Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Berusia Puluhan Tahun! Ini 12 Kuliner Legendaris Bekasi yang Paling Dicari Pemburu Cita Rasa

Selasa, 13 Oktober 2026 06:00 WIB

Liburan ke Sumedang? Ini 5 Tempat Wisata Instagramable, Ada Kastil Warna-Warni

Selasa, 13 Oktober 2026 05:00 WIB

Bingung Cari Makan Malam di Sumedang? Ini 5 Tempat dengan Menu Lezat dan Harga Terjangkau

Selasa, 13 Oktober 2026 04:00 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Berusia Puluhan Tahun! Ini 12 Kuliner Legendaris Bekasi yang Paling Dicari Pemburu Cita Rasa
  • Liburan ke Sumedang? Ini 5 Tempat Wisata Instagramable, Ada Kastil Warna-Warni
  • Bingung Cari Makan Malam di Sumedang? Ini 5 Tempat dengan Menu Lezat dan Harga Terjangkau
  • Bansos Oktober–Desember 2026, Cek Nama Penerima Lewat HP dengan Cara Ini
  • Jadwal Super Padat Bikin Pemain Tumbang, Thom Haye Buka Suara Soal Fasilitas Recovery Persib
  • Era Baru Pengajuan Bansos: Cukup Gunakan NIK KTP, Proses Verifikasi Cuma Hitungan Menit
  • Diduga Sempat Diberi Telur Mentah, Bayi Alena Meninggal pada Usia 28 Hari
  • Berusia Puluhan Tahun! Ini 6 Kuliner Legendaris Sukabumi yang Selalu Diincar Wisatawan
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Selasa, 13 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Elegi Cihampelas: Anggaran Miliaran yang Gagal Menjaga Nyawa Siswa SMAN 5 Bandung

By SusanaSenin, 16 Maret 2026 09:00 WIB5 Mins Read
Ilustrasi Elegi Cihampelas. (Foto: bukamata.id/AI)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Malam Sabtu (13/3/2026) itu, Jalan Cihampelas seharusnya hanya menjadi saksi bisu keriuhan remaja Bandung yang merayakan kebersamaan di bulan Ramadan. Namun, sekitar pukul 23.30 WIB, aspal jalanan ikonik itu justru bersimbah darah. MFA (16), siswa kelas XI SMAN 5 Bandung, meregang nyawa setelah diduga dikeroyok kelompok pelajar lain pasca-acara buka puasa bersama (bukber).

Tragedi ini bukan sekadar kriminalitas biasa. Ini adalah monumen kegagalan sistemik yang menampar wajah Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Kota Bandung. Di tengah klaim keberhasilan program-program “disiplin” yang menelan anggaran daerah hingga miliaran rupiah, nyatanya nyawa seorang pelajar masih begitu murah di tangan kekerasan jalanan.

Pesta Anggaran di Balik Kedisiplinan Semu

Selama beberapa tahun terakhir, publik disuguhi narasi heroik tentang pembinaan pelajar melalui program “Barak Militer” dan pemberlakuan jam malam. Pemprov Jabar dan Pemkot Bandung tampak begitu bersemangat menggelontorkan dana untuk mengirim siswa “nakal” ke fasilitas militer dengan harapan mereka pulang sebagai pribadi yang santun.

Namun, efektivitas program ini kini digugat. Jika uang rakyat miliaran rupiah tersebut memang bekerja, mengapa rivalitas berdarah antar-sekolah masih terjadi? Mengapa deteksi dini gagal total?

Anggota Dewan Pendidikan Nasional Kemendikdasmen RI, Dr. Tiar Anwar Bahtiar, melihat ada yang salah dengan cara pemerintah menyelesaikan masalah. Ia menilai pendekatan militeristik atau jam malam hanya menyentuh permukaan tanpa mengobati akar penyakit.

“‎Jadi kita tidak bisa mengukur program barak militer ini untuk penyelesaian kasus-kasus remaja, nah sebetulnya yang paling efektif ya untuk mencegah terjadinya hal-hal semacam ini, tentu adalah apa yang paling efektif ini adalah pengawasan dari keluarga sebetulnya kan gitu ya,” tegas Tiar saat dihubungi bukamata.id, Minggu (15/3/2026).

Baca Juga:  Darah Baru di Kandang Maung: Jalan Panjang Persib Menuju Puncak

Pernyataan ini mengisyaratkan bahwa miliaran rupiah yang dihamburkan untuk proyek barak militer mungkin hanya menjadi “gimmick” politik yang gagal bertransformasi menjadi keamanan nyata di lapangan.

Jam Malam: Antara Macan Kertas dan Realita Jalanan

Kegagalan Pemkot Bandung dalam mengawasi ruang publik pada jam-jam rawan juga menjadi sorotan tajam. Kebijakan jam malam pelajar terbukti hanya menjadi macan kertas. Pada malam kejadian, rombongan besar motor pelajar melenggang bebas dari arah Ciumbuleuit menuju Cihampelas tanpa adanya pengadangan atau patroli preventif yang berarti.

Seorang warga, Adi (40), menggambarkan betapa masifnya pergerakan massa pelajar malam itu sebelum tragedi terjadi.

“Katanya anak-anak SMAN 5 habis bukber. Berapa puluh motor nggak tahu, rombongan konvoi dari arah Ciumbuleuit turun ke sini,” ujar Adi kepada wartawan, Sabtu (14/3/2026).

Tiar Anwar Bahtiar kembali mengkritik inkonsistensi pemerintah dalam menegakkan aturan yang mereka buat sendiri.

“‎Persoalan jam malam ini memang baik ya untuk diterapkan di kalangan pelajar tapi di kita ini rata-rata persoalannya adalah pada pengawasan. Jadi pengawasan dalam pelaksanaan jam malam ini sering kurang baik ya jadi aturan-aturan ini kurang bisa ditegakkan dengan apa dengan efektif begitu,” paparnya.

Tanpa pengawasan yang ketat, kebijakan jam malam hanyalah sekadar retorika untuk menenangkan publik sementara, tanpa benar-benar menjamin keselamatan anak-anak saat berada di luar rumah.

Baca Juga:  Pemprov Jabar Tunggu Proses Polres Tapanuli Utara soal Dugaan Video Asusila ASN

Rivalitas Klasik yang Tak Terurai

Kapolsek Coblong, Kompol Riki Erickson, memberikan indikasi awal yang mengejutkan tentang pelaku pengeroyokan.

“Dugaan sementara aksi pengeroyokan melibatkan anak SMAN 5 Bandung dengan siswa SMAN 2 Bandung,” kata Riki.

Jika dugaan ini terbukti, maka duka ini adalah buah dari kegagalan institusi pendidikan di bawah naungan Pemprov Jabar dalam memutus rantai sentimen primordial antar-sekolah. Sekolah-sekolah unggulan yang seharusnya menjadi lumbung kecerdasan justru masih terjebak dalam pola pikir geng motor abad pertengahan.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyampaikan duka citanya yang mendalam, mencoba mengaitkan tragedi ini dengan pengalaman pribadinya.

“Saya sangat prihatin dan berduka atas wafatnya anak kita. Kita berharap penyelidikan bisa menemukan titik terang,” kata Farhan.

Namun, masyarakat tidak butuh sekadar simpati. Masyarakat butuh akuntabilitas. Publik berhak tahu mengapa anggaran keamanan dan pendidikan karakter yang besar tidak mampu mencegah seorang siswa kelas XI tewas di depan warung seafood hanya karena masalah konvoi motor.

Menagih Tanggung Jawab Pemprov dan Pemkot

Pelaksana Tugas Kepala SMAN 5 Bandung, Agus Ferdiana, dalam surat edarannya meminta masyarakat untuk tenang.

“Keluarga besar SMAN 5 Bandung tengah diselimuti duka mendalam atas berpulangnya putra terbaik kami,” ujarnya.

Tenang bukan berarti diam. Tragedi MFA adalah alarm keras bagi Gubernur Jawa Barat dan Wali Kota Bandung untuk mengevaluasi total penggunaan anggaran pembinaan pelajar. Berhenti mengandalkan solusi-solusi instan seperti barak militer yang mahal namun minim hasil jangka panjang.

Baca Juga:  Wali Kota Apresiasi Kinerja ASN, Bandung Sukses Gelar Milangkala Tatar Sunda dan Perayaan Persib

Tiar Anwar Bahtiar menekankan bahwa solusi sejati terletak pada penguatan institusi terkecil: keluarga. Namun, pemerintah juga punya andil untuk menciptakan sistem pendukung bagi keluarga tersebut, bukan sekadar memberikan hukuman di ujung kejadian.

“Sebab itu saya kira ini jadi renungan kita bersama bahwa pendidikan kita tidak cukup hanya memperbaiki kurikulum sekolah tetapi juga harus menyasar kepada bagaimana kita menguatkan yang mengokohkan kembali keluarga supaya keluarganya betul-betul menjadi apa namanya first place for education itu,” tandasnya.

Kesimpulan: Darah di Atas Laporan Capaian

Kasus MFA kini ditangani Polrestabes Bandung. Plt Kapolrestabes Bandung Kombes Pol Adiwijaya meminta publik memberikan waktu.

“Percayakan kepada Polrestabes Bandung untuk melakukan pendalaman dan penyidikan berkaitan dengan kejadian tersebut,” ujarnya.

Namun, bagi publik, “pendalaman” tidak cukup jika sistem di atasnya tetap busuk. Kematian MFA membuktikan bahwa laporan-laporan capaian kerja pemerintah yang mentereng sering kali berbanding terbalik dengan kenyataan pahit di trotoar Cihampelas.

Jika Pemprov Jabar dan Pemkot Bandung tetap keras kepala mempertahankan kebijakan “kosmetik” yang mahal tanpa memperbaiki sistem pengawasan dan pendidikan karakter yang substansial, maka nyawa MFA hanyalah awal dari daftar panjang korban-korban berikutnya. Sudah saatnya anggaran miliaran rupiah itu dialihkan untuk sesuatu yang benar-benar bisa menjaga nyawa anak-anak kita, bukan sekadar membiayai proyek kedisiplinan yang berujung nisan.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

HL Pemkot Bandung Pemprov Jabar
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Bansos

Bansos Oktober–Desember 2026, Cek Nama Penerima Lewat HP dengan Cara Ini

Diduga Sempat Diberi Telur Mentah, Bayi Alena Meninggal pada Usia 28 Hari

Cara cek bansos PKH tahap 4 2025 pakai KTP.

PKH hingga PIP 2026, Segini Nominal Bantuan dan Cara Cek Status Penerima secara Online

Nasib PMI Asal Cililin di Dubai Bikin Keluarga Cemas, Komunikasi Terputus usai Minta Pertolongan

Dikira Nyata, Aksi Heroik ODGJ Gagalkan Curanmor Ternyata Rekayasa AI

Misteri Pria Hilang di Cimahi Berakhir, Ditemukan Meninggal di Persawahan Cipatat

Terpopuler
  • Dari Kampus ke Gedung DPR RI, KPMJ Ilmu Komunikasi UIN Bandung Pelajari Dunia Keprotokolan dan Kehumasan
  • bsu.kemnaker.go.id untuk mengecek penerima BSU 2025 secara resmi dari Kemnaker.
    BLT Kesra 2026 Kapan Cair? Cek Update Bantuan Sosial Akhir Tahun dan Cara Cek NIK Kemensos
  • Terbongkar! Pengakuan Jujur Anggun C Sasmi Soal Paspor Prancis yang Selama Ini Disembunyikan
  • Ilustrasi video syur
    Viral Video Syur Perempuan Berseragam Poltekkes Bandung, Begini Kata Kemenkes
  • Incar Poin Penuh di Kandang Port FC, Persib Bandung Siap Tampil Habis-habisan
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.