bukamata.id – Di tengah riuhnya linimasa yang tak pernah benar-benar tidur, nama Fajar Sadboy kembali menjadi perbincangan. Bukan karena tangisannya yang dulu viral, melainkan karena potongan video yang memantik debat panjang: adegan dirinya diludahi oleh komika Indra Frimawan dalam sebuah podcast.
Di balik sorotan itu, ada satu sosok yang diam-diam memantau dari kejauhan—Amanda Manopo. Hubungan keduanya selama ini dikenal hangat, seperti adik dan kakak. Ketika video tersebut ramai dibahas, Amanda yang sedang berada di luar negeri tetap mengikuti kabar Fajar. Ia bahkan menyempatkan diri berbincang langsung lewat siaran langsung TikTok.
“Cerita dulu katanya kamu datang ke podcast Deddy Corbuzier, terus ada kak Indra, katanya kamu diludahin,” kata Amanda saat live bersama Fajar, dikutip Sabtu (14/2/2026).
Tak berhenti di situ, ia memastikan ulang dengan nada khawatir, “Diludahin beneran?”
Pertanyaan itu bukan sekadar basa-basi. Di tengah derasnya opini publik, Amanda ingin mendengar langsung dari Fajar. Jawaban Fajar justru jauh dari nada marah atau tersinggung.
“Yang sama abang Indra, mereka baik banget kok sama aku,” kata Fajar. “Kan itu becanda juga beliau kan komedian,” sambungnya.
Sikap Fajar yang tenang dan cenderung membela itu membuat banyak orang terdiam. Di saat netizen sibuk memperdebatkan etika, Fajar memilih melihatnya sebagai bagian dari komedi. Bahkan, ia sempat melakukan refleksi diri.
“Mungkin kalau dari aku karena salah aku ya,” ucap Fajar Sadboy.
Respons itu membuat Amanda mencoba menutup percakapan dengan lebih ringan. “Ya apa pun itu, udah lewat juga, becanda,” katanya.
Namun, bagi publik, persoalan tidak sesederhana itu.
Dua Podcast, Satu Momen yang Sama
Nama Indra Frimawan bukanlah sosok asing di dunia stand-up comedy Indonesia. Ia dikenal dengan gaya non-sequitur—alur logika yang sengaja “dipatahkan” demi efek absurd. Pendekatan komedinya sering membuat penonton terkejut, kadang bingung, namun tak jarang juga tertawa.
Salah satu potongan video yang viral berasal dari podcast Close The Door. Dalam tayangan tersebut, percakapan bermula santai. Fajar ditanya tentang host favorit dari berbagai podcast yang pernah ia datangi.
“Sebenarnya semuanya ya, semuanya favorit aku, enggak ada yang terkecuali,” kata Fajar.
Jawaban itu terdengar diplomatis. Namun Indra menanggapi dengan nada khasnya.
“Belum tentu favorit tamunya lo sih buat mereka, gue enggak,” kata Indra.
Fajar tetap tenang. Ia menjelaskan bahwa baginya, yang penting adalah ia menyukai semua orang. Indra lalu mengibaratkan dengan martabak spesial—kalau semua disebut spesial, maka tidak ada lagi yang benar-benar istimewa. Fajar merasa analogi itu kurang tepat. Percakapan sedikit melenceng. Dan di situlah momen kontroversial terjadi: Indra meludahi Fajar.
Video lain yang kembali diangkat netizen berasal dari podcast berbeda, yakni Podcast Logic yang dipandu Indra beberapa bulan sebelumnya. Di sana, adegan serupa juga terjadi.
Bagi sebagian penggemar komedi absurd, tindakan itu dianggap bagian dari gimmick. Sebuah kejutan yang “di luar nalar” untuk memancing reaksi. Tetapi bagi banyak orang lainnya, adegan tersebut melampaui batas.
Komedi Absurd dan Batas Etika
Dalam dunia stand-up, garis antara satire, absurd, dan ofensif memang sering kabur. Indra Frimawan selama ini dikenal berani melakukan aksi tak terduga demi efek komedi. Namun kasus ini memunculkan pertanyaan mendasar: apakah semua bentuk kejutan dapat dibenarkan atas nama hiburan?
Seorang pengguna media sosial menuliskan, “Bercanda boleh, tapi tolong etika dijaga.”
Komentar itu mewakili keresahan banyak orang. Ada kekhawatiran bahwa demi engagement dan angka penonton, sebagian kreator rela menabrak norma kesopanan. Apalagi, podcast yang ditonton jutaan orang tentu membawa tanggung jawab moral.
Komentar lain tak kalah tajam: “Entah ini settingan atau bukan, tetap saja kelewatan. Nggak sopan.”
Jika memang adegan itu bagian dari skenario, publik mempertanyakan mengapa tim produksi tetap menayangkannya tanpa sensor. Jika spontan, maka muncul persoalan kontrol dan profesionalitas di depan kamera.
Fajar dan Energi Positifnya
Di tengah panasnya debat, Fajar justru tampil sebagai sosok paling tenang. Alih-alih memperpanjang polemik, ia memilih meredam.
Responsnya menuai simpati. Di kolom komentar, dukungan mengalir.
“Fajar baik banget, positif thinking terus,” tulis @m0mb4n1z.
“Fajar bukan pendendam ya dia sangat baik,” tulis @junktri_74.
“Baik banget Fajar ini, sehat-sehat y Jar,” tulis @carpediemm28.
Publik melihat sisi lain Fajar—bukan sekadar remaja yang dulu viral karena patah hati, melainkan pribadi yang mencoba dewasa menghadapi sorotan. Ia memilih introspeksi ketimbang menyalahkan.
Sikap itu mungkin lahir dari pengalaman panjang hidup di bawah kamera. Sejak namanya dikenal, Fajar tak pernah benar-benar lepas dari komentar publik. Setiap gestur bisa dipotong, dipelintir, lalu dibagikan ulang dengan narasi berbeda.
Di Antara Konten dan Tanggung Jawab
Kasus ini membuka diskusi lebih luas tentang budaya digital kita. Platform media sosial membuat potongan adegan berdurasi beberapa detik bisa memicu reaksi nasional. Potongan tanpa konteks seringkali lebih cepat menyebar daripada klarifikasi.
Di sisi lain, kreator konten memang hidup dari perhatian publik. Kejutan, sensasi, dan kontroversi kadang dianggap strategi. Namun pertanyaannya tetap sama: di mana batasnya?
Meludahi seseorang—bahkan jika atas persetujuan atau dalam konteks bercanda—bagi sebagian masyarakat tetap dianggap tindakan merendahkan. Norma sosial di Indonesia yang menjunjung kesopanan membuat adegan tersebut terasa sensitif.
Apalagi ketika melibatkan figur muda seperti Fajar yang memiliki banyak pengikut remaja. Apa yang tampil di layar bisa menjadi referensi perilaku.
Amanda, Kakak yang Siaga
Di tengah semua itu, peran Amanda terasa penting. Ia tidak langsung menghakimi, tidak pula mengompori situasi. Ia bertanya, memastikan, lalu menerima jawaban Fajar.
Sikapnya menunjukkan bentuk dukungan yang sederhana namun berarti: mendengar langsung dari orang yang mengalami.
Mungkin bagi Amanda, yang terpenting adalah kondisi emosional Fajar. Selama Fajar merasa baik-baik saja dan tidak terluka, maka ia memilih tidak memperpanjang.
Namun publik tetap punya ruang untuk berdiskusi. Karena pada akhirnya, isu ini bukan semata tentang Fajar atau Indra, melainkan tentang arah industri hiburan digital kita.
Apakah kejutan ekstrem akan menjadi standar baru demi viralitas? Atau justru peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kreativitas tidak harus mengorbankan etika?
Jawabannya mungkin tidak hitam putih. Tetapi satu hal yang jelas, sikap Fajar yang memilih berdamai dan tetap positif memberi pelajaran tersendiri. Di tengah kebisingan media sosial, ketenangan justru menjadi suara paling nyaring.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











