bukamata.id – Masyarakat Tatar Pasundan tampaknya harus bersiap memperpanjang adaptasi terhadap cuaca kering dalam beberapa waktu ke depan. Berdasarkan hasil pemodelan iklim terbaru, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Jawa Barat resmi merilis peta prakiraan musim hujan untuk periode 2026/2027 yang menunjukkan adanya pergeseran waktu kedatangan yang cukup signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Berdasarkan analisis komprehensif terhadap dinamika atmosfer global maupun suhu perairan laut, mayoritas wilayah di Jawa Barat diproyeksikan baru akan mulai dibasahi air hujan secara merata pada November 2026. Mundurnya jadwal ini tidak terlepas dari kuatnya cengkeraman fenomena iklim skala global yang tengah aktif melanda kawasan tersebut.
Kepala Stasiun Klimatologi Jabar, Rakhmat Prasetia, memaparkan bahwa keterlambatan awal musim hujan ini utamanya dipicu oleh kombinasi dua anomali iklim utama: fenomena El Nino dengan intensitas kuat yang diprediksi bertahan hingga awal 2027, serta indeks Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang terpantau masih akan mendominasi sampai pengujung 2026.
Berdasarkan data pemutakhiran per dasarian II September 2026, tercatat nilai anomali suhu muka laut mencapai angka +2.97 sebagai indikator kuatnya aktivitas El Nino, sementara indeks IOD berada di kisaran +0.935. Kondisi termal ini secara otomatis menghambat suplai uap air vital ke wilayah Indonesia bagian selatan, termasuk Tatar Pasundan, sehingga cuaca kering berkepanjangan masih mendominasi sebagian besar daerah.
“Angin timuran (monsun Australia) saat ini masih dominan, namun angin Monsun Asia diprediksi mulai aktif di wilayah Indonesia bagian utara pada November 2026, yang menjadi tanda peralihan menuju musim penghujan,” ujarnya dalam keterangan resmi yang dirilis pada Jumat (2/10/2026).
Karakteristik dan Puncak Musim Hujan 2026/2027 di Jawa Barat
Merujuk pada hasil pemetaan Zona Musim (ZOM) di seluruh kabupaten/kota se-Jawa Barat, BMKG merinci sebaran waktu kedatangan hujan sebagai berikut:
- Oktober 2026: Meliputi sekitar 24 persen wilayah, terutama di sektor barat, tengah, dan timur.
- November 2026: Menjadi periode dominan di mana 49 persen wilayah Jabar mulai diguyur hujan.
- Desember 2026: Mencakup 25 persen wilayah sisanya, yang terkonsentrasi di kawasan utara dan sebagian kecil wilayah barat.
Secara statistik, sebanyak 96 persen wilayah di Jawa Barat mengalami kemunduran jadwal awal musim hujan jika dibandingkan dengan rerata normal klimatologisnya. Kendati datang lebih lambat, sifat curah hujan secara umum diprediksi masih berada pada kategori normal (90 persen wilayah), disusul 8 persen bawah normal, dan 2 persen atas normal.
Sementara itu, fase puncak musim hujan di mayoritas wilayah Jabar (sekitar 71 persen daerah) diperkirakan baru akan terjadi pada Februari 2027, dengan 58 persen wilayah mengalami pergeseran jadwal puncak yang lebih lambat dari kebiasaan biasanya. Durasi musim hujan tahun ini juga diproyeksikan lebih pendek, di mana 98 persen wilayah Jabar akan menikmati durasi musim hujan yang lebih singkat dibandingkan kondisi normal.
Ancaman Kekeringan dan Imbauan Kesiapsiagaan
Di tengah fase transisi yang masih berjalan ini, BMKG memperingatkan bahwa sejumlah daerah di Jawa Barat masih harus berhadapan dengan hari tanpa hujan (HTH) yang sangat panjang. Rekor terpanjang tercatat terjadi di Losari, Kabupaten Cirebon, yang bahkan menembus angka 130 hari tanpa air hujan.
Beberapa daerah seperti Bekasi, Karawang, Cirebon, Indramayu, Garut, Sukabumi, hingga Cianjur dilaporkan masih menyandang status awas terhadap bahaya kekeringan meteorologis hingga awal Oktober 2026 ini.
Mengantisipasi dinamika cuaca yang tidak menentu ini, pemerintah daerah beserta seluruh elemen masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dini terhadap potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor seiring peningkatan intensitas hujan secara bertahap menuju bulan Februari mendatang.
“Masyarakat dan Pemerintah Daerah diimbau untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi cuaca ekstrem, banjir, serta tanah longsor seiring dengan peningkatan curah hujan secara bertahap pada Oktober hingga puncaknya pada Februari nanti. Kami merekomendasikan sektor pertanian untuk menyesuaikan jadwal tanam serta memilih varietas tanaman berumur pendek, sementara sektor sumber daya air diharapkan dapat mengoptimalkan penampungan air hujan, pengelolaan waduk, serta pembersihan saluran drainase guna mengantisipasi risiko genangan dan kekurangan air bersih,” pungkasnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










