bukamata.id – Pembongkaran visual “Jabar Juara” bergambar wajah Ridwan Kamil (RK) di Underpass Dewi Sartika, Kota Depok, bukan sekadar penataan ruang publik.
Peristiwa ini menjelma menjadi simbol pergeseran besar: bagaimana citra seorang mantan kepala daerah yang pernah dielu-elukan kini dipertanyakan, seiring rentetan polemik personal, sosial, hingga hukum yang mengiringi namanya.
Pantauan di lokasi, Minggu (8/2/2026), petugas Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Depok tampak membongkar rangka besi ikon wajah Ridwan Kamil satu per satu.
Pemerintah Kota Depok menyebut langkah ini sebagai respons atas aspirasi warga yang menilai penggunaan wajah figur personal pada fasilitas publik tak lagi relevan.
Namun di ruang publik dan media sosial, pembongkaran itu dimaknai lebih luas: sebagai penanda memudarnya legitimasi simbolik Ridwan Kamil di ruang-ruang bersama.
Ruang Publik dan Simbol Kekuasaan
Sejumlah warga menilai ikon tersebut sejak awal problematik. Selain dibangun menggunakan anggaran negara, visualisasi wajah individu dinilai mengaburkan identitas lokal Kota Depok.
“Depok punya sejarah, punya tokoh. Bukan sekadar wajah pejabat,” ujar seorang warga di sekitar lokasi.
Nama-nama seperti Margonda dan Tole Iskandar kembali disebut sebagai figur historis yang lebih layak diangkat. Aspirasi ini mencerminkan tuntutan agar ruang publik merepresentasikan memori kolektif, bukan kultus individu.
Resonansi di Media Sosial: Bukan Sekadar Estetika
Pembongkaran tersebut beriringan dengan meningkatnya sentimen publik terhadap Ridwan Kamil. Di kolom komentar Instagram @feedgramindo, warganet tidak hanya menyoal estetika, tetapi juga legitimasi moral dan politik.
Narasi warganet berkembang dari kritik simbolik menjadi refleksi atas akumulasi kontroversi yang menyeret nama RK:
“Di Bikin Dari Duit Negara, Aneh Aja ada wajah beliau,” tulis akun @sae***
“ganggu pakai wajahmu jd dibongkar..” tulis akun @efo***
“Kalau gambar Aura kasih di copot gak?” tulis akun @mur***
“@ridwankamil semua ada eranya….waktu berjalan,” tulis aku @sat***
Fenomena ini menunjukkan bagaimana ruang digital kini menjadi arena “pengadilan sosial”, di mana satu peristiwa fisik memantik penilaian kolektif yang jauh lebih luas.
Dari Figur Ideal ke Figur Kontroversial
Nama Ridwan Kamil dalam dua tahun terakhir tidak lagi berdiri di satu narasi tunggal sebagai arsitek kota dan pemimpin inovatif. Ia terfragmentasi dalam berbagai isu besar:
1. Kasus Lisa Mariana
Klaim anak oleh selebgram Lisa Mariana yang berujung laporan pencemaran nama baik, tes DNA, hingga pemanggilan saksi dalam kasus Bank BJB, telah menggerus citra personal Ridwan Kamil.
Meski tes DNA secara resmi menyatakan tidak ada kecocokan, kasus ini telanjur menjadi konsumsi publik dan membentuk memori sosial yang sulit dihapus.
2. Isu Aura Kasih
Foto lama di Italia yang kembali viral setelah klarifikasi RK soal “kekhilafan” dalam rumah tangga memicu spekulasi publik.
Absennya klarifikasi dari Aura Kasih justru memperpanjang tafsir liar, meski secara hukum tidak pernah dikaitkan dalam gugatan cerai.
3. Perceraian dengan Atalia Praratya
Gugatan cerai yang diajukan Atalia dan dikabulkan Pengadilan Agama Bandung menjadi titik balik besar. Meski berlangsung secara e-court dan tanpa narasi pihak ketiga, perceraian ini memperkuat kesan publik bahwa ada krisis mendalam dalam kehidupan personal Ridwan Kamil.
4. Dugaan Korupsi Bank BJB
Kasus dugaan mark-up dana iklan Bank BJB senilai Rp200 miliar yang diselidiki KPK menjadi pukulan paling serius. Penggeledahan rumah RK pada Maret 2025 menandai pergeseran isu dari ranah moral ke ranah hukum negara.
Ketika Simbol Runtuh Lebih Cepat dari Putusan
Menariknya, pembongkaran ikon wajah Ridwan Kamil terjadi saat belum ada vonis hukum terhadap dirinya. Ini menunjukkan bahwa dalam era demokrasi digital, legitimasi publik tidak menunggu putusan pengadilan.
Citra bisa runtuh lebih dulu, simbol bisa dicopot lebih cepat, bahkan sebelum kesimpulan hukum dicapai.
Dalam konteks ini, ikon “Jabar Juara” di Depok tak lagi dibaca sebagai slogan prestasi, melainkan sebagai residu masa lalu yang tak lagi sejalan dengan emosi publik hari ini.
Penutup: Ikon Bisa Dibongkar, Sejarah Tetap Dicatat
Pembongkaran visual “Jabar Juara” di Depok mungkin hanya soal rangka besi dan desain kota. Namun dalam konteks sosial-politik hari ini, ia menjadi metafora tentang bagaimana kepercayaan publik dibangun, diuji, dan bisa runtuh.
Ridwan Kamil kini berada di persimpangan sejarah pribadinya: antara klarifikasi, proses hukum, dan penilaian publik yang terus berjalan. Apakah pembongkaran ini akan menjadi penutup sebuah era, atau sekadar jeda sebelum babak baru, waktu dan fakta yang akan menjawabnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










