Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Drama Injury Time! Persita Taklukkan Persija 3-2, Rekor Sempurna Macan Kemayoran Terhenti

Sabtu, 17 Oktober 2026 21:45 WIB

Sindir Kepemimpinan Iran, Donald Trump Buat Lelucon Soal Nama ‘Mohammad’ di Panggung Kampanye

Sabtu, 17 Oktober 2026 21:18 WIB

Kaya Serat dan Antioksidan, Ahli Gizi Sarankan Jangan Buang Kulit Ubi Saat Dimasak!

Sabtu, 17 Oktober 2026 21:00 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Drama Injury Time! Persita Taklukkan Persija 3-2, Rekor Sempurna Macan Kemayoran Terhenti
  • Sindir Kepemimpinan Iran, Donald Trump Buat Lelucon Soal Nama ‘Mohammad’ di Panggung Kampanye
  • Kaya Serat dan Antioksidan, Ahli Gizi Sarankan Jangan Buang Kulit Ubi Saat Dimasak!
  • Imbas Dampak Buruk ChatGPT, OpenAI Dituntut Bayar Ganti Rugi Hingga Hapus Data Pengguna
  • Ada Braga Bebas Kendaraan Hingga Persib Day, Ini Agenda Lengkap Kota Bandung Akhir Pekan Ini
  • Jangan Nonton Sendiri! Ini 10 Titik Nobar Persib vs Persik di Bandung & Sekitarnya
  • Prediksi Persib vs Persik Kediri: Unggul Rekor Kandang, Marc Klok Ogah Anggap Remeh Macan Putih
  • Buntut Polusi Udara Lintas Negara, 7 Persusahaan RI Terancam Sanksi Singapura
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Sabtu, 17 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Pertambangan Jabar Catat Rapor Merah, Turun 4,8 Persen Imbas Penutupan Tambang Ilegal

By Putra JuangJumat, 6 Februari 2026 13:48 WIB2 Mins Read
Aktivitas pertambangan galian C di kawasan Lagadar, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung. (Foto: Agi Ilman)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Langkah berani Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat dalam menertibkan pertambangan ilegal sepanjang tahun 2025 membuahkan hasil ganda yakni tata kelola lingkungan yang lebih baik, namun di sisi lain menyebabkan sektor pertambangan menjadi satu-satunya titik lemah dalam rapor ekonomi Jabar.

Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar, sektor pertambangan mencatatkan rapor merah dengan kontraksi sebesar 4,8 persen (y-on-y) pada triwulan IV 2025. Angka ini menjadikannya satu-satunya lapangan usaha yang tumbuh negatif di tengah moncernya sektor lain.

Kepala BPS Jabar, Margaretha Ari Anggorowati mengatakan, kontraksi tersebut berkaitan langsung dengan penutupan sejumlah tambang ilegal yang berdampak pada berhentinya aktivitas produksi dan tenaga kerja di sektor tersebut.

“Ketika tambang ditutup, otomatis tidak ada lagi aktivitas produksi maupun pekerjaan yang berjalan. Produksi turun, penyerapan tenaga kerja juga ikut menurun,” ucap Ari di Kantor BPS Jawa Barat, Kamis (5/2/2026).

Meski menekan kinerja pertambangan, Ari menilai kondisi tersebut merupakan konsekuensi dari upaya penertiban dan pengelolaan sumber daya alam yang lebih tertib dan berkelanjutan.

Menurutnya, langkah ini penting untuk menjaga tata kelola pertambangan dan lingkungan di Jabar. Kontraksi sektor pertambangan terjadi di tengah pertumbuhan ekonomi Jabar yang tetap terjaga.

Secara keseluruhan, ekonomi Jabar pada triwulan IV 2025 tumbuh 5,85 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,39 persen.

Nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jabar triwulan IV 2025 atas dasar harga konstan tercatat sebesar Rp474,29 triliun.

Kendati demikian, kontribusi pertambangan terhadap PDRB relatif kecil dan semakin tertekan akibat berhentinya sejumlah kegiatan tambang ilegal.

Pihaknya mencatat, dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan masih menjadi penopang utama ekonomi Jabar dengan kontribusi 40,05 persen, diikuti perdagangan dan konstruksi.

Sebaliknya, lanjut Ari, pertambangan justru menjadi satu-satunya sektor yang mencatatkan pertumbuhan negatif.
Dampak penertiban tambang juga terasa pada penyerapan tenaga kerja di sektor tersebut.

Ari menyebut, ketika tambang tidak lagi beroperasi, maka aktivitas ekonomi yang melibatkan pekerja ikut terhenti.

Meski demikian, BPS menilai tekanan di sektor pertambangan tidak mengganggu stabilitas ekonomi Jabar secara keseluruhan.

“Ini menunjukkan struktur ekonomi Jawa Barat cukup kuat. Meski ada kontraksi di satu sektor, sektor lain mampu menjaga laju pertumbuhan ekonomi,” tandasnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Sindir Kepemimpinan Iran, Donald Trump Buat Lelucon Soal Nama ‘Mohammad’ di Panggung Kampanye

Buntut Polusi Udara Lintas Negara, 7 Persusahaan RI Terancam Sanksi Singapura

Sambangi Bandung Lewat GO! NEXT 2026, FiberStar Kenalkan Solusi Digital Terintegrasi untuk Bisnis

Diduga Kalap Akibat Tekanan Kerja, Pria di Sukabumi Tega Bacok Istri Tanpa Cekcok

Langit Jakarta dan Jawa Barat Dirayapi Asap Karhutla Kalimantan, Kualitas Udara Mulai Terancam?

Ironi Gubernur Konten: Pamer Aduan di Medsos, Tapi Gagap Saat Diadang Warga

Terpopuler
  • Humas Era Digital Tak Cukup Viral! Mahasiswa UIN Bandung Dibekali Strategi Algoritma hingga Etika
  • Ramai Kritik Ornamen Candi di Gedung Sate, Warga Sentil Dedi Mulyadi: Estetik Henteu, Fungsional Komo!
  • 100 Persen Pulih, Beckham Putra Bakal Jadi Senjata Persib Kontra Persik Kediri?
  • Viral! Dana Donasi Pak Santoso Tercatat Rp14,3 Juta, Disebut Hanya Terima Rp600 Ribu
  • Kontroversi Jalan Diponegoro Bandung: Demi Ruang Publik atau Menabrak Tata Ruang?
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.