Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Keren Banget! Skill Futsal Bocah SD Asal Deli Serdang Bikin Pelatih Timnas Indonesia Putri Kepincut

Jumat, 2 Oktober 2026 17:33 WIB
BSU Kemnaker

Jangan Tertipu Info Palsu! BSU 2026 Rp900 Ribu Disiapkan untuk 13,3 Juta Pekerja

Jumat, 2 Oktober 2026 17:04 WIB

Waspada Pergeseran Musim: BMKG Sebut Awal Musim Hujan di Jawa Barat Mundur Akibat El Nino Kuat

Jumat, 2 Oktober 2026 16:51 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Keren Banget! Skill Futsal Bocah SD Asal Deli Serdang Bikin Pelatih Timnas Indonesia Putri Kepincut
  • Jangan Tertipu Info Palsu! BSU 2026 Rp900 Ribu Disiapkan untuk 13,3 Juta Pekerja
  • Waspada Pergeseran Musim: BMKG Sebut Awal Musim Hujan di Jawa Barat Mundur Akibat El Nino Kuat
  • Terulang Lagi! SPPG Panyandaan KBB Disuspend Usai 14 Siswa Alami Keluhan
  • Lempar Bola Panas, Dedi Mulyadi Bongkar Fakta Megaproyek Data Center AI
  • Polisi Bekuk Terduga Pencuri Kabel APILL yang Bikin Lampu Merah Bandung Padam
  • FAM Layangkan Protes Resmi ke FIFA Terkait Lonjakan Injury Time Laga Indonesia vs Bangladesh
  • Dedi Mulyadi Hadiri Pengukuhan PWI Jabar, Ingatkan Pers Jaga Independensi
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Jumat, 2 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Waspada Pergeseran Musim: BMKG Sebut Awal Musim Hujan di Jawa Barat Mundur Akibat El Nino Kuat

By Aga GustianaJumat, 2 Oktober 2026 16:51 WIB4 Mins Read
Cuaca Ekstrem. (Foto: Ilustrasi/bpbd.bogorkab.go.id)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Masyarakat Tatar Pasundan tampaknya harus bersiap memperpanjang adaptasi terhadap cuaca kering dalam beberapa waktu ke depan. Berdasarkan hasil pemodelan iklim terbaru, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Jawa Barat resmi merilis peta prakiraan musim hujan untuk periode 2026/2027 yang menunjukkan adanya pergeseran waktu kedatangan yang cukup signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Berdasarkan analisis komprehensif terhadap dinamika atmosfer global maupun suhu perairan laut, mayoritas wilayah di Jawa Barat diproyeksikan baru akan mulai dibasahi air hujan secara merata pada November 2026. Mundurnya jadwal ini tidak terlepas dari kuatnya cengkeraman fenomena iklim skala global yang tengah aktif melanda kawasan tersebut.

Kepala Stasiun Klimatologi Jabar, Rakhmat Prasetia, memaparkan bahwa keterlambatan awal musim hujan ini utamanya dipicu oleh kombinasi dua anomali iklim utama: fenomena El Nino dengan intensitas kuat yang diprediksi bertahan hingga awal 2027, serta indeks Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang terpantau masih akan mendominasi sampai pengujung 2026.

Berdasarkan data pemutakhiran per dasarian II September 2026, tercatat nilai anomali suhu muka laut mencapai angka +2.97 sebagai indikator kuatnya aktivitas El Nino, sementara indeks IOD berada di kisaran +0.935. Kondisi termal ini secara otomatis menghambat suplai uap air vital ke wilayah Indonesia bagian selatan, termasuk Tatar Pasundan, sehingga cuaca kering berkepanjangan masih mendominasi sebagian besar daerah.

Baca Juga:  Target 100 Juta Kunjungan Wisatawan di 2024, Sekda Jabar Tekankan Pentingnya Kolaborasi

“Angin timuran (monsun Australia) saat ini masih dominan, namun angin Monsun Asia diprediksi mulai aktif di wilayah Indonesia bagian utara pada November 2026, yang menjadi tanda peralihan menuju musim penghujan,” ujarnya dalam keterangan resmi yang dirilis pada Jumat (2/10/2026).

Karakteristik dan Puncak Musim Hujan 2026/2027 di Jawa Barat

Merujuk pada hasil pemetaan Zona Musim (ZOM) di seluruh kabupaten/kota se-Jawa Barat, BMKG merinci sebaran waktu kedatangan hujan sebagai berikut:

  • Oktober 2026: Meliputi sekitar 24 persen wilayah, terutama di sektor barat, tengah, dan timur.
  • November 2026: Menjadi periode dominan di mana 49 persen wilayah Jabar mulai diguyur hujan.
  • Desember 2026: Mencakup 25 persen wilayah sisanya, yang terkonsentrasi di kawasan utara dan sebagian kecil wilayah barat.
Baca Juga:  Warga Sukabumi Digegerkan Temuan Potongan Kaki Dikubur di Rumah Kosong

Secara statistik, sebanyak 96 persen wilayah di Jawa Barat mengalami kemunduran jadwal awal musim hujan jika dibandingkan dengan rerata normal klimatologisnya. Kendati datang lebih lambat, sifat curah hujan secara umum diprediksi masih berada pada kategori normal (90 persen wilayah), disusul 8 persen bawah normal, dan 2 persen atas normal.

Sementara itu, fase puncak musim hujan di mayoritas wilayah Jabar (sekitar 71 persen daerah) diperkirakan baru akan terjadi pada Februari 2027, dengan 58 persen wilayah mengalami pergeseran jadwal puncak yang lebih lambat dari kebiasaan biasanya. Durasi musim hujan tahun ini juga diproyeksikan lebih pendek, di mana 98 persen wilayah Jabar akan menikmati durasi musim hujan yang lebih singkat dibandingkan kondisi normal.

Ancaman Kekeringan dan Imbauan Kesiapsiagaan

Di tengah fase transisi yang masih berjalan ini, BMKG memperingatkan bahwa sejumlah daerah di Jawa Barat masih harus berhadapan dengan hari tanpa hujan (HTH) yang sangat panjang. Rekor terpanjang tercatat terjadi di Losari, Kabupaten Cirebon, yang bahkan menembus angka 130 hari tanpa air hujan.

Baca Juga:  Gaya Kepemimpinan Dedi Mulyadi Dinilai Otokratik, Bisa Jadi 'Pedang Bermata Dua'

Beberapa daerah seperti Bekasi, Karawang, Cirebon, Indramayu, Garut, Sukabumi, hingga Cianjur dilaporkan masih menyandang status awas terhadap bahaya kekeringan meteorologis hingga awal Oktober 2026 ini.

Mengantisipasi dinamika cuaca yang tidak menentu ini, pemerintah daerah beserta seluruh elemen masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dini terhadap potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor seiring peningkatan intensitas hujan secara bertahap menuju bulan Februari mendatang.

“Masyarakat dan Pemerintah Daerah diimbau untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi cuaca ekstrem, banjir, serta tanah longsor seiring dengan peningkatan curah hujan secara bertahap pada Oktober hingga puncaknya pada Februari nanti. Kami merekomendasikan sektor pertanian untuk menyesuaikan jadwal tanam serta memilih varietas tanaman berumur pendek, sementara sektor sumber daya air diharapkan dapat mengoptimalkan penampungan air hujan, pengelolaan waduk, serta pembersihan saluran drainase guna mengantisipasi risiko genangan dan kekurangan air bersih,” pungkasnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

BMKG El Nino jawa barat
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

BSU Kemnaker

Jangan Tertipu Info Palsu! BSU 2026 Rp900 Ribu Disiapkan untuk 13,3 Juta Pekerja

Terulang Lagi! SPPG Panyandaan KBB Disuspend Usai 14 Siswa Alami Keluhan

Lempar Bola Panas, Dedi Mulyadi Bongkar Fakta Megaproyek Data Center AI

Polisi Bekuk Terduga Pencuri Kabel APILL yang Bikin Lampu Merah Bandung Padam

Dedi Mulyadi Hadiri Pengukuhan PWI Jabar, Ingatkan Pers Jaga Independensi

Proyek Data Center BDx di Purwakarta Disorot, Perizinan dan Kebutuhan Air Jadi Perhatian

Terpopuler
  • Eksa Silika Resmi Jadi Plt, KORMI Bandung Bersiap Pilih Ketua Baru
  • HUT ke-38 Bikers Brotherhood 1% MC Digelar di Bandung, Angkat Semangat Persaudaraan
  • Polemik Data Center AI Jatiluhur: AMDAL Belum Rampung tapi Proyek Sudah Dimulai, Apakah Ruang Koreksi Masih Ada?
  • Badai di Tubuh KORMI Bandung: Hibah Seret, Kudeta Kepengurusan, hingga Sentilan Guru Besar UPI
  • Antara Regulasi dan Realita: Menguak Karut-Marut Anggaran Publikasi Rp250 Juta di Diskominfo Purwakarta
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.