bukamata.id – Sebuah video sederhana dari seorang anak berusia delapan tahun sontak menjadi pusat perbincangan nasional. Video itu berisi ulasan linguistik tentang pidato berbahasa Inggris yang disampaikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Tidak lebih dari beberapa menit, namun cukup untuk memicu diskusi panjang: apakah wajar seorang bocah mengomentari kemampuan bahasa seorang pejabat tinggi negara? Atau justru ini bukti bahwa literasi publik mengenai bahasa semakin berkembang?
Perdebatan tersebut bermula dari komentar Kinara Arnhantyo, atau lebih lengkapnya Kinara Arnintya Pratista, konten kreator cilik asal Semarang yang terkenal karena kefasihan Bahasa Inggrisnya dengan aksen British yang nyaris sempurna. Ulasannya yang lugas, jujur, dan disampaikan apa adanya membuat sebagian orang terpesona, sementara yang lain mempertanyakan etis tidaknya seorang anak masuk ke ranah yang berpotensi politis.
Namun sebelum perdebatan meluas, penting untuk memahami latar peristiwa yang memicu polemik tersebut.
Pidato Gibran di Afrika dan Sorotan Publik
Pada 21 November 2025, Gibran Rakabuming Raka menyampaikan pidato berbahasa Inggris di Indonesia–Africa CEO Forum, Johannesburg. Forum tersebut menjadi agenda awal rangkaian kunjungan kerja jelang KTT G20, dengan fokus memperkuat kemitraan ekonomi Indonesia dan negara-negara Afrika.
Melalui pidato tersebut, Gibran menekankan pentingnya kerja sama yang lebih inklusif dan berkelanjutan—sebuah pesan yang dibalut dalam bahasa yang selama ini tidak sering ia gunakan di ruang publik nasional.
Pidato itu kemudian beredar luas di media sosial. Di sinilah Kinara masuk.
Sebagai konten kreator yang sering membuat ulasan terkait bahasa, ia mengunggah video berisi penilaiannya terhadap kemampuan Inggris sang Wakil Presiden. Tanpa pretensi, ia memberikan komentar yang terdengar natural untuk anak seusianya. Di video itu, ia mengatakan: “Bahasa Inggris-nya bagus dan jelas kok, mengalir, dan kayaknya dia udah sering pakai bahasa Inggris.”
Meski memberi apresiasi, Kinara juga menyampaikan satu catatan kecil soal pengucapan kata “the”. Bukan kritik tajam, melainkan masukan teknis yang biasa ia berikan dalam konten edukasinya.
“Aku agak concern ke beberapa pengucapan, kayak pas ngucapin THE,” ujarnya.
Tetap, ia menegaskan bahwa kemampuan Gibran sudah sangat baik.
“Keseluruhan udah oke banget sih, dan udah dipastikan bukan level pemula menurutku,” lanjutnya.
Komentar itu disampaikan dengan polos, tanpa muatan politik. Tapi dunia maya tak selamanya membaca sesuatu secara sederhana.
Respons Gibran dan Publik yang Terbelah
Tak perlu waktu lama, Gibran memberikan respon di kolom komentar unggahan tersebut. Dengan santai ia menulis: “Terima kasih Kinara, semangat ya,” sebuah tanggapan singkat yang memperlihatkan apresiasi.
Namun di sisi lain, warganet justru terpecah. Sebagian merasa ulasan tersebut tidak tepat dilakukan di momen politik sensitif.
Sebagian netizen berpendapat bahwa meskipun Kinara berbakat, melibatkan anak dalam penilaian tentang pejabat negara dianggap berpotensi memicu gesekan politik. Ada pula yang berkomentar bahwa ulasan bahasa semestinya diberikan oleh tenaga profesional, bukan oleh anak kecil, seberapa pun fasihnya ia berbicara.
Tetapi tak sedikit pula yang membela Kinara. Mereka menilai ia hanya melakukan hal yang selama ini ia lakukan: memberikan edukasi linguistik. Bagaimanapun, ia tidak menyerang, menyindir, atau melontarkan komentar politis. Ia sekadar menganalisis bahasa.
Para pembela Kinara menyebut, justru wajar jika kemampuan berbahasa dibahas oleh siapa pun yang kompeten, tak peduli usia. Banyak pula yang menyoroti bahwa respons Gibran sendiri menunjukkan ia tidak merasa tersinggung—lalu mengapa warganet harus memperbesar isu?
Fenomena ini memperlihatkan betapa cepat opini publik terbelah ketika sebuah konten bertemu dengan konteks politik. Meski berasal dari ruang yang sepenuhnya netral, reaksi publik bergerak secara emosional sesuai persepsi masing-masing.
Siapa Kinara? Jejak Seorang Talenta Linguistik Cilik
Di tengah perdebatan, publik kembali bertanya: siapa sebenarnya Kinara Arnhantyo?
Kinara Arnintya Pratista adalah seorang konten kreator cilik asal Semarang yang sejak 2023 dikenal karena kefasihan Bahasa Inggrisnya. Ia menggunakan aksen British yang natural, bahkan membuat banyak warganet merasa minder ketika menontonnya. Kala itu, di usia delapan tahun, ia masih duduk di kelas dua SD Mondial.
Kinara dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang aktif menggunakan Bahasa Inggris dalam keseharian. Hal ini membuatnya lebih nyaman berbicara dalam bahasa tersebut dibanding Bahasa Indonesia—pengakuan jujur yang justru semakin memperkuat citranya sebagai talenta muda di bidang linguistik.
Ia kerap mengunggah konten edukatif berupa tips pengucapan, percakapan ringan, hingga analisis linguistik sederhana. Salah satu video yang membuatnya viral adalah ketika ia mewawancarai orang asing sepenuhnya dalam Bahasa Inggris. Gayanya santai, percaya diri, namun tetap terstruktur—kombinasi yang membuat banyak orang terkesan.
Beberapa netizen bahkan bercanda bahwa mereka “takut” berbicara dengan Kinara karena aksen British-nya terdengar sangat meyakinkan. Banyak pula yang menilai ia berpotensi besar di dunia kreatif, pendidikan, maupun industri bahasa.
Konsistensi kontennya membuktikan bahwa paparan bahasa asing sejak dini benar-benar dapat menghasilkan tingkat kefasihan tinggi. Kini, akun Instagram @kinaraseto yang dikelolanya dan keluarganya memiliki lebih dari 923 ribu pengikut—jumlah yang terus bertambah seiring meningkatnya perhatian publik.
Ketika Bahasa, Politik, dan Media Sosial Saling Bertemu
Kasus Kinara dan pidato Gibran membuka ruang diskusi yang lebih besar: tentang batas antara edukasi dan politik, tentang bagaimana anak-anak tampil di ruang digital, dan tentang respons publik yang kian sensitif terhadap figur politik.
Pada dasarnya, ulasan Kinara adalah ekspresi edukatif yang sesuai dengan karakter kontennya. Namun ketika sosok yang diulas adalah wakil presiden, konteks pun berubah. Reaksi publik mencerminkan betapa kompleks lanskap digital Indonesia hari ini—segala sesuatu bisa menjadi viral, dan apa pun bisa ditarik ke ranah politik.
Tetap, peristiwa ini juga memperlihatkan bahwa ruang publik tidak hanya diisi oleh orang dewasa. Anak-anak seperti Kinara muncul dengan kemampuan luar biasa yang tidak bisa dikesampingkan hanya karena usia. Justru, keberadaan mereka memperlihatkan bahwa literasi digital dan linguistik Indonesia sedang bergerak ke arah yang lebih beragam, bahkan lebih maju.
Di tengah berbagai perdebatan, satu hal yang pasti: baik pidato Gibran maupun komentar Kinara menunjukkan bahwa kemampuan berkomunikasi lintas bahasa semakin penting dalam diplomasi, pendidikan, dan kehidupan sehari-hari.
Dan di era media sosial, suara siapa pun—termasuk seorang anak—bisa menjadi bagian dari percakapan nasional.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










