bukamata.id – Dunia maya kembali dihebohkan dengan beredarnya konten negatif yang menyeret nama aparat penegak hukum. Kali ini, sebuah video asusila yang diduga melibatkan oknum anggota Kepolisian di Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial.
Insiden ini mencuri perhatian publik lantaran keterlibatan sosok yang seharusnya menjadi teladan masyarakat. Terduga pelaku diketahui merupakan anggota Kepolisian Resor (Polres) Rote Ndao berinisial Bripda FCL, sementara pemeran wanita dalam video tersebut diduga adalah seorang mahasiswi asal Kupang berinisial VM.
Respon Cepat Propam: Pemeriksaan Internal Dimulai
Menyikapi kegaduhan tersebut, pihak kepolisian tidak tinggal diam. Seksi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polres Rote Ndao langsung bergerak cepat mengamankan Bripda FCL untuk menjalani serangkaian pemeriksaan intensif.
Kasi Propam Polres Rote Ndao, Iptu I Gede Parwata, mengonfirmasi bahwa unit Paminal telah melakukan penyelidikan mendalam. “Bripda FCL sudah kami periksa dan keterangannya telah dituangkan dalam Berita Acara Interogasi (BAI),” ungkapnya pada Rabu (25/3/2026).
Diduga Tersebar Lewat Grup Telegram
Berdasarkan hasil klarifikasi awal, oknum anggota tersebut mengakui bahwa dirinya adalah orang yang berada di dalam video yang viral itu. Fakta baru juga terungkap mengenai jalur penyebaran konten sensitif tersebut.
- Platform Penyebaran: Video diduga pertama kali mencuat melalui grup Telegram bernama “Brankas Viral Kupang”.
- Status Terduga: Saat ini, Bripda FCL telah ditempatkan di ruang penempatan khusus (Patsus).
- Tujuan Penahanan: Langkah ini diambil untuk menjaga kelancaran proses penegakan disiplin dan mempermudah tim penyidik menggali fakta lebih lanjut.
Integritas Institusi Jadi Taruhan
Polres Rote Ndao menegaskan komitmennya untuk menyelesaikan kasus ini secara transparan. Jika hasil penyidikan membuktikan adanya pelanggaran berat, oknum yang bersangkutan terancam sanksi etik hingga pidana sesuai aturan Polri yang berlaku.
Kasus ini menjadi pengingat penting bagi seluruh anggota institusi bahwa standar moral dan etika adalah harga mati. Kini, masyarakat menanti langkah konkret dan sanksi tegas dari kepolisian guna menjaga kepercayaan publik yang tetap menjadi prioritas utama.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










