bukamata.id – Ancaman gempa besar dari Sesar Lembang kembali menjadi perhatian serius. Patahan aktif sepanjang 29 kilometer yang berada hanya sekitar 10 km di utara Kota Bandung ini berpotensi memicu gempa dengan kekuatan magnitudo 6,5 hingga 7. Jika terjadi, dampaknya bisa merusak infrastruktur vital dan mengancam jutaan penduduk di Bandung Raya dan sekitarnya.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), aktivitas sesar ini dapat menimbulkan guncangan dengan intensitas VII–VIII MMI, setara dengan getaran kuat hingga sangat kuat yang berpotensi menyebabkan kerusakan sedang hingga berat.
Mengapa Sesar Lembang Sangat Berbahaya?
Periset bidang Geologi Gempa Bumi BRIN, Mudrik R. Daryono, menegaskan bahwa Sesar Lembang adalah patahan geser aktif yang terus bergerak.
“Bukti nyata bisa dilihat dari pergeseran Sungai Cimeta yang telah bergeser sejauh 120 meter, bahkan di beberapa lokasi mencapai 460 meter,” ujar Mudrik, Minggu (27/9/2025).
Baca Juga: Bandung Terancam Gempa Besar, Sesar Lembang Bergerak Setiap Tahun
Ia menjelaskan, pergeseran itu didominasi oleh gerakan mendatar sekitar 80–100 persen, dengan sedikit pergeseran vertikal. Penelitian terbaru mencatat sesar ini bergeser sekitar 1,9 hingga 3,4 milimeter per tahun.
“Pergeseran sebesar itu menjadi bukti nyata bahwa di masa lalu pernah terjadi gempa dengan kekuatan magnitudo 6,5 hingga 7,” tambahnya.
Daerah Paling Rawan Jika Sesar Lembang Aktif
Berdasarkan kajian BMKG dan BRIN, wilayah yang berisiko jika Sesar Lembang memicu gempa dibagi dalam tiga zona:
- Zona Merah (Risiko Tinggi): Kota Cimahi (Cimahi Selatan, Cimahi Utara), Kabupaten Bandung Barat (Lembang, Parongpong, Cisarua), dan Bandung Utara (Dago, Ciumbuleuit, Cidadap).
- Zona Kuning (Risiko Sedang): Kota Bandung bagian tengah dan selatan (Lengkong, Buahbatu, Gedebage), serta Kabupaten Bandung (Soreang, Banjaran).
- Zona Hijau (Risiko Rendah): Kabupaten Sumedang (Jatinangor) dan Garut bagian utara.
Baca Juga: Bandung di Atas Retakan, Urgensi Siaga Hadapi Sesar Lembang
Selain kerusakan bangunan, potensi longsor juga tinggi, khususnya di wilayah pegunungan seperti Lembang dan Parongpong.
Jejak Gempa Purba dan Ancaman Masa Depan
Hasil penelitian paleoseismologi mengungkap Sesar Lembang pernah memicu beberapa gempa besar di masa lalu. Peristiwa terbaru tercatat pada abad ke-15, sementara jejak terlama ditemukan sekitar 19 ribu tahun lalu.
“Jika mengacu pada siklus ulang gempa besar, maka secara teoritis gempa besar berikutnya dapat terjadi paling lambat sekitar tahun 2170. Artinya, secara waktu, perkiraan siklus ini sudah relatif dekat dengan masa sekarang,” jelas Mudrik.
Ia juga menegaskan, ilmu kebumian belum mampu memastikan kapan gempa besar itu akan terjadi. “Karena itulah, sikap paling bijak yang bisa dilakukan adalah tetap waspada dan menyiapkan langkah mitigasi sejak dini,” ujarnya.
Baca Juga: Potensi Gempa Sesar Lembang 6,5-7 Magnitudo, BMKG Ungkap Wilayah yang Terdampak Signifikan
Mitigasi dan Kewaspadaan Masyarakat
BRIN bersama BMKG, BPBD, dan pemerintah daerah terus melakukan pemetaan, riset, serta edukasi publik. Tujuannya agar masyarakat Bandung Raya tidak panik, melainkan lebih siap menghadapi potensi gempa.
Dengan langkah mitigasi yang tepat—mulai dari memperkuat bangunan, memahami jalur evakuasi, hingga latihan kesiapsiagaan—risiko bencana dapat ditekan meskipun ancaman gempa besar dari Sesar Lembang tidak bisa dihindari.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











