bukamata.id – Sebuah video keributan yang terjadi di kawasan Citayam, Kota Depok, mendadak viral di media sosial.
Insiden tersebut memperlihatkan suasana pengajian tujuh harian meninggalnya seorang lansia yang berubah ricuh setelah puluhan warga mendatangi rumah duka untuk menagih utang arisan.
Peristiwa ini memantik perdebatan luas di ruang publik. Di satu sisi, penagihan utang saat suasana berkabung dinilai tidak pantas. Namun di sisi lain, muncul fakta bahwa utang tersebut diduga bernilai besar dan telah berlarut-larut tanpa kejelasan penyelesaian.
Kronologi Awal Keributan di Rumah Duka
Berdasarkan informasi yang beredar, keributan bermula ketika sekelompok ibu-ibu mendatangi sebuah rumah di Citayam yang tengah menggelar pengajian tujuh harian.
Kedatangan mereka bertujuan menagih utang arisan kepada seorang perempuan yang merupakan anggota keluarga di rumah tersebut.
Awalnya, situasi masih terkendali. Namun ketegangan meningkat ketika prosesi doa masih berlangsung dan perdebatan mulai terjadi di depan rumah duka. Video kejadian itu kemudian direkam warga dan tersebar luas di berbagai platform media sosial.
Cucu Pemilik Rumah Emosi, Lontarkan Ancaman
Dalam video yang viral, ketika seorang perempuan terlihat terpancing emosi. Dalam video yang beredar, ia melontarkan kata-kata bernada ancaman kepada sejumlah ibu-ibu penagih utang.
Ucapan tersebut menuai kecaman warganet karena dinilai tidak pantas, terlebih di tengah suasana duka. Ancaman kekerasan yang terekam kamera juga dianggap berpotensi menimbulkan persoalan hukum baru.
Utang Diduga Capai Hampir Rp1 Miliar
Unggahan akun Instagram @haisyahrill_ turut menyedot perhatian publik. Dalam keterangannya, akun tersebut menuliskan:
“Innalillahi, telah pulang dan hilang dari bumi akhlak. Anak ini, emanya punya utang malah lebih galak. Mari kita kawal dan bantu ibu-ibu ini sampai tuntas.”
Sementara itu, sejumlah warganet lain mengungkapkan dugaan nominal utang yang cukup besar. Salah satunya ditulis akun @bun* yang menyebut korban mencapai banyak orang dengan nominal bervariasi.
“Uangnya masing-masing ada yang Rp16 juta, Rp20 juta, Rp30 juta, Rp50 juta. Katanya kalau ditotal hampir Rp1 miliar. Dulu yang punya utang punya toko sembako dan snack, tapi sekarang sudah tutup. Semua dijanjiin mau dibayar kalau rumahnya sudah dijual,” tulisnya.
Penagihan Dilakukan Karena Korban Kesulitan Bertemu
Warganet lain, akun @iiq*, menambahkan sudut pandang berbeda terkait kronologi. Menurutnya, penagihan dilakukan bukan tanpa alasan.
Ia menyebut bahwa pihak yang berutang kerap menghindar dan sulit ditemui, sehingga momen pengajian menjadi satu-satunya kesempatan para korban untuk bertemu langsung.
“Utangnya sudah lama. Yang nagih sudah dikasih banyak waktu dan kelonggaran. Datang pas berduka karena memang tidak ada pilihan lain, takutnya nanti kabur lagi,” tulisnya.
Meski begitu, ia menilai emosi yang meledak-ledak justru memperkeruh suasana dan membuat masalah semakin viral.
Menuai Pro dan Kontra di Masyarakat
Peristiwa ini memicu pro dan kontra di tengah masyarakat. Banyak yang menyayangkan penagihan utang dilakukan saat keluarga sedang berduka. Namun tidak sedikit pula yang membela para penagih karena merasa hak mereka selama ini diabaikan.
“Amit amit benci bgt sm orng modelan begini, emg ga niat bayar aja gasih?,” tulis akun @bhe***
“Jujur yaa ,,klo sya d posisi si teteh yg marah²,, justru sy berterimakasih,krna sdh di ingatkan,,, jika memang blm ada uang untuk Byr nya,,bisa negosiasi mnta waktu,,, sy rasa jika kita niat nya baik mah,, insyaallah,,, akan timbul nya kebaikan,,, laaahh ini si Teteh marah²,,, aneeeh bgt,, dan sodara nya bilang “punya hati dong”. Laaahhh dia yg punya hati yaa pdhal,,, heheheee astagfirullah,” tulis akun @lel***
“Lo ngutang lo yang galak pas di tagih. RIP akal sehat,” tulis akun @ger**
Penutup
Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian terkait tindak lanjut kasus tersebut. Warga berharap persoalan ini dapat diselesaikan secara hukum dan musyawarah agar tidak kembali memicu konflik serupa di lingkungan masyarakat.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










