Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Gondrong Pakai Bando dan Ngopi di Warung, Karier Sepak Bola Evan Dimas Sudah Habis?

Minggu, 14 Juni 2026 20:51 WIB

Luar Biasa! Irfan Hakim Sapu Bersih Gelar di Koi Show 2026, Kohaku Jadi Bintang Utama

Minggu, 14 Juni 2026 19:00 WIB

Video Full Durasi Cut Salwa di Hotel Banyak Diburu, Apa Isinya?

Minggu, 14 Juni 2026 18:49 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Gondrong Pakai Bando dan Ngopi di Warung, Karier Sepak Bola Evan Dimas Sudah Habis?
  • Luar Biasa! Irfan Hakim Sapu Bersih Gelar di Koi Show 2026, Kohaku Jadi Bintang Utama
  • Video Full Durasi Cut Salwa di Hotel Banyak Diburu, Apa Isinya?
  • Hilang 3 Tahun, Wanita Bandung Ditemukan dengan Wajah Hancur! Diduga Disekap Kekasih Sendiri
  • Persib Masih Kena Transfer Ban FIFA! Bursa Transfer Maung Bandung Terancam Kacau?
  • Jangan Sampai Terlambat! WhatsApp akan Blokir Akses di iPhone dengan iOS Versi Ini
  • Pro-Kontra Razia Outfit Jogging di Aceh: Aturan Daerah vs Gaya Hidup Modern, Siapa yang Salah?
  • Drama Besar Timnas Jepang! Moriyasu Minta Maaf Usai Coret Wataru Endo
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Minggu, 14 Juni 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Elegi Cihampelas: Anggaran Miliaran yang Gagal Menjaga Nyawa Siswa SMAN 5 Bandung

By SusanaSenin, 16 Maret 2026 09:00 WIB5 Mins Read
Ilustrasi Elegi Cihampelas. (Foto: bukamata.id/AI)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Malam Sabtu (13/3/2026) itu, Jalan Cihampelas seharusnya hanya menjadi saksi bisu keriuhan remaja Bandung yang merayakan kebersamaan di bulan Ramadan. Namun, sekitar pukul 23.30 WIB, aspal jalanan ikonik itu justru bersimbah darah. MFA (16), siswa kelas XI SMAN 5 Bandung, meregang nyawa setelah diduga dikeroyok kelompok pelajar lain pasca-acara buka puasa bersama (bukber).

Tragedi ini bukan sekadar kriminalitas biasa. Ini adalah monumen kegagalan sistemik yang menampar wajah Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Kota Bandung. Di tengah klaim keberhasilan program-program “disiplin” yang menelan anggaran daerah hingga miliaran rupiah, nyatanya nyawa seorang pelajar masih begitu murah di tangan kekerasan jalanan.

Pesta Anggaran di Balik Kedisiplinan Semu

Selama beberapa tahun terakhir, publik disuguhi narasi heroik tentang pembinaan pelajar melalui program “Barak Militer” dan pemberlakuan jam malam. Pemprov Jabar dan Pemkot Bandung tampak begitu bersemangat menggelontorkan dana untuk mengirim siswa “nakal” ke fasilitas militer dengan harapan mereka pulang sebagai pribadi yang santun.

Namun, efektivitas program ini kini digugat. Jika uang rakyat miliaran rupiah tersebut memang bekerja, mengapa rivalitas berdarah antar-sekolah masih terjadi? Mengapa deteksi dini gagal total?

Anggota Dewan Pendidikan Nasional Kemendikdasmen RI, Dr. Tiar Anwar Bahtiar, melihat ada yang salah dengan cara pemerintah menyelesaikan masalah. Ia menilai pendekatan militeristik atau jam malam hanya menyentuh permukaan tanpa mengobati akar penyakit.

“‎Jadi kita tidak bisa mengukur program barak militer ini untuk penyelesaian kasus-kasus remaja, nah sebetulnya yang paling efektif ya untuk mencegah terjadinya hal-hal semacam ini, tentu adalah apa yang paling efektif ini adalah pengawasan dari keluarga sebetulnya kan gitu ya,” tegas Tiar saat dihubungi bukamata.id, Minggu (15/3/2026).

Baca Juga:  Dilema Bundaran Pangdam Jatinangor: Antara Taruhan Nyawa dan Urat Nadi Ekonomi yang Tercekik

Pernyataan ini mengisyaratkan bahwa miliaran rupiah yang dihamburkan untuk proyek barak militer mungkin hanya menjadi “gimmick” politik yang gagal bertransformasi menjadi keamanan nyata di lapangan.

Jam Malam: Antara Macan Kertas dan Realita Jalanan

Kegagalan Pemkot Bandung dalam mengawasi ruang publik pada jam-jam rawan juga menjadi sorotan tajam. Kebijakan jam malam pelajar terbukti hanya menjadi macan kertas. Pada malam kejadian, rombongan besar motor pelajar melenggang bebas dari arah Ciumbuleuit menuju Cihampelas tanpa adanya pengadangan atau patroli preventif yang berarti.

Seorang warga, Adi (40), menggambarkan betapa masifnya pergerakan massa pelajar malam itu sebelum tragedi terjadi.

“Katanya anak-anak SMAN 5 habis bukber. Berapa puluh motor nggak tahu, rombongan konvoi dari arah Ciumbuleuit turun ke sini,” ujar Adi kepada wartawan, Sabtu (14/3/2026).

Tiar Anwar Bahtiar kembali mengkritik inkonsistensi pemerintah dalam menegakkan aturan yang mereka buat sendiri.

“‎Persoalan jam malam ini memang baik ya untuk diterapkan di kalangan pelajar tapi di kita ini rata-rata persoalannya adalah pada pengawasan. Jadi pengawasan dalam pelaksanaan jam malam ini sering kurang baik ya jadi aturan-aturan ini kurang bisa ditegakkan dengan apa dengan efektif begitu,” paparnya.

Tanpa pengawasan yang ketat, kebijakan jam malam hanyalah sekadar retorika untuk menenangkan publik sementara, tanpa benar-benar menjamin keselamatan anak-anak saat berada di luar rumah.

Baca Juga:  Pemprov Jabar Gencarkan Upaya 2,2 UMKM Terdaftar di NIB pada Tahun Ini

Rivalitas Klasik yang Tak Terurai

Kapolsek Coblong, Kompol Riki Erickson, memberikan indikasi awal yang mengejutkan tentang pelaku pengeroyokan.

“Dugaan sementara aksi pengeroyokan melibatkan anak SMAN 5 Bandung dengan siswa SMAN 2 Bandung,” kata Riki.

Jika dugaan ini terbukti, maka duka ini adalah buah dari kegagalan institusi pendidikan di bawah naungan Pemprov Jabar dalam memutus rantai sentimen primordial antar-sekolah. Sekolah-sekolah unggulan yang seharusnya menjadi lumbung kecerdasan justru masih terjebak dalam pola pikir geng motor abad pertengahan.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyampaikan duka citanya yang mendalam, mencoba mengaitkan tragedi ini dengan pengalaman pribadinya.

“Saya sangat prihatin dan berduka atas wafatnya anak kita. Kita berharap penyelidikan bisa menemukan titik terang,” kata Farhan.

Namun, masyarakat tidak butuh sekadar simpati. Masyarakat butuh akuntabilitas. Publik berhak tahu mengapa anggaran keamanan dan pendidikan karakter yang besar tidak mampu mencegah seorang siswa kelas XI tewas di depan warung seafood hanya karena masalah konvoi motor.

Menagih Tanggung Jawab Pemprov dan Pemkot

Pelaksana Tugas Kepala SMAN 5 Bandung, Agus Ferdiana, dalam surat edarannya meminta masyarakat untuk tenang.

“Keluarga besar SMAN 5 Bandung tengah diselimuti duka mendalam atas berpulangnya putra terbaik kami,” ujarnya.

Tenang bukan berarti diam. Tragedi MFA adalah alarm keras bagi Gubernur Jawa Barat dan Wali Kota Bandung untuk mengevaluasi total penggunaan anggaran pembinaan pelajar. Berhenti mengandalkan solusi-solusi instan seperti barak militer yang mahal namun minim hasil jangka panjang.

Baca Juga:  Jabar Hidupkan Kaulinan Barudak! Anak-anak Didorong Lepas dari Jerat Gadget

Tiar Anwar Bahtiar menekankan bahwa solusi sejati terletak pada penguatan institusi terkecil: keluarga. Namun, pemerintah juga punya andil untuk menciptakan sistem pendukung bagi keluarga tersebut, bukan sekadar memberikan hukuman di ujung kejadian.

“Sebab itu saya kira ini jadi renungan kita bersama bahwa pendidikan kita tidak cukup hanya memperbaiki kurikulum sekolah tetapi juga harus menyasar kepada bagaimana kita menguatkan yang mengokohkan kembali keluarga supaya keluarganya betul-betul menjadi apa namanya first place for education itu,” tandasnya.

Kesimpulan: Darah di Atas Laporan Capaian

Kasus MFA kini ditangani Polrestabes Bandung. Plt Kapolrestabes Bandung Kombes Pol Adiwijaya meminta publik memberikan waktu.

“Percayakan kepada Polrestabes Bandung untuk melakukan pendalaman dan penyidikan berkaitan dengan kejadian tersebut,” ujarnya.

Namun, bagi publik, “pendalaman” tidak cukup jika sistem di atasnya tetap busuk. Kematian MFA membuktikan bahwa laporan-laporan capaian kerja pemerintah yang mentereng sering kali berbanding terbalik dengan kenyataan pahit di trotoar Cihampelas.

Jika Pemprov Jabar dan Pemkot Bandung tetap keras kepala mempertahankan kebijakan “kosmetik” yang mahal tanpa memperbaiki sistem pengawasan dan pendidikan karakter yang substansial, maka nyawa MFA hanyalah awal dari daftar panjang korban-korban berikutnya. Sudah saatnya anggaran miliaran rupiah itu dialihkan untuk sesuatu yang benar-benar bisa menjaga nyawa anak-anak kita, bukan sekadar membiayai proyek kedisiplinan yang berujung nisan.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

HL Kekerasan Pelajar Pemkot Bandung Pemprov Jabar Pengeroyokan Siswa SMAN 5 Bandung Tragedi Cihampelas
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Luar Biasa! Irfan Hakim Sapu Bersih Gelar di Koi Show 2026, Kohaku Jadi Bintang Utama

Hilang 3 Tahun, Wanita Bandung Ditemukan dengan Wajah Hancur! Diduga Disekap Kekasih Sendiri

Pro-Kontra Razia Outfit Jogging di Aceh: Aturan Daerah vs Gaya Hidup Modern, Siapa yang Salah?

Hasil PCMB Jabar 2026 Resmi Diumumkan, Ini Aturan Wajib Daftar Ulang atau Calon Siswa Bisa Gugur

Viral! Pencopetan di Mal Bandung Terekam CCTV, iPhone 17 Pro Max Raib Usai Salat Magrib

Rampok Uang Negara Rp18 Miliar, Ternyata Segini Isi Garasi dan Total Harta Wabup Indramayu

Terpopuler
  • Viral! Link Video Full Durasi Cut Salwa Ramai Diburu Netizen, Apa Isinya?
  • Dari Buku ‘Broken Strings’ Sampai Urusan Istri: Mengapa Eza Gionino dan Robby Tremonti Mendadak Panas?
  • Link Telegram Video Cut Salwa Full Durasi Ramai Dicari, Benarkah Ada?
  • Link Video Cut Salwa Viral di TikTok dan X, Ini Fakta Sebenarnya yang Mengejutkan
  • Link Video Cut Salwa Viral ‘No Sensor’, Warganet Diminta Jangan Asal Klik!
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.