bukamata.id – Kisah cinta Jennifer Coppen dan Justin Hubner tidak hadir sebagai cerita yang lahir tiba-tiba. Ia adalah perjalanan panjang yang dibentuk oleh masa lalu, kehilangan, pencarian, dan keberanian untuk kembali percaya pada cinta. Di balik momen lamaran yang mengharukan di penghujung 2025, ada lapisan cerita yang jarang dibicarakan secara utuh—tentang luka yang pernah ada dan perjalanan masing-masing sebelum akhirnya saling menemukan.
Bagi Jennifer Coppen, cinta bukan hal baru. Publik masih mengingat bahwa sebelum bersama Justin, ia pernah membangun rumah tangga dengan pria bernama Dali Wassink. Pernikahan itu sempat menjadi sorotan, bukan karena kemewahan atau sensasi, melainkan karena Jennifer terlihat menemukan ketenangan dalam fase hidupnya saat itu. Dari pernikahan tersebut, Jennifer juga dikaruniai seorang anak—sebuah peran baru yang mengubah hidupnya secara fundamental.
Namun hidup tak selalu berjalan sesuai rencana. Pernikahan Jennifer dan Dali berakhir, meninggalkan duka yang mendalam. Jennifer harus menghadapi masa sulit sebagai ibu muda, perempuan, dan figur publik yang hidupnya terus diamati. Di masa itu, ia memilih untuk tidak banyak bicara. Media sosialnya lebih banyak berisi potret keseharian sederhana, refleksi diri, dan upaya bangkit perlahan.
Jennifer kerap mengisyaratkan bahwa pengalaman menikah mengajarkannya banyak hal—tentang komitmen, batasan, dan arti mencintai diri sendiri. Ia menjadi lebih selektif, lebih matang, dan tidak lagi melihat hubungan sebagai sesuatu yang harus dipamerkan atau dibuktikan ke publik. Cinta, baginya, berubah makna: bukan lagi sekadar perasaan, tetapi tanggung jawab dan kesiapan mental.
Di sisi lain, Justin Hubner juga membawa masa lalunya sendiri. Sebagai pesepak bola muda yang tumbuh di Eropa, kehidupan Justin tak lepas dari sorotan lingkungan profesional dan pergaulan internasional. Ia dikenal pernah menjalin hubungan dengan beberapa perempuan sebelum Jennifer, meski sebagian besar hubungannya tidak terekspos luas ke media. Justin cenderung menjaga privasi kehidupan asmaranya, fokus pada karier, dan jarang membicarakan urusan personal di ruang publik.
Lingkungan sepak bola profesional membentuk Justin menjadi pribadi yang disiplin, rasional, dan terbiasa hidup dalam tekanan. Hubungan asmara baginya kerap harus beradaptasi dengan jadwal latihan, pertandingan, dan kepindahan antarnegara. Tak sedikit hubungan yang akhirnya kandas karena jarak dan prioritas karier.
Ketika Jennifer dan Justin mulai dekat, banyak yang tak menyangka hubungan itu akan bertahan. Perbedaan usia, latar budaya, jarak negara, hingga keyakinan menjadi catatan panjang di mata publik. Namun justru dari situ, keduanya terlihat memilih jalan yang lebih dewasa—membangun komunikasi dan tidak menutup-nutupi realitas hubungan mereka.
Isu perbedaan agama menjadi salah satu topik paling sensitif yang pernah terbuka ke publik. Dalam sebuah siaran langsung TikTok, Jennifer dengan jujur menyatakan bahwa ia tidak akan meninggalkan Islam. Pernyataan itu lahir bukan dari emosi sesaat, melainkan dari pengalaman hidup yang telah membentuknya.
“Menurut lo? Gue enggak mungkin meninggalkan agama gue. Kan gue sudah terkenal jago meloginkan orang. Insya Allah (dia login). Kita lihat saja nanti,” ujarnya saat itu.
Respons Justin yang terdengar menolak dari balik kamera justru memperlihatkan dinamika asli hubungan mereka. Tidak diskenariokan, tidak dibuat manis. Jennifer sendiri sempat heran, lalu tertawa. Momen itu menunjukkan bahwa mereka tidak selalu sepakat, tetapi memilih untuk membicarakannya.
Bagi Jennifer, agama adalah fondasi hidup—terlebih setelah ia melewati fase kehilangan dan menjadi seorang ibu. Sementara Justin, yang dibesarkan dalam tradisi berbeda, memandang keyakinan sebagai sesuatu yang sangat personal. Namun keduanya sepakat pada satu hal: keputusan besar harus lahir dari kesadaran, bukan paksaan.
Hubungan mereka terus berjalan dalam kesunyian yang hangat. Jennifer kerap mengunjungi Justin di luar negeri, dan sebaliknya. Tidak ada drama berlebihan, tidak ada sensasi murahan. Potret kebersamaan mereka lebih banyak memperlihatkan hal-hal kecil: tertawa di dapur, berjalan santai, atau duduk berdampingan tanpa kata.
Bagi Jennifer, Justin hadir sebagai sosok yang menerima masa lalunya, termasuk statusnya sebagai ibu. Bagi Justin, Jennifer adalah pasangan yang kuat, jujur, dan tahu apa yang ia inginkan dari hidup. Keduanya bertemu bukan sebagai pribadi yang “kosong”, tetapi sebagai dua orang yang telah ditempa pengalaman.
Puncak dari perjalanan itu akhirnya tiba pada 23 Desember 2025. Tanpa gembar-gembor sebelumnya, Justin membagikan momen lamaran yang begitu intim. Ia berlutut, mengulurkan cincin, dan menatap Jennifer—perempuan yang telah melewati badai hidup sebelum akhirnya berdiri di hadapannya hari itu.
Jennifer terlihat tak kuasa menahan tangis. Ia menutup wajahnya, matanya berkaca-kaca, lalu mengangguk. Sebuah jawaban sederhana yang menyimpan makna besar.
“She said yes!” tulis Justin.
Unggahan itu langsung disambut gelombang ucapan selamat. Banyak netizen menyebut lamaran tersebut terasa “dewasa”—bukan sekadar romantis, tetapi penuh makna. Publik melihat bukan hanya dua selebriti, melainkan dua manusia yang memilih untuk melangkah setelah melewati masa lalu masing-masing.
Hingga kini, belum ada informasi resmi soal pernikahan. Namun lamaran itu sudah cukup menjadi penanda: bahwa Jennifer Coppen dan Justin Hubner tidak sedang mengejar dongeng, melainkan membangun masa depan.
Di tengah dunia hiburan yang sering memuja kesempurnaan, kisah mereka justru berdiri di atas ketidaksempurnaan. Tentang perempuan yang bangkit setelah kehilangan, dan pria yang belajar mencintai dengan lebih dalam. Lamaran itu bukan akhir cerita—ia adalah awal dari perjalanan baru yang lahir dari keberanian untuk kembali percaya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











