bukamata.id – Selama bertahun-tahun, profesi satuan pengamanan identik dengan tugas penjagaan fisik—mengawasi pintu masuk, menjaga ketertiban, dan memastikan keamanan lingkungan kerja. Namun realitas itu berubah ketika sosok Khoirul Anam, seorang personel pengamanan dari PT PKSS yang bertugas di BRI Cabang Jakarta Tanjung Priok, membuktikan bahwa seragam satpam juga bisa menjadi simbol kecerdasan, literasi, dan prestasi akademik tingkat nasional.
Namanya mencuri perhatian publik setelah memperoleh penghargaan Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai anggota satuan pengamanan dengan jumlah karya ilmiah terbanyak. Pengakuan tersebut menjadi tonggak penting yang memperluas cara pandang masyarakat terhadap profesi pengamanan—bukan sekadar pekerjaan lapangan, melainkan juga ruang tumbuhnya gagasan dan kontribusi intelektual.
Dari Pos Keamanan Menuju Pengakuan Nasional
Aktivitas sehari-hari Anam tampak biasa: berdiri di area pelayanan nasabah, memastikan keamanan kantor, sekaligus memberikan pelayanan awal kepada pengunjung bank. Namun di balik rutinitas tersebut, ia menjalani perjalanan literasi yang konsisten dan terencana.
Kebiasaan sederhana menulis laporan harian menjadi titik awal. Catatan yang awalnya hanya dokumentasi pekerjaan perlahan berkembang menjadi bahan analisis, tulisan ilmiah, hingga akhirnya diterbitkan dalam bentuk buku dan publikasi akademik. Dari aktivitas administratif yang sering dianggap remeh, lahir puluhan karya yang membawa namanya ke panggung nasional.
Bagi Anam, menulis bukan sekadar aktivitas akademik, tetapi cara meninggalkan jejak pemikiran yang tetap hidup bahkan setelah seseorang tidak lagi aktif bekerja.
Fondasi Pendidikan yang Membentuk Cara Berpikir
Di balik pencapaiannya, terdapat perjalanan akademik yang panjang. Ia menempuh pendidikan lintas bidang yang memperkaya perspektifnya dalam melihat dunia kerja dan pengembangan sumber daya manusia. Latar belakang manajemen, pendidikan agama, dan studi magister manajemen menjadi bekal kuat dalam menghasilkan tulisan yang tidak hanya teoritis, tetapi juga aplikatif bagi dunia profesional.
Kombinasi antara pengalaman langsung di lapangan dan penguasaan teori membuat karya-karyanya banyak membahas tema disiplin kerja, etika profesi, manajemen SDM, serta peningkatan kompetensi tenaga pengamanan. Tulisan tersebut berupaya menjembatani dunia praktik dengan kajian ilmiah yang relevan.
Rekor MURI 2026 yang Mengubah Perspektif Profesi
Penghargaan MURI yang diterima Anam pada 2026 menjadi sejarah baru dalam dunia satuan pengamanan Indonesia. Ia dinobatkan sebagai satpam pertama yang memperoleh rekor nasional dalam kategori produktivitas karya ilmiah.
Acara penyerahan penghargaan berlangsung secara resmi dengan kehadiran pimpinan MURI dan tokoh dari lembaga prestasi nasional. Momen tersebut bukan hanya seremoni, tetapi simbol pengakuan bahwa profesi pengamanan juga memiliki potensi intelektual yang layak diapresiasi.
Capaian ini sekaligus membuka ruang diskusi baru mengenai pentingnya pengembangan pengetahuan di kalangan tenaga keamanan—bidang yang selama ini lebih dikenal melalui pendekatan fisik dan prosedural.
Disiplin Fisik dan Mental: Menulis Sambil Berlari
Menariknya, produktivitas menulis Anam berjalan seiring dengan gaya hidup sehat. Ia dikenal aktif berlari jarak jauh dan rutin mengikuti berbagai kegiatan olahraga. Baginya, olahraga bukan sekadar menjaga kebugaran, tetapi juga cara melatih fokus, ketahanan mental, dan ruang refleksi untuk merancang ide tulisan.
Keseimbangan antara disiplin tubuh dan pikiran menjadi fondasi utama konsistensinya. Banyak gagasan artikel justru muncul ketika ia sedang berlatih lari atau menjalani waktu jeda dari pekerjaan.
Dampak Nyata bagi Lingkungan Kerja
Prestasi tersebut ternyata membawa pengaruh langsung di lingkungan profesionalnya. Rekan-rekan sesama satpam mulai terdorong untuk meningkatkan kompetensi, baik melalui pendidikan lanjutan, pelatihan profesional, maupun kebiasaan menulis pengalaman kerja.
Diskusi tentang literasi dan pengembangan diri yang sebelumnya jarang terdengar di dunia pengamanan perlahan menjadi topik baru. Beberapa personel bahkan mulai mencoba mendokumentasikan praktik kerja mereka sebagai bahan pembelajaran bersama.
Fenomena ini menunjukkan bahwa satu prestasi personal mampu memicu perubahan budaya kerja secara kolektif.
Literasi sebagai Kunci Profesionalisme Pengamanan Modern
Perkembangan dunia keamanan menuntut lebih dari sekadar kemampuan fisik. Tantangan era modern membutuhkan keterampilan berpikir kritis, komunikasi yang baik, pemahaman manajemen risiko, serta kemampuan analisis situasi.
Melalui karya-karyanya, Anam menegaskan bahwa pengalaman lapangan satpam memiliki nilai akademik tinggi jika diolah secara sistematis. Laporan tugas harian dapat menjadi sumber data empiris yang bermanfaat untuk penelitian, pengembangan kebijakan keamanan, hingga peningkatan standar profesionalisme.
Pendekatan ini memperlihatkan bahwa budaya literasi dapat menjadi fondasi penting dalam meningkatkan kualitas tenaga pengamanan.
Pesan untuk Generasi Satpam Masa Depan
Bagi Anam, penghargaan nasional bukan tujuan akhir, melainkan awal dari gerakan perubahan. Ia berharap semakin banyak anggota satuan pengamanan yang berani menempuh pendidikan, memperluas wawasan, dan aktif berkarya.
Menurutnya, organisasi pengamanan juga memiliki peran penting dalam menyediakan ruang pengembangan intelektual—mulai dari pelatihan menulis, dukungan studi lanjut, hingga peluang publikasi karya ilmiah. Dengan bekal pengetahuan yang kuat, satpam dapat lebih siap menghadapi perubahan dinamika kerja di masa depan.
Inspirasi dari Profesi yang Sering Diremehkan
Perjalanan Khoirul Anam menunjukkan bahwa profesi apa pun memiliki potensi untuk melahirkan kontribusi besar bagi masyarakat. Dari pos keamanan perbankan, ia membangun rekam jejak intelektual yang kini diakui secara nasional.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa nilai sebuah pekerjaan tidak ditentukan oleh persepsi publik, melainkan oleh dedikasi dan semangat belajar individu yang menjalaninya. Prestasi tersebut sekaligus menjadi simbol bahwa disiplin, konsistensi, dan budaya literasi mampu mengangkat martabat profesi apa pun—termasuk profesi yang selama ini bekerja tanpa sorotan.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











