Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Update Kasus Fitnah via WhatsApp: Polisi Periksa Oknum Pengurus Gereja di Bandung

Senin, 16 Maret 2026 15:51 WIB
Video Viral Ukhti Mukena Pink

Netizen Penasaran! Video Mukena Pink ‘No Sensor’ Viral, Banyak yang Buru Link Aslinya

Senin, 16 Maret 2026 15:14 WIB
kekerasan

Pura-pura Obati Nenek, Oknum Guru Ngaji di Garut Malah Cabuli Cucu Saat Warga Tarawih

Senin, 16 Maret 2026 15:03 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Update Kasus Fitnah via WhatsApp: Polisi Periksa Oknum Pengurus Gereja di Bandung
  • Netizen Penasaran! Video Mukena Pink ‘No Sensor’ Viral, Banyak yang Buru Link Aslinya
  • Pura-pura Obati Nenek, Oknum Guru Ngaji di Garut Malah Cabuli Cucu Saat Warga Tarawih
  • Kejutan Besar! Raline Shah Jadi Milea di Film Dilan ITB 1997, Adu Peran dengan Ariel NOAH
  • Tragedi di Pasar Soreang! Atap Blok 3 Runtuh Timpa Kios, Satu Orang Tewas
  • Guncang Pertahanan Israel, Iran Terjunkan Rudal Sejjil dalam Operasi Balasan Masif
  • Persib Tinggal 9 Laga Lagi! Duel Lawan Persija Jadi Penentu Gelar Juara
  • Heboh! Syekh Ahmad Al-Misry Ramai Dikaitkan dengan Ustaz Berinisial SAM yang Diduga Lecehkan Santri
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Senin, 16 Maret 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Ahmad Sahroni Kembali Tampil ke Publik Lewat Momen Wisuda Doktor Hukum

By Aga GustianaRabu, 15 Oktober 2025 07:48 WIB4 Mins Read
Ahmad Sahroni diwisuda. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Politikus Ahmad Sahroni kembali menjadi sorotan publik setelah sebelumnya rumahnya dijarah pada akhir Agustus 2025. Setelah sempat muncul secara virtual dalam Musyawarah Nasional (Munas) Ikatan Motor Indonesia (IMI) pada pertengahan September, Sahroni kini tampil langsung di acara Wisuda Sarjana dan Pascasarjana Universitas Borobudur, Jakarta, Selasa (14/10/2025).

Mengenakan toga hitam berlis merah khas Program Studi Hukum, Sahroni hadir sebagai salah satu peserta wisuda. Dalam tayangan YouTube resmi Universitas Borobudur, tampak dirinya tersenyum dan menyalami para petinggi kampus saat dipanggil ke panggung.

Sahroni meraih gelar doktor melalui disertasi berjudul “Pemberantasan Korupsi Melalui Prinsip Ultimum Remidium: Suatu Strategi Pengembalian Kerugian Keuangan Negara.” Ia juga terlihat berfoto bersama Bambang Soesatyo (Bamsoet), mantan Ketua MPR RI yang turut hadir dalam acara tersebut.

Bamsoet, yang menjabat sebagai Ketua MPR RI ke-15 sekaligus Anggota Sidang Senat Terbuka Universitas Borobudur, menjelaskan bahwa tahun ini kampus meluluskan 594 mahasiswa dari program diploma tiga, sarjana, magister (S-2), hingga doktor (S-3).

Beberapa tokoh yang ikut diwisuda antara lain Ahmad Sahroni (NasDem), Trimedya Panjaitan (PDIP), Hamid Noor (PKS), Bupati Banyuasin Askolani, Mayjen TNI AD Endro Satoto, Hery Chariansyah, Taufan Zakaria, Ricky Setiawan Anas, dan Brigjen Pol I Gusti Gede Maha Andika. Seluruhnya merupakan lulusan Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Borobudur.

“Momentum wisuda sarjana di berbagai perguruan tinggi harus dimaknai sebagai tonggak lahirnya generasi baru yang siap meraih masa depan gemilang. Wisuda bukan sekadar seremoni penyerahan ijazah, melainkan momentum strategis untuk melahirkan sumber daya manusia unggul, adaptif, dan inovatif yang mampu bersaing di kancah global menuju Indonesia Emas 2045,” ujar Bamsoet dalam pidatonya.

Baca Juga:  Cawagub Gita KDI Berkomitmen Tingkatkan Pendidikan Santri dan Wirausaha di Jabar

Acara wisuda turut dihadiri Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, pejabat LLDIKTI Wilayah III, Pemprov DKI, Rektor Bambang Bernanthos, serta jajaran civitas akademika Universitas Borobudur.

Bamsoet juga menyinggung persoalan serius di dunia kerja. Berdasarkan data BPS Februari 2025, tingkat pengangguran terbuka nasional mencapai 4,76 persen atau sekitar 7,28 juta orang. Dari jumlah itu, lulusan perguruan tinggi menyumbang 6,23 persen atau lebih dari satu juta orang. Lulusan SMK masih menduduki tingkat pengangguran tertinggi, yaitu 8 persen.

Baca Juga:  Bapenda Jabar Siapkan Langkah Strategis Hadapi Tantangan Ekonomi Global

“Ini kontradiksi besar. Di satu sisi, kita memiliki jutaan sarjana baru setiap tahun. Namun di sisi lain, masih banyak yang belum terserap pasar kerja karena kompetensi yang dimiliki belum sepenuhnya sesuai kebutuhan industri. Artinya, masih banyak hal yang perlu dibenahi dalam sistem pendidikan kita,” tegasnya.

Menurutnya, ketimpangan antara kurikulum pendidikan tinggi dan kebutuhan industri menjadi akar masalah. Pendidikan terlalu fokus pada teori, sementara pengalaman praktik sering kali hanya formalitas. Ia menilai mahasiswa seharusnya sejak awal berinteraksi dengan dunia kerja agar memiliki bekal menghadapi tantangan nyata.

Bamsoet kemudian mengapresiasi program Merdeka Belajar–Kampus Merdeka (MBKM) dari Kemendikbud. Program Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB) yang melibatkan lebih dari 500 ribu mahasiswa dan 2.000 perusahaan, serta program Matching Fund dengan dana Rp2,3 triliun pada 2025, disebut sebagai langkah penting memperkuat sinergi kampus dan industri.

“Langkah-langkah ini harus diperkuat. DPR siap mendorong regulasi agar kemitraan kampus, industri, dan pemerintah menjadi standar nasional. Jangan sampai kebijakan bagus berhenti di tataran konsep,” ujar Bamsoet.

Baca Juga:  Saling Balas Gimik Medsos, Pengamat Sebut Peluang RK Lebih Besar dari Sahroni di Pilgub DKI

Ia juga menyoroti pentingnya pendampingan pascawisuda melalui career center aktif dan tracer study untuk memperbaiki kurikulum secara berkelanjutan.

“Data BPS tahun 2025 menunjukkan sekitar 55 persen pekerja Indonesia masih berada di level menengah ke bawah. Jika pendidikan tinggi gagal menciptakan mobilitas vertikal, maka bonus demografi justru bisa menjadi beban. Lulusan sarjana tidak cukup hanya memiliki ijazah. Mereka harus punya kemampuan belajar cepat, berpikir kreatif, dan adaptif terhadap teknologi baru,” kata Bamsoet.

Bamsoet menambahkan, perubahan global menuju ekonomi digital dan hijau akan mengubah struktur pekerjaan secara besar. Berdasarkan data World Economic Forum, 23 persen pekerjaan akan terdampak otomatisasi, namun 69 juta pekerjaan baru muncul dengan tuntutan keahlian digital, analisis data, dan inovasi sosial.

“Generasi sarjana hari ini akan menjadi pengambil keputusan di tahun 2045. Dua dekade ke depan, mereka akan menentukan apakah Indonesia benar-benar menjadi negara maju atau tertinggal di gelombang perubahan. Karena itu, wisuda tidak boleh menjadi titik akhir, melainkan titik awal tanggung jawab baru,” pungkasnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Ahmad Sahroni Bamsoet dpr Pendidikan Universitas Borobudur Wisuda Doktor
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Update Kasus Fitnah via WhatsApp: Polisi Periksa Oknum Pengurus Gereja di Bandung

kekerasan

Pura-pura Obati Nenek, Oknum Guru Ngaji di Garut Malah Cabuli Cucu Saat Warga Tarawih

Tragedi di Pasar Soreang! Atap Blok 3 Runtuh Timpa Kios, Satu Orang Tewas

Guncang Pertahanan Israel, Iran Terjunkan Rudal Sejjil dalam Operasi Balasan Masif

Heboh! Syekh Ahmad Al-Misry Ramai Dikaitkan dengan Ustaz Berinisial SAM yang Diduga Lecehkan Santri

Mudik 2026 Makin Nyaman! Ini Daftar Rest Area Tol Jawa Barat dengan Fasilitas Lengkap

Terpopuler
  • Viral Video Kebun Sawit Ibu Tiri vs Anak Tiri, Apa Isinya? Hati-hati Jebakan Batman!
  • Video Aksi Ibu Tiri vs Anak Tiri di Kebun Sawit Viral, Link Diburu Netizen
  • Viral video ukhti mukena pink.
    Hati-hati! Link Video Viral Mukena Pink ‘No Sensor’ Bisa Sebarkan Malware
  • Video Viral Ukhti Mukena Pink
    Waspada Klaim Full Durasi Video Ukhti Mukena Pink ‘No Sensor’, Ini Faktanya
  • Video Viral Ukhti Mukena Pink
    Fenomena Ukhti Mukena Pink Viral di TikTok, Pakar Ingatkan Bahaya Tersembunyi di Balik Link Video
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.