bukamata.id – Di balik kemilau proyek “skuad mewah” yang sedang dirancang Persib Bandung untuk menyambut musim 2026/2027, mencuat isu yang cukup menohok. Raksasa sepak bola asal Jawa Barat ini disorot tajam lantaran kualitas fasilitas latihan yang dianggap jalan di tempat, sangat kontras dengan agresivitas manajemen dalam mendatangkan pemain bintang.
Respons Manajemen: “Tidak Ada yang Komplain”
Menanggapi riuh rendah kritik yang menyasar fasilitas klub, Manajer sekaligus Komisaris PT Persib Bandung Bermartabat (PBB), Umuh Muchtar, memberikan jawaban tenang. Pihaknya bersikeras bahwa prioritas utama manajemen selama ini adalah memastikan kesejahteraan penggawa Maung Bandung tetap terjaga.
Umuh menekankan bahwa kenyamanan pemain di lapangan adalah tolok ukur paling valid mengenai kualitas fasilitas yang tersedia. Sejauh ini, menurutnya, tidak ada riak-riak ketidakpuasan dari para penggawa.
“Fasilitas, tanya mereka, kepuasan apa yang diberikan Persib, mereka tenang dan senang ada di Persib,” ujar Umuh saat dikonfirmasi, Minggu (19/7/2026).
Lebih lanjut, Umuh merasa yakin bahwa jika fasilitas yang disediakan memang bermasalah, para pemain pasti sudah angkat bicara. Baginya, ketiadaan keluhan adalah bukti bahwa manajemen berada di jalur yang benar.
“Kalau mereka komplain berarti tidak ada ketenangan. Insya Allah semuanya enjoy, gak ada yang komplain,” tambahnya.
Suara Bobotoh: Antara Kritik dan Kedewasaan
Di luar internal tim, gelombang kritik justru datang deras dari para Bobotoh. Basis suporter setia Persib ini merasa heran mengapa pembangunan infrastruktur klub tidak secepat perburuan pemain bintang.
Ketua Umum Viking Persib Club, Tobias Ginanjar, melihat fenomena ini sebagai bentuk check and balance yang sehat. Ia menampik anggapan bahwa kritik Bobotoh adalah bentuk kebencian, melainkan manifestasi dari rasa memiliki yang tinggi terhadap klub.
“Saya menilainya kritik terus saran bagus-bagus aja ya karena kan Bobotoh juga harus jadi quality control buat manajemen Persib juga. Jadi kritik yang berkembang, saran yang berkembang, suara yang berkembang itu adalah bentuk kecintaan Bobotoh kepada Persib gitu,” tutur Tobias, Rabu (15/7).
Namun, Tobias memberikan catatan penting bagi rekan-rekan suporter. Menurutnya, menuntut fasilitas kelas dunia harus dibarengi dengan perubahan perilaku dan kedewasaan dukungan dari sisi suporter sendiri.
“Tapi tentunya kecintaan terus rasa peduli juga harus diimbangi dengan tingkat kesadaran untuk menjaga yang tinggi juga. Jadi sama-samalah, kita sama-sama harus naik level juga,” imbuhnya.
Terkait ekspektasi publik yang semakin tinggi—termasuk suara dari tim pelatih mengenai kendala di lapangan—Tobias memilih untuk menahan diri. Ia berharap Bobotoh tidak terburu-buru mengambil vonis sebelum mendengar penjelasan utuh dari pihak manajemen.
“Ya itu kan ekspektasi dari Bobotoh ya, dari kacamata sudut pandang Bobotoh. Dan beberapa pelatih juga kan sudah menyuarakan. Tapi kan tentunya kita harus tanya juga dari sudut pandang manajemen seperti apa. Tentunya saya tidak mau berkomentar lebih dalam karena saya juga belum mendengar apa penjelasan dari manajemen terkait hal ini. Jangan sampai kita sudah memvonis atau berasumsi sedangkan belum mendengar juga dari sudut pandang yang lain,” tutupnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









