bukamata.id – Keberhasilan Persib Bandung melangkah jauh di kompetisi Asia tidak hanya berdampak pada kebanggaan, tetapi juga menggeser peta kekuatan klub dari sisi finansial. Di balik kemenangan demi kemenangan yang diraih Maung Bandung, mengalir pula pemasukan signifikan yang membuat klub kini berada pada posisi tawar yang jarang dimiliki tim Indonesia.
Partisipasi Persib di kompetisi AFC menjadi titik balik penting. Setiap laga yang dijalani menghadirkan nilai ekonomi yang nyata, mulai dari match fee, bonus kemenangan, hingga hak siar. Bahkan sebelum melangkah ke fase gugur, klub sudah mengantongi pendapatan yang nilainya jauh melampaui rata-rata pemasukan kompetisi domestik.
Jika dihitung secara konservatif, pemasukan Persib dari ajang Asia diperkirakan berada di kisaran puluhan miliar rupiah. Angka ini belum memasukkan potensi tambahan dari laga kandang fase gugur, yang biasanya menjadi ladang emas melalui penjualan tiket, sponsor lokal, dan aktivasi komersial lainnya.
Bandingkan dengan kompetisi liga domestik yang menuntut konsistensi sepanjang 34 pertandingan, namun menawarkan total hadiah yang relatif terbatas. Dari sudut pandang manajemen, kompetisi Asia kini bukan sekadar ajang prestise, melainkan sumber daya strategis untuk memperkuat fondasi klub.
Efek Domino: Bobotoh, Stadion Penuh, dan Merchandise Meledak
Dampak keberhasilan Persib di Asia tidak berhenti di neraca keuangan resmi. Euforia merembet ke luar lapangan. Antusiasme Bobotoh meningkat tajam, stadion nyaris selalu dipadati penonton, dan penjualan merchandise melonjak signifikan.
Fenomena ini terlihat jelas dari respons suporter terhadap pemain anyar. Bahkan sebelum seorang pemain resmi diperkenalkan, permintaan jersey sudah membanjiri toko daring klub. Situasi ini menciptakan arus kas tambahan yang nyaris instan.
Nama Thom Haye menjadi contoh paling konkret. Kehadirannya langsung memantik ledakan minat. Jersey dengan namanya dilaporkan terjual dalam jumlah besar melalui sistem pre-order. Dengan harga ratusan ribu rupiah per unit, pemasukan yang dihasilkan disebut mencapai angka miliaran rupiah dalam waktu singkat, bahkan sebelum sang pemain menjalani debut.
Kondisi seperti ini menjadi bukti bahwa performa di lapangan dan kekuatan merek klub saling menguatkan. Persib tak lagi hanya bergantung pada satu sumber pendapatan, melainkan menikmati efek sinergis antara prestasi, basis suporter, dan komersialisasi.
Bursa Transfer: Dari Sekadar Isu Menjadi Target Nyata
Stabilitas finansial membuat Persib kini jauh lebih fleksibel dalam menyusun strategi transfer. Nama-nama yang sebelumnya terdengar ambisius, kini terasa lebih realistis.
Joey Pelupessy kembali masuk dalam radar serius. Gelandang tim nasional Indonesia itu sebenarnya sudah hampir berseragam Persib pada periode sebelumnya, namun proses transfer tersendat oleh faktor waktu. Kini, dengan kondisi keuangan yang lebih lapang, peluang tersebut kembali terbuka.
Dari sisi teknis, Pelupessy dinilai cocok dengan kebutuhan Maung Bandung. Meski berkiprah di kasta kedua Belgia, kontribusinya bersama timnas menunjukkan kualitas yang tidak bisa diabaikan. Usianya yang matang membuatnya dipandang siap menjadi pengatur ritme permainan di lini tengah.
Faktor non-teknis pun mendukung. Adanya koneksi personal dengan Thom Haye diyakini dapat mempercepat adaptasi, baik di dalam maupun luar lapangan. Dalam sepak bola modern, aspek chemistry sering kali menjadi pembeda antara transfer sukses dan gagal.
Ole Romeny dan Ambisi Lini Depan
Selain sektor tengah, lini depan juga menjadi fokus perhatian. Nama Ole Romeny kian santer dikaitkan dengan Persib. Penyerang berdarah Indonesia itu dinilai sebagai sosok yang mampu meningkatkan daya gedor tim, khususnya untuk bersaing di level Asia yang menuntut efisiensi tinggi di kotak penalti.
Ketertarikan Persib terhadap Romeny berkembang cepat dan dipandang sebagai langkah ambisius, namun masuk akal. Dengan dukungan finansial yang kuat, klub diyakini mampu menawarkan paket yang kompetitif, baik dari sisi gaji maupun proyek olahraga jangka menengah.
Meski demikian, transfer Romeny tidak sepenuhnya bebas hambatan. Ada faktor teknis, pertimbangan karier internasional, hingga keputusan personal sang pemain. Namun dari perspektif klub, Persib kini berada pada posisi yang mampu membuka diskusi secara setara, bukan sekadar menunggu peluang.
Menatap Skuad Ideal untuk Tantangan Asia
Tak hanya lini tengah dan depan, sektor penjaga gawang pun mulai disorot. Nama Cyrus Margono sempat mencuat sebagai opsi jangka panjang, terutama untuk menghadapi tuntutan fisik dan postur di kompetisi Asia. Meski masih ada kendala administratif, opsi tersebut belum sepenuhnya tertutup.
Dengan pemasukan dari AFC, lonjakan penjualan merchandise, serta dukungan masif Bobotoh, Persib kini menempati posisi langka dalam lanskap sepak bola nasional: stabil secara finansial dan kompetitif secara prestasi.
Kondisi ini membuat Persib bukan hanya kuat di atas lapangan, tetapi juga disegani di meja negosiasi. Klub memiliki ruang untuk membangun skuad berkualitas tanpa harus mengambil risiko finansial berlebihan.
Jika momentum ini mampu dijaga, Persib Bandung berpeluang membentuk tim yang tidak hanya dominan di level domestik, tetapi juga diperhitungkan di Asia. Dalam konteks tersebut, nama-nama seperti Ole Romeny dan Joey Pelupessy tak lagi sekadar wacana—melainkan bagian dari proyek besar Maung Bandung menuju level yang lebih tinggi.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











