bukamata.id – Masalah banjir yang kerap melanda Kota Bandung merupakan persoalan klasik yang muncul dari kombinasi beberapa faktor, mulai dari curah hujan tinggi, sistem drainase yang belum memadai, hingga penyumbatan saluran air akibat sampah dan tata guna lahan yang buruk.
Kondisi ini terutama terasa di wilayah rendah dan daerah pertemuan aliran air dari kawasan hulu, seperti Bandung Utara.
Titik Banjir dan Dampak Genangan
Berdasarkan data Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Bandung, banjir terjadi di sepuluh titik, antara lain Jalan Terusan Pasirkoja, Kopo, Pagarsih, Cibuntu, Astanaanyar, Jupiter Barat, Cihampelas, Tubagus Ismail, Junjunan, dan RW 06 Kelurahan Maleber, Kecamatan Andir.
Mayoritas genangan disebabkan oleh luapan sungai, tersumbatnya tali air, dan penyempitan drainase. Ketinggian air rata-rata mencapai 30–50 sentimeter dengan durasi rendaman 30–65 menit.
Imbauan Wali Kota Bandung: Warga Harus Siaga
Memasuki musim hujan, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengingatkan masyarakat untuk waspada terhadap bencana, seperti banjir, genangan air, dan pohon tumbang. Hal ini disampaikan saat kegiatan Siskamling Siaga Bencana di Kelurahan Cibuntu, Rabu (22/10/2025).
“Musim hujan sudah mulai datang, jadi kita semua harus siap menghadapi risiko yang mungkin terjadi. Pencegahan lebih baik daripada penanganan,” ujar Farhan.
Ia juga meminta dinas terkait memperkuat koordinasi dan menjaga kebersihan saluran air, terutama di Jalan Sudirman dan sekitar Pasar Ciroyom.
Farhan menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat.
“Mari gotong royong menjaga lingkungan, jangan buang sampah sembarangan, dan laporkan segera potensi bahaya. Siaga itu bukan panik, tapi siap menghadapi segala kemungkinan,” katanya.
Infrastruktur dan Mitigasi Banjir
Pemkot Bandung telah menyiapkan 27 rumah pompa di wilayah rawan banjir serta 15 kolam retensi dengan target total 30 titik. Wakil Wali Kota Bandung, Erwin, menekankan pentingnya program Mapag Hujan, kerja sama antara pemerintah dan masyarakat untuk membersihkan saluran air.
“Program ini memastikan drainase tetap lancar dan meminimalkan genangan,” ujar Erwin.
Selain itu, Pemkot secara rutin meninjau pohon tua di ruas jalan utama, melakukan perawatan dan uji kekuatan untuk mengurangi risiko pohon tumbang akibat hujan dan angin kencang.
Langkah struktural lainnya meliputi pembangunan kanal baru, pelebaran saluran, sumur imbuhan dalam, serta penegakan aturan larangan pembangunan liar di bantaran sungai.
“Saluran banyak tersumbat bahkan tertutup bangunan. Itu tidak boleh dibiarkan,” tegas Farhan.
Peran Masyarakat dan Relawan
Di tingkat kewilayahan, RW diminta mengaktifkan relawan siaga bencana, sistem peringatan dini, dan ronda lingkungan.
Farhan menekankan kolaborasi warga dan pemerintah sebagai kunci keberhasilan mitigasi.
“Drainase bisa kita benahi bertahap, tetapi kewaspadaan warga harus berjalan mulai sekarang,” katanya.
Tanggapan Warga dan Politisi
Komentar masyarakat terkait banjir di Bandung mencuat di media sosial. Akun Instagram @infobdgcom mengutip beberapa warganet:
“Siap-siap hungkul bari teu gadag mah kumaha atuh. Pasteur dua kali banjir jadi walungan,” tulis @aku***.
“Banyak kabel di gorong-gorong. Jalan sekarang kayak arum jeram. Heran,” tulis @her***.
“Disambut banjir dan daun yang terbawa air, sampah tidak diangkut,” tulis @lin***.
Upaya Terpadu untuk Bandung Aman dari Banjir
Banjir Kota Bandung bukan sekadar persoalan musiman, melainkan kombinasi faktor alam dan manusia. Pemkot Bandung menargetkan solusi terintegrasi melalui rekayasa teknis, penegakan aturan, dan kesiapsiagaan warga.
Sinergi ini diharapkan mampu mengurangi risiko banjir, longsor, dan pohon tumbang, sehingga Bandung lebih aman menghadapi musim hujan.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










