bukamata.id – Pembangunan Bus Rapid Transit (BRT) Bandung Raya rencananya akan dilaksanakan mulai 2026 hingga 2027.
Dengan jalur khusus sepanjang 21 kilometer, terutama di kawasan pusat Kota Bandung, proyek ini diprediksi menimbulkan kemacetan sementara dan berdampak pada aktivitas masyarakat sekitar.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengaku saat ini tengah memikirkan solusi terkait perparkiran dan keberadaan pedagang kaki lima (PKL) yang akan terdampak. Jalur BRT yang memotong pinggir jalan otomatis akan meniadakan beberapa tempat parkir.
“Yang pertama mesti kita cari solusi sebetulnya adalah perparkiran dulu. Perparkiran dan PKL, karena perparkiran dan PKL adalah titik pertama yang pasti akan terkena dampak dari pembangunan BRT,” kata Farhan, Rabu (28/1/2026).
Pemkot Bandung tengah mengupayakan agar masalah ini bisa segera terselesaikan, sehingga pembangunan BRT bisa berjalan lancar. Farhan mengakui, rencana ini sudah menimbulkan kegelisahan di kalangan PKL.
“Sekarang banyak kegelisahan. Saya mohon maaf belum bisa memberikan kepastian, karena kita ingin memastikan dulu bahwa skema penanganan ini bisa diterima oleh semua masyarakat,” ujarnya.
Dialog Prioritas, Belum Tentukan Kompensasi PKL
Menurut Farhan, beberapa PKL di kawasan Cicadas sudah menyatakan penolakan terhadap proyek BRT. Meski pemerintah belum memutuskan apakah akan memberikan kompensasi atau relokasi, Farhan menegaskan dialog menjadi prioritas daripada penggusuran paksa.
“Wajar apabila menolak, karena pasti dalam persepsi mereka akan digusur. Tidak, kita akan dialog dulu. Kita ingin tahu perkembangan usaha para pelaku PKL di Cicadas,” jelasnya.
BRT Tidak Menghapus Angkot, Justru Jadi Feeder
Farhan juga menegaskan bahwa pembangunan BRT tidak akan menghilangkan angkutan kota (angkot). Angkot justru akan berperan sebagai angkutan pengumpan (feeder) bagi BRT, apalagi beberapa jalur BRT akan memanfaatkan jalur yang sudah digunakan oleh Trans Metro Pasundan (TMP).
“Angkot jadi feeder. Jalurnya tetap sama persis seperti jalur TMP. Jadi bukan mau mengubah jalur, tapi angkot tetap menjadi feeder lewat jalur yang sudah ditentukan,” ujarnya.
Pemkot Bandung juga berkoordinasi dengan tiga koperasi angkot untuk melakukan peremajaan menjadi angkot listrik. Kehadiran angkot listrik ini diharapkan mampu menarik minat masyarakat untuk kembali menggunakan angkutan umum.
“Kalau mau peremajaan, sebaiknya mulai berpikir untuk memanfaatkan angkot listrik yang sudah di-launching beberapa bulan lalu. Pemanfaatan angkot listrik ini memberikan peluang untuk menarik minat masyarakat naik angkot lagi,” tandas Farhan.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










