bukamata.id – Asosiasi Sepak Bola Malaysia (FAM) kembali berada dalam pusaran krisis serius setelah muncul desakan agar federasi tersebut dibubarkan, meski usianya hampir menembus satu abad.
Tekanan tersebut mencuat menyusul kekecewaan publik terhadap kinerja dan kredibilitas FAM dalam menangani berbagai persoalan internal.
Dikutip dari laporan Sinar Harian melalui SuperBall.id, tuntutan pembubaran FAM datang dari kalangan penggemar sepak bola Malaysia yang menilai federasi gagal menjaga integritas tata kelola.
Skandal dugaan naturalisasi palsu yang mencuat belakangan dianggap menjadi pemicu utama hilangnya kepercayaan publik terhadap badan pengatur sepak bola nasional tersebut.
Kasus tersebut memunculkan perdebatan luas di kalangan pecinta sepak bola Malaysia, terutama terkait perlunya perubahan menyeluruh dalam struktur kepemimpinan FAM.
Rencana pengurus untuk mundur secara kolektif dan membuka jalan bagi pemilihan ulang pun menuai respons beragam. Sebagian menilai langkah itu sebagai upaya meredam masalah dan mencegah sanksi lebih berat dari FIFA.
Namun demikian, kekhawatiran publik belum sepenuhnya terjawab. Sinar Harian menyoroti tidak adanya jaminan bahwa figur lama yang terlibat dalam polemik sebelumnya tidak kembali mencalonkan diri dalam pemilihan mendatang.
Kondisi inilah yang kemudian memicu wacana ekstrem dari sebagian penggemar agar FAM dibubarkan dan digantikan dengan federasi baru.
“Muncul pertanyaan besar, jika pemilihan diadakan, apakah ada jaminan wajah-wajah lama yang berada di FAM saat masalah ini terjadi tidak akan kembali mencalonkan diri,” tulis Sinar Harian.
Media tersebut juga menilai, jika kepemimpinan lama kembali berkuasa melalui mekanisme koalisi, hal itu menunjukkan absennya niat melakukan reformasi menyeluruh.
Situasi semakin memanas setelah Pelaksana Tugas Presiden FAM, Yusoff Mahadi, menyatakan pihaknya tidak akan melarang siapa pun untuk maju dalam pemilihan.
Pernyataan ini memicu kemarahan publik karena membuka peluang bagi struktur lama untuk kembali mengendalikan federasi. Kondisi tersebut juga berpotensi mengundang perhatian FIFA, yang sensitif terhadap isu tata kelola federasi anggota.
Menurut Sinar Harian, peluang pembubaran FAM tetap terbuka meski federasi itu telah berdiri selama 99 tahun dan memiliki pengaruh signifikan di level sepak bola Asia.
Sejarah mencatat, beberapa federasi sepak bola dunia pernah dibubarkan atau direstrukturisasi akibat intervensi FIFA, seperti yang terjadi di Kuwait pada 2015 serta Nigeria dan Zimbabwe dalam rentang 2014–2022.
Meski demikian, Sinar Harian menilai pembubaran total FAM mengandung risiko besar. Proses pembentukan asosiasi baru dinilai rumit dan rawan konflik birokrasi, yang pada akhirnya dapat menghambat pengembangan pemain, kompetisi domestik, hingga stabilitas sepak bola nasional.
Sebagai alternatif, media tersebut menegaskan bahwa perombakan kepemimpinan secara menyeluruh melalui kongres pemilihan dinilai sebagai solusi paling realistis.
Reformasi total dengan menghadirkan figur baru tanpa keterkaitan dengan kepengurusan lama dianggap menjadi jalan terbaik untuk memulihkan kepercayaan publik tanpa harus mempertaruhkan masa depan sepak bola Malaysia.
“Sepak bola Malaysia membutuhkan perubahan total dan harus dipimpin oleh wajah-wajah baru tanpa rekam jejak masa lalu. Hanya dengan cara itu citra FAM dapat dipulihkan tanpa risiko pembubaran federasi,” tulis Sinar Harian.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









