bukamata.id – Pagi baru saja dimulai di SD Negeri Gembongan, Kapanewon Sentolo, Kabupaten Kulon Progo. Suara anak-anak membaca pelajaran terdengar bersahut-sahutan dari dalam kelas, berpadu dengan gesekan kursi dan tawa kecil yang sesekali pecah. Namun di antara suasana sekolah dasar yang biasanya riuh dan ringan, ada satu pemandangan yang membuat siapa pun berhenti sejenak.
Di salah satu bangku, seorang siswi kelas 3 duduk dengan tubuh tegap, matanya fokus pada buku pelajaran. Tangannya lincah menyalin tulisan dari papan tulis. Di sampingnya, bukan teman sebaya yang duduk, melainkan seorang balita yang tampak tenang dengan aktivitasnya sendiri.
Siswi itu adalah Ariendra Raela Irgantari, 9 tahun. Sementara balita yang setia berada di sisinya adalah sang adik, Reyfan Elcaraka Fahturohman, yang baru berusia 4 tahun.
Bagi sebagian orang, masa kecil adalah waktu untuk bermain dan belajar tanpa beban. Tetapi bagi Raela, hari-harinya juga diisi dengan tanggung jawab besar—menjadi kakak sekaligus pengasuh.
Dua Tas, Dua Dunia
Hampir setiap pagi, Raela berangkat ke sekolah dengan dua tas di pundaknya. Satu tas berisi buku pelajaran, pensil warna, dan pekerjaan rumah. Tas lainnya berisi botol susu, camilan, serta kebutuhan adiknya selama berada di sekolah.
Ia menggandeng Reyfan melewati halaman sekolah, memastikan langkah kecil adiknya tetap seirama dengannya.
Tak banyak yang tahu, rutinitas itu lahir dari keadaan yang tidak mudah. Ibu mereka, Rubiyanti (36), tengah berjuang melawan kanker payudara. Kondisi kesehatannya menuntut serangkaian pemeriksaan dan terapi rutin, termasuk radioterapi di RSPAU Hardjolukito, Banguntapan, Bantul.
Ketika ditanya mengapa selalu membawa adiknya, Raela menjawab dengan polos, tanpa drama.
“Soalnya mama radioterapi,” ujarnya singkat.
Jawaban sederhana itu menyimpan realitas yang jauh lebih berat dari yang mampu diucapkan anak seusianya.
Tak Ada Pilihan Lain
Di rumah kecil mereka, pilihan memang terasa terbatas. Rubiyanti adalah orang tua tunggal. Saat kesehatannya menurun, tak ada banyak tangan yang bisa membantu menjaga Reyfan.
“Ya karena nggak ada yang momong (menjaga) di rumah itu. Mau minta bantuan ke siapa juga, bingung nggak punya biaya untuk membayarnya, sehari-harinya,” ungkap Rubiyanti.
Kalimat itu menggambarkan situasi yang kerap dihadapi banyak keluarga—ketika sakit bukan hanya soal tubuh, tetapi juga tentang bertahan secara ekonomi dan emosional.
Akhirnya, tanpa banyak diskusi panjang, Raela mengambil peran itu. Ia menjaga adiknya bahkan di sela-sela pelajaran berlangsung.
Yang mengejutkan, ia menjalaninya seolah itu bagian alami dari hidup.
Tetap Menjadi Anak-Anak
Meski memikul tanggung jawab besar, Raela tidak kehilangan cahaya masa kecilnya. Guru-gurunya mengenalnya sebagai anak yang ceria dan tekun. Ia jarang terlihat murung, apalagi mengeluh.
Di tengah pelajaran, ia tetap mengangkat tangan saat ingin bertanya. Saat Reyfan mulai gelisah, Raela akan menepuk pelan atau membisikkan sesuatu untuk menenangkannya, lalu kembali fokus pada buku.
Ketika ditanya apakah keberadaan adiknya mengganggu proses belajarnya, Raela kembali menjawab dengan polos.
“Seneng gak papa, gak (terganggu bawa adik ke sekolah),” kata Raela.
Ada ketulusan dalam jawabannya—seolah kebersamaan dengan sang adik justru menjadi sumber kekuatan.
Sekolah yang Memilih Berempati
Pihak SD Negeri Gembongan memahami kondisi keluarga kecil ini. Alih-alih melarang, sekolah justru memberi izin Reyfan berada di kelas.
Balita itu biasanya diberikan aktivitas ringan seperti mewarnai atau bermain, sehingga tidak mengganggu jalannya pelajaran.
Kepala SD Negeri Gembongan, Pri Hastuti Komarul, menilai situasi ini menghadirkan pelajaran penting bagi siswa lain.
“Secara tidak langsung menumbuhkan pendidikan karakter anak,” ujarnya.
Di ruang kelas itu, murid-murid belajar sesuatu yang tak tertulis di buku: empati, tanggung jawab, dan arti keluarga.
Bertahan di Tengah Sepi
Bagi Rubiyanti, perjuangan melawan penyakit ternyata bukan satu-satunya ujian. Ia mengaku menjalani masa sulit ini hampir tanpa dukungan keluarga besar.
“Jujur aja dari saya sakit, keluarga saya dekat tapi nggak ada yang nengok saya ke sini. Nggak ada sama sekali.
Maksudnya, tego nyawang sehatnya (tega melihat pas sehat), tego nyawang lorone (tega melihat pas sakit) gitu ya. Tapi enggak.
Ternyata saya tunggu-tunggu, juga nggak ada yang ngeruhke (menyapa) saya gitu. Makanya saya berusaha sendiri, berusaha menyelesaikan masalah saya sendiri gitu loh,” kata Rubiyanti.
Ada rasa kecewa yang terselip, tetapi juga keteguhan. Ia memilih berdiri di atas kakinya sendiri, meski jalannya tidak mudah.
Syukurlah, bantuan mulai datang dari berbagai pihak, termasuk yayasan, Disdikpora, dan DPRD Kulon Progo. Dukungan tersebut sedikit meringankan beban yang selama ini ia pikul sendirian.
Keteladanan dari Anak Sembilan Tahun
Kisah Raela tak hanya menyentuh hati orang-orang di sekolahnya. Kepala Disdikpora Kulon Progo, Nur Wahyudi, bahkan menyebutnya sebagai anak dengan keteladanan luar biasa.
Perhatian juga datang dari Komisi IV DPRD Kulon Progo yang berkomitmen mengawal keberlanjutan pendidikan Raela agar hak-haknya sebagai anak tetap terpenuhi.
Sebab di balik semua tanggung jawab yang ia jalani, Raela tetaplah seorang anak yang berhak bermimpi.
Mimpi yang Tumbuh dari Luka
Pengalaman melihat ibunya berjuang melawan penyakit ternyata menumbuhkan cita-cita besar dalam diri Raela.
Ia ingin menjadi dokter. Lebih dari itu, ia bermimpi memiliki rumah sakit sendiri suatu hari nanti—tempat orang-orang bisa mendapatkan pertolongan ketika sakit, seperti yang kini dibutuhkan ibunya.
Mimpi itu mungkin terdengar besar untuk anak kelas 3 SD. Namun sering kali, harapan paling kuat justru lahir dari pengalaman paling sulit.
Gelombang Doa dari Dunia Maya
Ketika kisah Raela mulai dikenal luas, respons pun mengalir dari warganet. Banyak yang tersentuh oleh ketegaran kakak kecil ini.
“Nama anaknya bagus dan penuh makna ‘Ariendra railea irgantari’, semoga jadi anak sukses ya nduk, sing sayang karo adik, do’akan ibukmu semoga segera diberikan kesehatan, aamiin…,” ujar seorang netizen.
“Bu, panjang umur ya bu. Semangat bu, aku yakin ibu panjang umur dan pasti sembuh bu. Aamiin,” kata netizen lain.
“Ya allah ade syg.. km hebat.. tante doain km besar sukses ya, aamiin yra,” timpal yang lain.
Doa-doa itu mungkin tak langsung mengubah keadaan, tetapi setidaknya menjadi pengingat bahwa mereka tidak benar-benar sendiri.
Tentang Cinta yang Tidak Banyak Bicara
Di sudut kelas sederhana itu, Raela mengajarkan sesuatu yang sering dilupakan orang dewasa: cinta tidak selalu hadir dalam kata-kata besar. Kadang ia terlihat dalam langkah kecil seorang kakak yang menggandeng adiknya ke sekolah.
Tentang keberanian, ternyata tidak selalu milik mereka yang sudah dewasa. Kadang ia tinggal dalam diri anak sembilan tahun yang memilih bertahan, belajar, dan tetap tersenyum.
Dan tentang harapan—ia bisa tumbuh bahkan di tengah rasa sakit.
Selama Raela masih berjalan ke sekolah dengan dua tas di pundaknya, selama itu pula cerita tentang keteguhan akan terus hidup.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










