bukamata.id – Dunia digital Indonesia kembali bergejolak. Kali ini, panggungnya bukan soal politik atau selebriti, melainkan sebuah interaksi di pinggir jalan yang terekam kamera ponsel. Seorang pengemudi ojek online (ojol) mendadak menjadi sasaran kemarahan kolektif netizen atau yang populer disebut dengan istilah “rujak netizen”. Pemicunya sederhana namun fatal: sebuah konten video yang dinilai merendahkan fisik (body shaming) terhadap seorang penumpang yang masih duduk di bangku SMP.
Apa yang awalnya dianggap sebagai candaan atau sekadar curhatan di media sosial, justru berbalik menjadi bumerang yang menghantam etika profesi dan empati kemanusiaan. Kasus ini membuka tabir tentang batas tipis antara hak pengemudi untuk menjaga kendaraan dan kewajiban menjaga martabat pelanggan.
Kronologi di Balik Tawa yang Menyakiti
Kejadian ini bermula ketika sebuah video pendek diunggah oleh akun @ojolfakesgps. Dalam rekaman tersebut, kamera ponsel pengemudi menyorot secara langsung ke arah seorang siswi SMP dengan postur tubuh big size yang sedang menunggu jemputan. Tanpa rasa sungkan, pengemudi tersebut merekam interaksinya dengan nada bicara yang diselingi tawa kecil—sebuah gestur yang bagi banyak orang terasa mengejek.
Sambil tetap mengarahkan lensa kamera ke arah siswi yang tampak bingung tersebut, sang driver melontarkan kalimat pembatalan pesanan.
“Kak, mohon maaf ya kak. Motor saya kecil, order yang motor besar aja ya kak. Ini saya cancel ya, maaf,” ucap driver tersebut dalam video yang kini beredar luas sebagai bukti kecaman netizen.
Sekilas, kalimat tersebut mungkin terdengar sopan dengan adanya kata “mohon maaf”. Namun, konteks video yang diambil secara sembunyi-sembunyi dan diunggah ke publik mengubah segalanya. Siswi SMP tersebut, yang seharusnya menjadi pelanggan yang dilayani, justru dijadikan objek konten tanpa izin. Senyum kecil dan nada bicara sang driver dianggap sebagai bentuk pelecehan terhadap kondisi fisik penumpang di depan jutaan pasang mata netizen.
Gelombang Amarah: Media Sosial Tidak Tinggal Diam
Video tersebut tidak butuh waktu lama untuk memicu ledakan reaksi. Netizen Indonesia, yang dikenal sangat vokal terhadap isu-isu ketidakadilan sosial, segera menyerbu kolom komentar. Mayoritas menyayangkan mengapa sebuah penolakan pesanan—yang sebenarnya merupakan hak teknis driver—harus didokumentasikan dan diunggah ke jagat maya dengan cara yang diskriminatif.
Kritik pedas pun mengalir deras. Publik menilai bahwa merekam wajah orang lain tanpa izin, apalagi dengan tujuan menjadikannya bahan tawaan atau konten, adalah pelanggaran privasi yang serius. Terlebih lagi, korbannya adalah seorang anak di bawah umur yang mungkin tidak menyadari bahwa dirinya sedang dijadikan bahan “edukasi” yang salah kaprah.
Seorang pengguna media sosial, @enak.beud, menyampaikan kritik yang sangat tajam dan mewakili kegelisahan banyak orang.
“Cancel-nya sih gpp, tp kenapa harus videonya ente upload ke sosmed? Gw yakin bukan untuk edukasi sih, klo edukasi ente cukup bikin video diri sendiri ngomong di depan kamera,” tulisnya.
Sentimen ini diperkuat oleh rasa iba terhadap dampak psikologis yang mungkin dialami oleh siswi tersebut. Bayangkan beban mental yang harus ditanggung seorang remaja ketika bentuk tubuhnya menjadi bahan perbincangan publik hanya karena ingin pulang sekolah menggunakan jasa ojol. Akun @ibaaaaaay19 menyuarakannya dengan nada emosional:
“Bayangin aja itu anak lo terus digituin sama orang lain, gimana rasanya?”
Pembelaan Diri: Antara Shockbreaker dan Edukasi
Setelah identitasnya terungkap dan tekanan publik semakin masif, sang driver akhirnya muncul untuk memberikan klarifikasi. Ia tidak menampik telah mengunggah video tersebut, namun ia memberikan pembelaan yang berfokus pada sisi teknis dan keselamatan berkendara.
Ia berdalih bahwa tindakannya bukan didasari kebencian, melainkan rasa khawatir terhadap kondisi kendaraannya. Pengemudi ini mengklaim bahwa ia memiliki pengalaman buruk di masa lalu, di mana komponen shockbreaker motornya patah akibat sering mengangkut beban yang melebihi kapasitas standar motor matic kecilnya.
Lebih jauh lagi, ia mencoba membungkus tindakannya dengan label “edukasi”. Menurutnya, video tersebut bertujuan untuk memberi tahu calon penumpang dengan kategori big size agar lebih bijak dalam memilih layanan. Ia menyarankan agar pelanggan memilih kategori layanan yang memang disediakan untuk kapasitas beban lebih besar, seperti Grab Bike XL.
“Itu untuk penumpang yang big size, supaya driver nyaman, penumpang nyaman, keselamatan pun nyaman,” jelasnya sembari melayangkan permohonan maaf jika kontennya menyinggung perasaan publik.
Namun, pembelaan ini dirasa hambar oleh publik. Meski alasan keselamatan itu valid secara teknis, metode penyampaiannya dianggap sangat keliru. Edukasi tidak harus dilakukan dengan cara mempermalukan individu secara spesifik.
Analisis Etika: Keselamatan vs. Kehormatan
Dalam industri jasa transportasi, ada dua pilar utama yang harus berjalan beriringan: Keselamatan dan Layanan Pelanggan (Hospitality). Secara teknis, setiap pengemudi memang memiliki hak untuk menolak beban yang dianggap membahayakan kestabilan motor atau merusak komponen kendaraan. Ini adalah bagian dari manajemen risiko yang wajar.
Namun, pilar kedua—yakni menjaga kehormatan dan privasi penumpang—sama sekali tidak boleh diabaikan. Ketika seorang pengemudi memutuskan untuk mengaktifkan aplikasi, ia terikat pada kode etik profesi yang menempatkan penumpang sebagai subjek yang harus dihormati, bukan objek konten.
Masalah utama dalam kasus ini bukanlah pada “pembatalan pesanannya”, melainkan pada:
- Pelanggaran Privasi: Merekam dan mengunggah wajah penumpang tanpa persetujuan eksplisit.
- Perundungan Digital: Menggunakan fitur fisik seseorang sebagai narasi dalam konten yang memicu reaksi negatif.
- Penyalahgunaan Platform: Menggunakan media sosial untuk “mengeluh” tentang pelanggan dengan cara yang merendahkan.
Pelajaran bagi Ekosistem Ojol Indonesia
Insiden ini menjadi pengingat keras bagi jutaan mitra pengemudi ojek online di seluruh Indonesia. Di era di mana setiap orang bisa menjadi “pembuat konten”, batasan antara kehidupan profesional dan ambisi viral menjadi sangat kabur.
Bagi perusahaan penyedia aplikasi, kasus ini menunjukkan perlunya literasi digital yang lebih mendalam bagi para mitra. Edukasi mengenai cara menangani situasi sulit di lapangan—seperti menolak penumpang karena alasan berat beban—harus diajarkan dengan pendekatan yang santun tanpa menyinggung perasaan.
Penyampaian yang santun dan profesional tetap menjadi standar layanan mutlak. Menolak pesanan demi keselamatan adalah tindakan bertanggung jawab, namun melakukannya sambil tertawa dan merekam wajah penumpang adalah tindakan yang tidak profesional dan tidak etis.
Sebagai penutup, kasus ini meninggalkan pesan penting bagi kita semua: di balik layar ponsel yang kita gunakan untuk merekam, ada manusia dengan perasaan dan privasi yang harus dijaga. Keselamatan kendaraan memang penting untuk keberlangsungan nafkah, namun menjaga martabat sesama manusia adalah fondasi dari segala jenis pekerjaan. Semoga kejadian ini menjadi yang terakhir, dan tidak ada lagi siswa atau siapa pun yang harus menjadi korban “edukasi” yang berakhir dengan luka di hati.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










