bukamata.id – Dunia maya tengah dihebohkan oleh pengakuan seorang pengguna media sosial bernama akun gustiariefalamsyah, yang memilih meninggalkan pekerjaan kantoran demi menjadi penjaga jenazah di sebuah rumah duka.
Dalam unggahannya yang viral, pria ini menjelaskan perbedaan mencolok antara kenyamanan kerja kantor dengan gaji yang diterima.
Sebelumnya, ia bekerja di lingkungan perkantoran formal, namun memilih resign karena alasan finansial yang signifikan.
“Gue resign kerja kantoran ber-AC yang gaji nya 4,5 juta sebulan, dan memilih kerja ekstrem gini yang kerjanya jaga jenazah dan tidur sama jenazah tapi gajinya nembus 10-15 juta per bulan. Masalah hantu atau angker bodoamat, yang penting uangnya gede,” tulisnya.
Postingan tersebut memicu perdebatan hangat di kalangan netizen yang tengah menghadapi biaya hidup tinggi di kota besar. Kisah ini mencerminkan pergeseran prioritas, di mana nilai pragmatisme ekonomi mulai mengalahkan rasa takut atau tabu terhadap hal-hal mistis.
Dalam dokumentasi foto yang dibagikan, terlihat suasana rumah duka yang jauh dari kesan mewah. Satu foto menampilkan peti jenazah dengan payung tradisional di dalam ruangan dengan pencahayaan dramatis, sementara foto lain menunjukkan ruang tunggu atau aula rumah duka yang tampak sepi.
Pekerjaan sebagai penjaga jenazah menuntutnya berada di dekat jenazah selama berjam-jam, termasuk saat waktu tidur. Fenomena ini menunjukkan realita sosial di mana kesenjangan gaji antara sektor formal dan pekerjaan jasa khusus sangat lebar.
Bagi sebagian orang, upah Rp4,5 juta per bulan di kantor ber-AC dinilai tidak lagi mencukupi kebutuhan hidup.
Sebaliknya, pekerjaan “ekstrem” dengan risiko psikologis tinggi seperti menjaga jenazah menjadi pilihan rasional karena bisa menghasilkan gaji hingga Rp15 juta per bulan.
Kisah ini menjadi pengingat bagi pencari kerja maupun pemberi kerja tentang dinamika standar upah, keberanian mengambil risiko, dan pentingnya pragmatisme ekonomi di era modern.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











