Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

PSSI Ungkap Alasan Elkan Baggott Lama Absen dari Timnas Indonesia, Bukan Gara-gara Pelatih

Sabtu, 7 Maret 2026 06:43 WIB
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa

Purbaya Blak-blakan Soal Ramai THR Swasta Kena Pajak Tapi ASN Tidak

Sabtu, 7 Maret 2026 06:26 WIB
Persib Bandung

Jadwal Pekan 25 BRI Super League 2026: Persib Bandung Incar Kemenangan, Borneo FC Tantang Persebaya

Sabtu, 7 Maret 2026 06:02 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • PSSI Ungkap Alasan Elkan Baggott Lama Absen dari Timnas Indonesia, Bukan Gara-gara Pelatih
  • Purbaya Blak-blakan Soal Ramai THR Swasta Kena Pajak Tapi ASN Tidak
  • Jadwal Pekan 25 BRI Super League 2026: Persib Bandung Incar Kemenangan, Borneo FC Tantang Persebaya
  • Liverpool Bungkam Wolves 3-1 di Molineux, The Reds Jadi Tim Pertama Lolos ke Perempat Final Piala FA
  • TikTok Heboh, Ini Fakta di Balik Video ‘Chindo Adidas’ yang Viral
  • Cek Aturan THR PNS 2026: Cair Sebelum atau Setelah Lebaran?
  • Hari ke-17 Ramadhan 1447 H: Jadwal Imsak di Bandung Hari Ini!
  • Link Video Andini Permata Kembali Viral, Lonjakan Pencarian Picu Rasa Penasaran Warganet
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Sabtu, 7 Maret 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Adu Akting dengan Vino G Bastian: Ridho Khaliq, Sang Pemeran Utama yang Istimewa!

By Aga GustianaJumat, 6 Maret 2026 18:29 WIB6 Mins Read
Ridho Khaliq, jadi aktor muda down syndrom. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Dunia seni peran sering kali dipandang sebagai kawah candradimuka bagi mereka yang memiliki kecakapan bicara, kontrol emosi yang stabil, dan kemampuan meniru karakter secara sempurna. Namun, bagaimana jika panggung tersebut diisi oleh seseorang yang berkomunikasi dengan bahasa yang berbeda—bahasa hati dan ekspresi yang jujur? Ridho Khaliq Kurnia (14), seorang remaja dengan down syndrome, baru saja membuktikan bahwa layar lebar bukan hanya milik mereka yang “sempurna” menurut standar awam. Ia hadir di sana, di balik lensa kamera film nasional Tanah Runtuh, membawa pesan yang sangat kuat: potensi manusia tidak pernah bisa dibatasi oleh label sosial yang disematkan oleh masyarakat.

Kisah Ridho bukanlah sekadar cerita sukses seorang anak yang “beruntung” mendapatkan peran. Ini adalah narasi tentang inklusi, keberanian orang tua dalam memberikan ruang, dan keyakinan teguh bahwa setiap anak berkebutuhan khusus memiliki “pintu” bakatnya masing-masing. Pintu itu mungkin tidak selalu terbuka dengan sendirinya, tetapi dengan dukungan yang tepat, ia dapat mengantarkan seorang anak menuju panggung prestasinya yang tak terduga.

Awal Mula dari Ruang Kelas yang Sederhana

Perjalanan Ridho menuju dunia perfilman tidak dimulai di agensi model ternama atau kantor produksi besar di Jakarta. Semuanya bermula dari sebuah ruang ekstrakurikuler di Sekolah Mutiara Harapan Islamic School, tempat di mana Ridho menimba ilmu di divisi khusus, Development Class.

Di sekolah inilah, Kak Reza, seorang guru ekstrakurikuler dance, melihat sesuatu yang tidak terbaca oleh orang lain. Ridho bukan hanya sekadar mengikuti gerakan tari; ia memiliki presence atau kehadiran yang memikat. Saat tampil di atas panggung sekolah, Ridho menunjukkan keberanian yang luar biasa. Ia tidak tampak terbebani oleh audiens yang menatapnya. Sebaliknya, ia tampak menikmati momen tersebut.

Melihat potensi tersebut, Kak Reza tidak membiarkannya terkubur. Ia melihat bahwa bakat Ridho dalam ekspresi tubuh bisa melampaui panggung sekolah. Ketika kesempatan casting untuk film Tanah Runtuh datang, Kak Reza merekomendasikan Ridho. Baginya, film membutuhkan kejujuran, dan Ridho adalah definisi dari kejujuran itu sendiri.

Proses Casting yang Menjadi Ruang Bermain

Proses casting sering kali menjadi momok bagi aktor pemula. Namun, bagi Ridho, proses seleksi film ini justru menjadi ruang bermain. Tim casting film Tanah Runtuh tidak memberikan naskah tebal untuk dihafalkan atau tes akting yang kaku. Mereka justru mengajak Ridho mengobrol, bercanda, dan membiarkan Ridho mengekspresikan dirinya melalui kemampuan dance yang selama ini menjadi kekuatannya.

Baca Juga:  Sisi Lain Fajar SadBoy: Makan Mi Instan hingga Menanti Pekerjaan di Kantor Demi Bertahan di Ibu Kota

Di sini kita belajar satu hal penting: inklusi adalah tentang menyesuaikan metode, bukan memaksa individu untuk menyesuaikan diri dengan standar yang tidak ramah bagi mereka. Ridho, meski memiliki keterbatasan dalam berbicara, bukanlah anak yang tidak mengerti. Ia adalah seorang pendengar yang baik. Marina M. Maulidia, ibunda Ridho, menegaskan hal tersebut. “Ridho memang punya keterbatasan berbicara tapi ia paham jika diajak bicara,” ujarnya.

Pemahaman Ridho terhadap instruksi, meskipun disampaikan dengan caranya sendiri, membuktikan bahwa komunikasi bukanlah sekadar tentang kata-kata, melainkan tentang koneksi emosional yang tulus.

Beradu Peran dengan Vino G. Bastian

Setelah terpilih, tantangan yang sebenarnya baru dimulai. Proses syuting film nasional bukanlah lingkungan yang ramah untuk anak-anak, apalagi bagi remaja berkebutuhan khusus. Jadwal yang padat, cuaca yang sering kali tidak menentu, serta tuntutan untuk mengulang adegan berkali-kali bisa menguji kesabaran aktor profesional sekalipun.

Ridho harus beradaptasi dengan panasnya lokasi syuting, rasa lelah yang menghampiri, hingga kantuk yang terkadang tak tertahankan. Namun, di tengah tantangan tersebut, lingkungan syuting menjadi ekosistem yang mendukungnya. Aktor papan atas seperti Vino G. Bastian turut memberikan ruang bagi Ridho untuk menjadi dirinya sendiri.

“Bersyukur karena semuanya, mulai dari Mas Rudy, semua pemeran dan kru sangat berusaha mengenal dan memahami Ridho. Ridho pun berusaha memahami semua arahan yang diberikan,” kenang Marina dengan rasa haru.

Interaksi antara Ridho dan aktor senior seperti Vino G. Bastian menjadi bukti bahwa kolaborasi adalah kunci dalam dunia kreatif. Di sana tidak ada hierarki yang membedakan aktor “berkebutuhan khusus” dengan aktor lainnya. Yang ada hanyalah manusia-manusia yang saling bekerja sama untuk menciptakan sebuah karya. Proses ini bukan hanya mengubah Ridho menjadi aktor, tetapi juga mengubah perspektif kru film tentang apa arti “mampu”.

Baca Juga:  Dari Gerobak Sosis ke Runway JFW: Kisah Saeruroh, Perempuan Tegal yang Menantang Batas

Gelombang Apresiasi Publik

Berita tentang peran Ridho di film Tanah Runtuh dengan cepat tersebar ke publik, dan respons yang diterima sangat hangat. Internet, yang sering kali menjadi tempat penuh kritik, kali ini menjadi saksi betapa suportifnya masyarakat Indonesia terhadap inklusivitas. Banyak netizen yang menyampaikan dukungan mereka secara tulus, menganggap keberhasilan Ridho sebagai sebuah kemenangan bagi keberagaman.

Publik yang menyaksikan perjalanan Ridho pun tak tinggal diam. Media sosial menjadi saksi betapa hangatnya dukungan yang mengalir untuk remaja luar biasa ini. Berbagai komentar netizen membanjiri ruang siber, menjadi cerminan harapan masyarakat akan dunia yang lebih inklusif. “Support untukmu nak….semoga sukses,” ujar salah satu netizen. Banyak pula yang memberikan kredit kepada tim produksi karena dianggap berani mengambil langkah progresif dan memiliki visi yang tajam dalam memandang bakat. “Sutradara nya jg keren… Jeli melihat bakat dan potensi,” kata netizen lainnya.

Bahkan, ada yang melihat fenomena ini sebagai tren positif yang semakin meluas di industri film tanah air, di mana kesempatan mulai terbuka bagi siapa saja tanpa terkecuali. “Sukses slalu untuk Ridho…Aamiin, seneng bgt liat berita banyak yg memberikan kesempatan untuk anak” atau org” yg mengalami kekurangan fisik spt Hasna Hasni di Matahari…skrg liat Ridho…sukses semua nya…Aamiin,” tambah netizen lainnya. Komentar-komentar ini menjadi bukti bahwa publik merindukan sosok-sosok inspiratif seperti Ridho di layar kaca.

Dampak Psikologis: Sebuah Transformasi Besar

Film Tanah Runtuh bukan sekadar proyek sekali jalan. Bagi Ridho, proses reading naskah hingga eksekusi syuting telah menjadi terapi yang luar biasa. Kepercayaan dirinya meledak. Ia yang dulu mungkin merasa dunianya terbatas oleh stigma, kini menemukan bahwa ia bisa menjadi pusat perhatian dalam pengertian yang positif.

Baca Juga:  Seragamnya Sederhana, Prestasinya Tak Main-Main: Kisah Satpam Raih Rekor MURI dengan Karya Ilmiah Terbanyak

Marina mengungkapkan bahwa perubahan ini terasa hingga ke rumah. “Bahkan setelah selesai syuting, di rumah ia masih sering dance dan acting dengan caranya sendiri,” tuturnya.

Bagi orang tua anak berkebutuhan khusus, melihat anaknya menemukan gairah hidup adalah kebahagiaan tertinggi. Ridho telah menemukan “panggungnya”. Kemampuan komunikasinya berkembang, rasa percaya dirinya tumbuh, dan yang paling penting, ia memiliki identitas baru: seorang aktor.

Pelajaran untuk Para Orang Tua

Kisah Ridho Khaliq Kurnia adalah cermin bagi kita semua. Sering kali, orang tua terjebak dalam rasa takut atau rasa kasihan terhadap anak-anak berkebutuhan khusus. Rasa takut membuat orang tua membatasi gerak anak, sementara rasa kasihan membuat orang tua meniadakan potensi anak dengan memberikan perlakuan “spesial” yang tidak perlu.

Keberanian keluarga Ridho untuk memberikan ruang bagi minat seninya adalah kunci. Mereka tidak mematok target tinggi agar Ridho menjadi aktor kelas dunia dalam semalam. Mereka hanya ingin “mencoba”. Dan dari “coba-coba” itu, Ridho justru melampaui ekspektasi.

Prestasi Ridho adalah bukti bahwa keterbatasan adalah persepsi, sedangkan potensi adalah realitas yang menunggu untuk dikembangkan. Ia mengajarkan kita bahwa dunia akan terbuka jika kita berani mengetuk pintunya. Sebagai orang tua, tugas utama kita bukanlah membentuk anak menjadi apa yang kita inginkan, melainkan menyediakan tanah yang subur bagi bakat mereka untuk tumbuh, apa pun bentuknya.

Ridho memang sedang berada di depan kamera, tetapi ia sebenarnya sedang memberi pelajaran bagi kita semua tentang arti hidup yang inklusif. Bahwa di balik setiap keterbatasan, selalu ada spektrum kemampuan yang belum terjamah, menanti untuk dilihat, dihargai, dan diberi kesempatan. Film Tanah Runtuh mungkin akan berakhir di bioskop, namun kisah Ridho baru saja dimulai, dan ia telah menjadi inspirasi bagi banyak keluarga di luar sana yang sedang berjuang mencari “sinar” bagi anak-anak istimewa mereka.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Aktor Down Syndrome Down Syndrome Film Tanah Runtuh Kisah Inspiratif Ridho Khaliq Kurnia Tanah Runtuh Vino G. Bastian
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Andini Permata

Link Video Andini Permata Kembali Viral, Lonjakan Pencarian Picu Rasa Penasaran Warganet

Viral Video ‘Chindo Adidas’, Ada Link Full 17 Menit?

Kemendag

Peringatan Darurat Digital! Komdigi Resmi Batasi TikTok Cs untuk Anak di Bawah 16 Tahun

Viral di TikTok! Video Chindo Adidas 8 Detik Bikin Warganet Berburu Link

Link Video tataror diburu netizen

TERBONGKAR! Fakta Dibalik Viral Video Tataror yang Bikin Netizen Tertipu

Ilustrasi berdoa

Jangan Lewatkan! Ini Keutamaan Luar Biasa di Malam Nuzulul Quran 2026

Terpopuler
  • Jadwal Penukaran Uang Baru di Bandung 2026 Resmi Dibuka, Ini 4 Lokasi Program SERAMBI BI
  • Link Video Mukena Pink ‘No Sensor’ Viral, Netizen Ramai Cari Versi Asli
  • ‘Mukena Pink’ Viral di TikTok: Pencarian Link Video Tanpa Sensor Ramai Jadi Sorotan
  • ‎Jangan Sampai Terlewat! Ini Waktu Adzan Maghrib Bandung Minggu 1 Maret 2026
  • Link Video No Sensor Ukhti Mukena Pink Viral, Versi Panjang Apa Isinya?
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.