bukamata.id – Pagi itu, hiruk-pikuk Kota Surabaya terasa berbeda di depan gerai-gerai Hartono Elektronik. Tidak ada keriuhan promosi atau antrean pelanggan yang mencari perangkat elektronik terbaru. Sebaliknya, keheningan yang menyesakkan menyelimuti trotoar. Ribuan karyawan berpakaian seragam lengkap berdiri berjejer rapi, membentuk pagar betis yang panjang.
Duka menyelinap di antara barisan itu saat sebuah mobil jenazah melaju perlahan. Di dalamnya, bersemayam jasad F.X. Hartono Soeprapto, sang pendiri dan pemilik raksasa ritel PT Hatsonsurya Electric (Hartono Elektronik), yang mengembuskan napas terakhirnya pada awal Februari 2026.
Video momen “perpisahan terakhir” ini mendadak viral di jagat maya. Bukan sekadar iring-iringan jenazah biasa, namun sebuah prosesi penuh khidmat di mana sang bos “berpamitan” untuk terakhir kalinya kepada setiap sudut toko dan setiap wajah yang telah membantunya membangun kekaisaran bisnis dari nol.
Menunduk Lesu, Melepas Sosok Bapak
Dalam cuplikan video yang mengiris hati, terlihat para karyawan menundukkan kepala sedalam-dalamnya saat mobil jenazah melintas. Tangan kanan mereka diletakkan di dada kiri—sebuah gestur hormat sekaligus rasa kehilangan yang mendalam. Tak sedikit dari mereka yang matanya berkaca-kaca, menyeka air mata yang jatuh di balik masker atau kacamata.
Bagi para karyawan, Hartono Soeprapto bukan sekadar pemilik perusahaan dalam struktur organisasi yang kaku. Ia adalah sosok “Bapak” yang memberikan kehidupan bagi ribuan keluarga.
“Beliau bukan hanya bos, tapi teladan. Beliau yang memberikan kami pekerjaan yang layak, yang membangun sistem dengan hati. Melihat jenazahnya lewat untuk terakhir kalinya di depan toko ini seperti kehilangan pilar utama rumah kami,” ujar salah satu staf yang enggan disebutkan namanya, suaranya bergetar menahan tangis.
Iring-iringan jenazah yang mengelilingi toko-toko Hartono di Surabaya sebelum prosesi kremasi ini merupakan permintaan dan bentuk dedikasi keluarga serta manajemen. Ini adalah simbolisasi bahwa kesuksesan Hartono Elektronik tidak lepas dari keringat para karyawan dan bangunan-bangunan yang selama puluhan tahun menjadi saksi bisu perjuangan sang pendiri.
Jejak Sang Visioner: Dari Toko Kecil 1978 ke Raksasa Nasional
Lahir pada tahun 1950, F.X. Hartono Soeprapto adalah potret nyata dari keberhasilan yang dibangun dengan konsistensi. Ia memulai langkahnya di dunia ritel elektronik pada tahun 1978 di Surabaya. Saat itu, usahanya hanyalah sebuah toko sederhana di tengah persaingan pasar yang ketat.
Namun, Hartono memiliki sesuatu yang jarang dimiliki orang lain: Visi dan Humanisme.
Di bawah kepemimpinannya, Hartono Elektronik bertransformasi menjadi PT Hatsonsurya Electric. Ia tidak sekadar menjual televisi atau lemari es; ia menjual kepercayaan dan layanan. Berkat tangan dinginnya, toko kecil itu beranak-pinak menjadi jaringan ritel elektronik terbesar di Indonesia dengan cabang yang menggurita di Surabaya, Jakarta, Sidoarjo, hingga Malang.
Ia juga dikenal sebagai pemimpin yang adaptif. Saat gelombang digital menghantam industri ritel, Hartono tidak surut. Ia justru membawa perusahaannya merambah layanan daring (online) melalui aplikasi dan situs web, memastikan bahwa warisan yang ia bangun tetap relevan bagi generasi milenial dan Gen Z.
Kesederhanaan di Tengah Kejayaan
Meski telah menjadi salah satu orang berpengaruh di dunia usaha nasional, Hartono dikenal sebagai sosok yang rendah hati. Pengumuman resmi wafatnya almarhum melalui akun Instagram @myhartono pada Jumat, 6 Februari 2026, memicu banjir ucapan duka dari berbagai kalangan—mulai dari pejabat, mitra bisnis, hingga pelanggan setia.
Biodata singkatnya menunjukkan sosok keluarga yang hangat:
- Nama: F.X. Hartono Soeprapto
- Istri: Natalina Surjani Sudartan
- Anak: Roy Suprapto dan Martin Suprapto
- Cucu: Lima orang
Kepergiannya meninggalkan lubang besar bagi keluarga besar Suprapto. Namun, legasi yang ia tinggalkan jauh lebih besar dari sekadar angka penjualan. Ia meninggalkan budaya kerja yang solid dan rasa memiliki yang tinggi di benak karyawannya.
Viralitas yang Membuka Mata Netizen
Video penghormatan karyawan tersebut menjadi viral karena memotret sisi lain dari dunia bisnis yang sering dianggap dingin dan transaksional. Netizen dibuat terenyuh dengan bagaimana seorang pengusaha bisa begitu dicintai oleh bawahannya.
Di kolom komentar media sosial, ribuan doa mengalir: “Turut berduka cita, selamat jalan Pak Hartono,” tulis seorang netizen. “Aku pelanggan setia Hartono Elektronik. Pelayanannya selalu juara, itu pasti cerminan didikan pemiliknya. RIP Bapak Hartono,” sambung yang lain. “Ikut berduka cita, beliau adalah pengusaha yang ikut berjasa karena banyak memberikan lapangan pekerjaan untuk orang banyak,” jelas netizen lainnya dengan nada penuh hormat.
Fenomena ini membuktikan bahwa di era modern ini, karakter seorang pemimpin tetap menjadi kunci. Loyalitas karyawan yang terlihat dalam video tersebut tidak bisa dibeli dengan uang; itu adalah hasil dari investasi kebaikan, kesejahteraan, dan rasa hormat yang ditanamkan almarhum selama puluhan tahun.
Perjalanan Terakhir Menuju Keabadian
Setelah berkeliling ke gerai-gerai yang ia cintai, jenazah F.X. Hartono Soeprapto akhirnya dibawa menuju tempat peristirahatan terakhir untuk dikremasi. Surabaya hari itu seolah memberikan penghormatan terakhir bagi putra daerahnya yang telah mengharumkan nama kota di kancah bisnis nasional.
Layar-layar televisi di dalam toko Hartono Elektronik mungkin tetap menyala menampilkan produk terbaru, namun cahaya dari sang pendiri kini telah padam. Meski demikian, semangat dan nilai-nilai yang ia wariskan—integritas, kerja keras, dan kepedulian pada sesama—akan tetap hidup dalam setiap transaksi dan senyum karyawan yang melayani pelanggan.
Selamat jalan, Pak Hartono. Perjalanan Anda dari toko kecil tahun 1978 hingga menjadi legenda ritel Indonesia telah selesai dengan sangat manis. Hormat kami untuk sang pelopor yang mengajarkan bahwa bisnis bukan hanya soal profit, tapi tentang memanusiakan manusia.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










