآتِهِمُ الْاِسْتِقْلَالَ والحُرِّيَّةَ مِنْ طُغْيَانِ اسْتِعْمَارِ إِسْرَائِيلَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ عِبَادَاللهِ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











