bukamata.id – Matahari mulai condong ke barat di jalur Cianjur Selatan, Minggu, 8 Februari 2026. Dian Rusdiana (34), seorang buruh konveksi yang sehari-harinya bergelut dengan debu kain di Jakarta, sedang memacu sepeda motornya menuju rumah sang istri. Bagi Dian, perjalanan ini adalah momen langka. Dengan upah Rp2 juta per bulan, ia hanya sanggup pulang dua kali dalam setahun. Namun, kerinduan itu berubah menjadi tragedi dalam hitungan detik ketika deru mesin berkapasitas besar memecah kesunyian Kampung Cigadog, Desa Sukajaya.
Peristiwa yang kini memicu gelombang kemarahan publik ini bermula saat rombongan motor gede (moge) melaju kencang dari arah Sindangbarang. Dian, yang berkendara dengan tenang, tiba-tiba disalip oleh moge pertama dengan kecepatan tinggi. Tak lama, moge kedua menyusul, namun kali ini dengan manuver yang mematikan.
“Moge kedua tersebut langsung menggunting laju kendaraan dan tiba-tiba mengerem di depannya,” ungkap sebuah laporan kronologis. Dian tak sempat menghindar. Motor bernomor polisi B 3402 GEZ miliknya menghantam bagian belakang moge tersebut. Dampaknya fatal; Dian terpental, motornya oleng, dan ia terperosok ke dalam jurang sedalam 15 meter.
Dua Jam di Ambang Maut dan Pelarian Tanpa Nurani
Di saat Dian berjuang antara hidup dan mati, tersangkut di dahan pohon pada kedalaman 5 meter yang menyelamatkannya dari dasar jurang, rombongan moge tersebut justru memacu gas lebih dalam. Tak ada rem yang diinjak, tak ada tangan yang terulur. Mereka melenggang pergi, meninggalkan kepulan asap dan seorang pria yang meringis menahan patah tulang di kegelapan tebing.
Adik korban, Asep Saepul, menceritakan betapa memilukannya saat-saat itu. “Korban sampe nunggu dari jam 5 baru bisa naik ke jalan jam 7 malam,” kata Asep. Selama dua jam, kakaknya tergeletak tak berdaya sebelum akhirnya dievakuasi oleh warga sekitar yang melintas.
Patah tulang kaki kanan menjadi oleh-oleh pahit bagi Dian. Di tengah kondisi ekonomi yang sulit, luka ini bukan sekadar urusan medis, melainkan ancaman bagi dapur keluarganya. Kasatlantas Polres Cianjur, AKP Aang Andi Suhandi, mengonfirmasi tindakan tak terpuji para pengendara moge tersebut. “Mogenya terus melaju. Oleh karena itu kami sedang cari identitas pengendara Moge,” tegasnya pada Kamis (12/2/2026).
Ironi Mediasi: Antara Sembako dan “Surat Perjanjian”
Drama berlanjut ke ranah hukum. Alih-alih pengejaran agresif terhadap pelaku yang melarikan diri (tabrak lari), publik dikejutkan dengan narasi “mediasi” yang berlangsung di kediaman korban. Pada Rabu (11/2/2026), jajaran Polres Cianjur, termasuk Kapolres AKBP Alexander Yurikho Hadi, mendatangi Dian.
Kunjungan tersebut membawa bingkisan dan alat bantu jalan. Namun, di balik bantuan sosial itu, ada sebuah pilihan sulit yang disodorkan kepada keluarga korban yang sedang terguncang: apakah kasus ini akan dilanjutkan ke ranah hukum atau tidak. Hasilnya, sebuah surat pernyataan dibuat.
Asep mengatakan, keluarganya memilih tidak melanjutkan proses hukum dan berakhir dengan membuat surat perjanjian dengan polisi. “Pihak Kapolres Cianjur ada datang ke rumah sekalian ngejenguk korban. Habis itu bikin surat perjanjian sama Kapolres Cianjur ke ranah hukum,” tambahnya.
Keputusan ini memicu tanda tanya besar di tengah masyarakat. Mengapa korban yang ditabrak hingga jatuh ke jurang dan pelakunya kabur justru diarahkan untuk membuat pernyataan tidak menuntut? Sementara itu, identitas pelaku masih gelap, dan itikad baik yang diharapkan keluarga tak kunjung datang. “Harapan keluarga sebelum ada surat perjanjian cuman minta itikad baik dari si pengguna moge, kenapa bisa ninggalin si korban,” tandas Asep dengan nada kecewa.
Klasifikasi dan Sorotan “Orang Nomor Satu”
Gelombang kecaman di media sosial memaksa komunitas besar seperti Harley Davidson Club Indonesia (HDCI) Bandung angkat bicara. Melalui akun resminya, mereka membantah bahwa pelaku adalah anggota mereka.
“Perlu kami luruskan setelah melakukan identifikasi, kami sampaikan bahwa pelaku dalam kejadian tersebut BUKAN Bagian dari member HDCI Bandung,” tulis mereka. HDCI menekankan bahwa pada hari kejadian tidak ada agenda touring di jalur tersebut dan meminta polisi mengusut tuntas meskipun mereka “menolak keras sikap arogansi.”
Namun, isu ini sudah terlanjur menjadi bola salju. Ketimpangan sosial antara pengendara motor mewah dan rakyat kecil yang mencari nafkah menjadi narasi utama. Hal ini menarik perhatian Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Lewat kanal YouTube-nya, Dedi melakukan video call langsung dengan Dian yang hanya bisa terbaring lesu.
Dedi menyoroti luka sosial yang lebih dalam dari sekadar patah tulang. “Saya khawatir dia (Dian) mengalami luka, tidak ada yang bantu biaya pengobatannya, karena peristiwa seperti ini seringkali menimpa orang-orang yang kesusahan ekonomi,” ujar Dedi. Mengetahui Dian hanya bergaji di bawah UMK dan kini tak bisa bekerja, Dedi mengirimkan bantuan Rp10 juta untuk menyambung hidup keluarga korban selama masa pemulihan.
Suara Netizen: Menagih Keadilan di Aspal
Kini, sorotan publik tertuju pada Polres Cianjur. Imbauan AKP Aang agar pengendara moge menyerahkan diri dinilai terlalu “lembut” oleh netizen. Di kolom komentar media sosial, kemarahan meluap.
“Katanya sih solid jadi kalo motor ilang bisa dilacak dalam sekejap. Kalo ini sembunyi dalam sekejap xixi,” sindir salah satu netizen, menyinggung jargon solidaritas klub motor. Netizen lain lebih pedas menyoroti perilaku di jalan raya: “Harga motornya mahal soalnya, makanya otak-nya dijual buat beli motornya.”
Sentimen negatif ini menjadi rapor merah bagi citra pengendara moge di Indonesia. Peristiwa di Cianjur Selatan bukan lagi sekadar kecelakaan lalu lintas biasa; ini adalah simbol arogansi yang membentur realitas kemiskinan. Di satu sisi ada mesin bernilai ratusan juta rupiah yang melesat tanpa peduli, di sisi lain ada buruh konveksi yang harus tertatih menggunakan kruk hanya karena ingin pulang menemui istrinya.
Polisi memang telah meminta pelaku bertanggung jawab. “Kami mengimbau pengendara Moge untuk mendatangi Mapolres Cianjur, nanti kami antar ke rumah korban. Pihak korban juga tidak mengajukan tuntutan apa-apa, tetapi sebaiknya tetap datang dan bertanggung jawab,” ujar AKP Aang. Namun, bagi publik, “tanggung jawab” bukan sekadar datang dan meminta maaf di atas materai, melainkan tegaknya keadilan yang tidak pandang bulu—terlepas dari apakah korbannya adalah orang kecil yang “dipaksa” ikhlas atau bukan.
Hingga saat ini, identitas moge misterius itu masih menjadi teka-teki. Namun, luka di kaki Dian dan luka di rasa keadilan masyarakat sudah terlanjur menganga lebar di sepanjang aspal Cianjur Selatan.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










