bukamata.id – Gunung Bawakaraeng selalu punya cara untuk menguji siapa saja yang berani mendaki puncaknya. Dengan ketinggian 2.830 mdpl, gunung di Sulawesi Selatan ini dikenal memiliki medan yang menantang dan cuaca yang tak menentu. Namun, pada penghujung Maret 2026, Bawakaraeng tidak hanya menguji ketahanan fisik para pendakinya, melainkan juga nurani dan solidaritas mereka.
Sebuah insiden memilukan terjadi yang melibatkan empat orang pendaki yang saling mengenal melalui platform media sosial. Alih-alih membawa pulang kenangan indah tentang samudera awan, tiga di antaranya justru harus pulang dengan label “blacklist” selama lima tahun dan kecaman luas dari komunitas pecinta alam.
Awal Pendakian: Persahabatan di Dunia Maya
Segala sesuatunya dimulai pada 26 Maret 2026. Empat pendaki—Noval (Takalar), serta Nokan, Noel, dan Ferdi yang semuanya berasal dari Parepare—memulai perjalanan mereka melalui jalur registrasi resmi pada pukul 12.42 WITA. Setelah beristirahat sejenak, mereka mantap melangkahkan kaki menuju ketinggian pada pukul 13.47 WITA.
Tujuan mereka jelas: menaklukkan puncak Bawakaraeng. Namun, alam memiliki rencana lain. Saat rombongan sedang berjuang menuju Pos 8 sekitar pukul 17.43 WITA, musibah menimpa salah satu anggota tim, Alvino (atau yang akrab disapa Uci). Ia terjatuh dan mengalami cedera kaki yang cukup serius. Karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk lanjut, tim memutuskan untuk membangun tenda di sekitar Pos 7 sebagai area darurat.
Malam yang Menegangkan dan Ambisi yang Tak Terbendung
Malam itu, situasi semakin genting. Tim SAR dari KPA Hijau Bawakaraeng yang menerima laporan segera naik untuk memberikan penanganan medis awal kepada Alvino. Pada pukul 21.04 WITA, Alvino sempat memberikan kabar kepada keluarganya melalui pesan singkat bahwa kakinya sakit dan ia butuh istirahat total.
Keesokan harinya, 27 Maret 2026 pukul 06.15 WITA, kondisi Alvino bukannya membaik malah semakin memburuk. Ia mengirimkan pesan pilu kepada keluarganya: kakinya sudah tidak bisa lagi digunakan untuk berjalan.
Di sinilah letak titik balik yang mengiris hati. Di saat satu rekan tim mereka mengerang kesakitan dan tidak berdaya di dalam tenda, ambisi ketiga rekannya justru semakin membara. Alih-alih mendampingi rekan yang terluka atau ikut membantu proses evakuasi, tiga pendaki lainnya—Noval, Nokan, dan Ferdi—memutuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan menuju puncak (summit) ke Pos 10 pada pukul 11.14 WITA.
Mereka meninggalkan Alvino sendirian di pos pendakian dalam kondisi cedera parah, hanya ditemani oleh tim SAR yang sedang berupaya melakukan evakuasi.
“Rasa Tidak Enak” yang Berujung Fatal
Berdasarkan keterangan dari penyintas (survivor) setelah berhasil dievakuasi, ada sebuah fakta yang menyesakkan. Keputusan untuk meninggalkan Alvino disebut-sebut telah “disetujui” oleh Alvino sendiri. Namun, persetujuan itu lahir dari rasa sungkan atau “tidak enakan”.
Alvino merasa dirinya hanya diajak bergabung dalam tim tersebut, sementara ketiga rekannya yang lain menunjukkan ambisi yang sangat besar untuk mencapai puncak. Di bawah tekanan psikologis tersebut, Alvino akhirnya membiarkan teman-temannya pergi, meski secara medis dan etika pendakian, hal tersebut adalah kesalahan fatal.
Pihak pengelola jalur dan KPA Hijau Bawakaraeng menyoroti tiga kesalahan mendasar dalam insiden ini:
- Pelanggaran Naluri Kemanusiaan: Meninggalkan anggota tim dalam kondisi cedera adalah hal yang tidak bisa dibenarkan dengan alasan apa pun, meskipun sudah ada tim medis di lokasi.
- Kelalaian Pelaporan: Tidak ada satu pun dari ketiga rekan tersebut yang turun ke bawah untuk melaporkan secara resmi kondisi kritis rekan mereka ke pos induk.
- Tudingan Tanpa Bukti: Situasi semakin keruh ketika pihak rombongan tersebut justru menuding tim KPA Hijau Bawakaraeng melakukan pengrusakan tenda dan mengambil peralatan mereka tanpa bukti yang konkret.
Sanksi Tegas: Pelajaran Bagi Dunia Pendakian
Tindakan meninggalkan teman demi ego pribadi ini tidak dibiarkan begitu saja. Pihak pengelola jalur pendakian Gunung Bawakaraeng mengambil langkah drastis. Berdasarkan video klarifikasi yang diunggah oleh @kpa_hijaubawakaraeng, keempat pendaki tersebut secara resmi dijatuhi sanksi Blacklist selama 5 tahun.
Sanksi ini berlaku mutlak bagi Noval, Nokan, Noel, dan Ferdi. Mereka dilarang keras menginjakkan kaki di jalur pendakian Gunung Bawakaraeng sebagai bentuk pertanggungjawaban atas hilangnya rasa solidaritas di atas gunung.
“Keputusan ini bersifat final, mutlak, dan tidak dapat diganggu gugat,” tegas pihak pengelola dalam keterangannya.
Refleksi: Summit Bisa Ditunda, Nyawa Tidak
Kasus ini menjadi tamparan keras bagi dunia pendakian Indonesia, terutama bagi mereka yang sering mencari teman daki melalui media sosial. Pendakian bukan sekadar ajang pamer foto di puncak atau adu kekuatan fisik. Di balik itu semua, ada etika dan tanggung jawab yang jauh lebih tinggi.
Gunung tidak akan lari ke mana-mana. Puncak akan selalu ada di sana, menunggu untuk didatangi di lain waktu. Namun, keselamatan nyawa dan kebersamaan tim adalah harga mati yang tidak bisa ditawar.
Sebagaimana pesan yang disampaikan oleh tim KPA Hijau Bawakaraeng dalam video evakuasinya:
“Jika kau masih di gunung dan kau meninggalkan temanmu, kau hanyalah sampah.”
Pernyataan keras ini mencerminkan betapa sucinya nilai persaudaraan di alam bebas. Sebuah pengingat bagi kita semua bahwa keberhasilan seorang pendaki bukan diukur dari seberapa cepat ia sampai di puncak, melainkan seberapa mampu ia membawa seluruh timnya pulang dengan selamat.
Semoga tragedi di Bawakaraeng ini menjadi pelajaran berharga: bahwa di atas ketinggian 2.830 mdpl, kemanusiaan kita justru harus berada di titik tertinggi.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










