Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Bukan Ilustrator, KAI Diduga Andalkan AI untuk Livery HUT ke-81

Selasa, 27 Oktober 2026 21:50 WIB

Polisi Amankan 8 Pemuda di Terminal Tegalega, Golok hingga Ganja Ditemukan di Mobil

Selasa, 27 Oktober 2026 20:43 WIB

Topeng ‘Sultan Dermawan’ Retak? Aisar Khaled Diisukan Bawa Kabur Uang Rp5,7 Miliar

Selasa, 27 Oktober 2026 20:29 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Bukan Ilustrator, KAI Diduga Andalkan AI untuk Livery HUT ke-81
  • Polisi Amankan 8 Pemuda di Terminal Tegalega, Golok hingga Ganja Ditemukan di Mobil
  • Topeng ‘Sultan Dermawan’ Retak? Aisar Khaled Diisukan Bawa Kabur Uang Rp5,7 Miliar
  • Tiga Pemanjat Tebing Indonesia Tembus Top 3 Ranking Dunia IFSC 2026
  • Edankeun di Asia! Ini Daftar Tempat Nobar Persib vs Melbourne Victory di Bandung
  • Upaya Penyelundupan Sabu saat Besuk, Pengunjung Lapas Banceuy Sembunyikan Barang di Ikat Rambut
  • Viral Gelang Emas 41 Gram Milik Pasien Diduga Raib di RSUD Cideres Majalengka
  • Sejajar Al Nassr, Persib Tembus Peringkat 22 Poin Klub AFC
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Selasa, 27 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Angkot Pintar ‘Angklung’ Mulai Diuji, Sopir di Bandung Galau

By Muhammad Rafki Razif KiransyahRabu, 6 Agustus 2025 16:00 WIB3 Mins Read
Sopir angkot Kota Bandung. Foto: bukamata.id/ M Rafki.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Wacana pengoperasian Angkot Pintar di Kota Bandung mulai menyita perhatian para sopir angkutan kota.

Modernisasi sistem transportasi ini dinilai sebagai langkah penting, namun menyisakan kegelisahan, terutama di kalangan sopir senior yang khawatir tersingkir dan kehilangan mata pencaharian.

Program Angkot Pintar yang diusung Pemerintah Kota Bandung dirancang untuk merevolusi layanan angkutan kota dengan sistem trayek berbasis wilayah, integrasi GPS, pembayaran non-tunai, serta pengoperasian berbasis aplikasi. Meski terdengar menjanjikan, sejumlah sopir mengaku belum mendapat sosialisasi langsung dan mempertanyakan kejelasan masa depan mereka.

“Program ini bagus, tapi belum ada sosialisasi langsung. Saya tahu cuma dari media sosial,” ujar Rihmat, sopir angkot yang sudah puluhan tahun beroperasi di Bandung, Rabu (6/8/2025).

Baca Juga:  Kebijakan Dedi Mulyadi Malah Tambah Masalah Baru, Warganet Singgung soal Penjajahan

Ia mengakui sistem saat ini semrawut dan butuh pembenahan. Namun, ia mengingatkan bahwa transformasi tidak bisa dilakukan sepihak.

“Kalau nanti sopir digaji dan ada batas usia, bagaimana nasib kami yang sudah di atas 50 tahun? Jangan sampai perubahan ini malah mematikan kami,” tegasnya.

Hal serupa disampaikan oleh Ismail (61), sopir angkot yang sudah merasakan transisi dari era Bemo.

“Aturan boleh-boleh saja. Tapi kendaraan ini banyak, belum jelas mau dikemanakan. Dulu juga sempat ada wacana aplikasi, tapi tak pernah selesai,” katanya.

Ia mengungkapkan bahwa kondisi saat ini ekonomi sopir angkot sudah terjepit, tidak bisa mencapai target yang harus disrtorkan perhari.

Baca Juga:  Viral! Kabid Dishub Bogor Briefing Sopir Angkot Jangan Asal Jawab Pertanyaan Dedi Mulyadi

“Buat setoran aja susah, apalagi buat kebutuhan rumah,” imbuhnya.

Sementara itu, Dadang, sopir lainnya, juga mengeluhkan minimnya informasi dari dinas terkait.

“Kami butuh kepastian. Jangan cuma diumumkan di media, ajak kami bicara. Kalau gak bisa narik lagi, kami makan dari mana?”

Di sisi lain, sebagian sopir muda menyambut baik perubahan. Panca, yang juga menjadi ojek daring, merasa lebih siap karena terbiasa dengan sistem digital.

“Saya biasa pakai aplikasi. Tapi pemerintah harus tetap perhatikan nasib sopir senior. Harus ada pelatihan, bantuan transisi, dan jaminan penghasilan,” ujarnya.

Ion, sopir lain yang ditemui di terminal, menyoroti persoalan penghasilan. Ia mendukung pembaruan sistem trayek asalkan tidak berdampak pada jumlah penumpang.

Baca Juga:  Larangan Angkot Beroperasi Berbuah Manis, Arus Balik Lebaran di Puncak Bogor Diklaim Lancar

“Kalau pendapatan tetap aman, ya gak masalah. Tapi kalau rutenya berubah dan penumpang sepi, kami yang rugi,” kata Ion. Ia menyebut saat ini penghasilan sopir rata-rata hanya Rp100 ribu per hari.

Berbeda dengan Panca dan Ion, Ferry (40) mengaku menolak rencana Angkot Pintar.

“Gak setuju atuh. Sekarang aja sepi, kadang sehari cuma bawa satu penumpang. Buat bensin aja gak cukup,” keluhnya.

Meski beragam, suara para sopir angkot di Bandung berpadu pada satu hal mereka ingin dilibatkan dalam setiap tahap perubahan.

“Kami ini bukan penghalang kemajuan. Kami bagian dari solusi. Asal diberi tempat,” tegas Dadang menutup perbincangan.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

sopir angkot
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Bukan Ilustrator, KAI Diduga Andalkan AI untuk Livery HUT ke-81

Polisi Amankan 8 Pemuda di Terminal Tegalega, Golok hingga Ganja Ditemukan di Mobil

Upaya Penyelundupan Sabu saat Besuk, Pengunjung Lapas Banceuy Sembunyikan Barang di Ikat Rambut

Viral Gelang Emas 41 Gram Milik Pasien Diduga Raib di RSUD Cideres Majalengka

Tepis Penolakan Warga, DPKP Bandung Tegaskan Skatepark Taman Teuku Umar Hanya 30 Persen

Segera cair bansos KLJ Agustus 2025,

Sudah Terdaftar Bansos Tahap 4? Cek di cekbansos.kemensos.go.id Pakai NIK

Terpopuler
  • Megalomania Arsitektur: Ketika Kota Bandung Dipaksa Berbaju Kerajaan
  • Lomba Coding SD-SMP 2026 Dibuka, Siswa Ditantang Bikin Solusi Bencana Alam
  • Kisah Santri Cipasung yang Berhasil Mengubah Sejarah Pendidikan Islam Indonesia
  • Delapan Mahasiswa di Bandung Diamankan Polisi Usai Demo Dua Tahun Prabowo-Gibran
  • Dikukuhkan di Depan Gubernur Lemhannas, Tatang Suherman Siap Gerakkan FWK Jabar
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.