bukamata.id – Istilah Super Flu kembali mencuat setelah ilmuwan menemukan varian baru yang kini banyak mendominasi kasus flu di beberapa negara. Varian tersebut dikenal sebagai Subclade K, dan kehadirannya mulai terlihat di Inggris, Jepang, hingga sebagian wilayah Amerika Serikat.
Penamaan Super Flu muncul dari kemampuan penyebarannya yang terbilang agresif dibandingkan varian flu yang selama ini dikenal masyarakat.
Asal-Usul Super Flu Subclade K
Para peneliti melacak bahwa Super Flu Subclade K merupakan bentuk mutasi lanjutan dari virus Influenza A (H3N2)—jenis flu musiman yang sudah beredar sejak puluhan tahun lalu.
Amesh A. Adalja, M.D., peneliti dari Johns Hopkins Center for Health Security, menyebut Subclade K pertama kali terdeteksi pada Juni 2025, dan sejak saat itu jumlah kasus yang terkait mutasi ini meningkat dengan cepat.
Adalja menjelaskan, musim flu terbaru banyak dipengaruhi oleh strain H3N2 yang berbeda dari komponen vaksin yang digunakan, sehingga peluang seseorang terserang flu cenderung lebih tinggi walau sudah menerima vaksin musiman.
Senada dengan itu, Thomas Russo, M.D., ahli penyakit infeksi dari University at Buffalo, menambahkan bahwa beberapa perubahan genetik pada Subclade K diduga membuat virus ini lebih mudah berpindah dari satu orang ke orang lain, sehingga jumlah infeksi meningkat.
Seperti Apa Gejala Super Flu?
Mereka yang terpapar Super Flu biasanya tidak langsung merasakan keluhan. Indikasi awal sering muncul setelah tiga hingga empat hari.
Beberapa tanda yang paling sering dilaporkan:
- batuk yang menetap
- rasa perih pada tenggorokan
- hidung meler atau tersumbat
- tubuh pegal atau sakit otot
- sakit kepala
- cepat lelah
Keluhan tersebut dapat dialami siapa pun, namun lansia, orang dengan daya tahan tubuh rendah, dan individu yang tidak aktif secara fisik disebut lebih rentan mengalami kondisi yang lebih berat akibat infeksi flu ini.
Mengurangi Risiko Tertular Super Flu
Para pakar kesehatan menyebut vaksin influenza musiman masih penting untuk membantu menekan dampak serius jika seseorang terinfeksi Super Flu Subclade K, meski tingkat perlindungannya tidak mutlak.
Russo mengungkapkan bahwa penerima vaksin cenderung memiliki peluang lebih rendah mengalami perawatan intensif apabila jatuh sakit.
Selain itu, penggunaan masker di ruang dalam yang padat dipandang sebagai salah satu upaya tambahan yang dapat memperkecil kemungkinan penularan.
Jika seseorang merasakan gejala, para dokter menganjurkan untuk melakukan pemeriksaan flu maupun COVID-19, karena keduanya memiliki tanda awal yang sangat mirip, sementara penanganannya bisa berbeda tergantung diagnosis.
Penutup
Super Flu Subclade K masih terus dipantau oleh peneliti di berbagai belahan dunia. Meski sifat dan penyebarannya semakin dipahami, para ilmuwan menilai observasi lanjutan tetap diperlukan untuk melihat bagaimana mutasi ini berkembang pada musim-musim flu berikutnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










