bukamata.id – Dunia hiburan digital Indonesia kembali diguncang oleh riuh rendah perdebatan netizen. Kali ini, panggungnya adalah sebuah kanal YouTube raksasa milik Deddy Corbuzier, yang selama ini dikenal sebagai “muara” berbagai isu panas di tanah air. Namun, bukan topik politik atau skandal besar yang menjadi pemantik, melainkan sebuah potongan video singkat yang memperlihatkan interaksi antara dua sosok beda karakter: Indra Frimawan, sang komika spesialis komedi absurd, dan Fajar Sadboy, remaja yang viral karena kisah patah hatinya.
Cuplikan video yang diunggah ulang oleh akun gosip populer @pembasmi.kehaluan.reall tersebut seketika menjadi bola liar. Di sana, terekam sebuah momen yang membuat banyak pasang mata terbelalak: Indra diduga melakukan aksi meludah ke arah Fajar di tengah-tengah perbincangan. Sontak, jagat maya terbelah. Antara mereka yang menganggapnya sebagai bagian dari seni komedi, dan mereka yang melihatnya sebagai runtuhnya pilar etika di ruang publik.
Detik-Detik Ketegangan di Ruang Kedap Suara
Awalnya, atmosfer dalam studio podcast tersebut tampak cair. Sebagaimana karakter aslinya, Indra Frimawan sering melemparkan jokes “pinggiran” yang sulit dicerna namun mengundang tawa bagi penggemarnya. Di sisi lain, Fajar Sadboy dengan polosnya menanggapi setiap obrolan dengan gaya melankolisnya yang khas.
Namun, ketenangan itu pecah dalam sekejap mata. Di tengah obrolan yang sedang mengalir, Indra tiba-tiba menoleh dan melakukan gerakan refleks yang sangat mirip dengan tindakan meludah ke arah wajah Fajar. Respons Fajar pun tak kalah mengejutkan; ia tampak terperanjat, menunjukkan gestur defensif seolah ingin memberikan perlawanan spontan sebelum akhirnya ia mampu menahan diri.
Momen satu menit itu pun menjadi “makanan empuk” bagi algoritma media sosial. Ribuan komentar membanjiri unggahan tersebut, mayoritas menyuarakan satu hal yang sama: Di mana letak batas kesopanan?
Gimmick Komedi atau Pelanggaran Norma?
Bagi para penggemar Stand Up Comedy, nama Indra Frimawan identik dengan aliran non-sequitur atau komedi absurd. Ia kerap melakukan hal-hal di luar nalar penonton untuk menciptakan efek kejut. Namun, kasus kali ini memicu perdebatan yang lebih fundamental. Apakah meludahi orang lain—sekalipun dalam konteks akting atau gimmick—dapat diterima oleh norma sosial kita?
Netizen pun tidak tinggal diam. Seorang pengguna media sosial berkomentar dengan nada gusar, “Bercanda boleh, tapi tolong etika dijaga.” Pernyataan ini mewakili keresahan kolektif masyarakat yang merasa bahwa konten kreator masa kini mulai menghalalkan segala cara demi mendapatkan engagement atau jumlah penonton yang tinggi.
Komentar lain tak kalah pedas, menyoroti apakah adegan tersebut telah diatur sebelumnya atau murni spontanitas. “Entah ini settingan atau bukan, tetap saja kelewatan. Nggak sopan,” tulis warganet lainnya. Hal ini membawa kita pada pertanyaan besar: Jika memang itu sebuah skenario, mengapa tim kreatif sebuah podcast besar mengizinkan narasi “tidak sopan” seperti itu ditayangkan tanpa sensor?
Bayang-Bayang Rekam Jejak Masa Lalu
Kontroversi ini bak membuka kotak pandora. Tak butuh waktu lama bagi warga digital untuk melakukan penelusuran lebih jauh mengenai rekam jejak Indra Frimawan. Muncul klaim-klaim baru dari pengguna media sosial yang menyebut bahwa aksi “nyeleneh” serupa diduga bukan pertama kalinya dilakukan oleh sang komika.
Spekulasi pun berkembang liar. Ada yang berpendapat bahwa ini adalah bagian dari branding panggung Indra yang memang ingin terlihat aneh dan provokatif. Namun, ada pula yang mulai khawatir bahwa perilaku tersebut mencerminkan sikap asli yang bermasalah. Sayangnya, hingga narasi ini disusun, baik Indra maupun pihak manajemen belum memberikan klarifikasi apa pun untuk menjernihkan suasana.
Respons Amanda Manopo dan Sentimen Publik
Api kontroversi semakin membesar ketika figur publik lainnya ikut “nimbrung”. Aktris cantik Amanda Manopo, yang diketahui memiliki hubungan pertemanan baik dengan Fajar Sadboy, turut memberikan reaksi yang memicu teka-teki.
Tepat pada 12 Februari 2026, Amanda meninggalkan jejak di kolom komentar video viral tersebut. “Hmmm,” tulisnya singkat. Satu kata ini sudah cukup bagi netizen untuk menafsirkan banyak hal. Ada yang menganggapnya sebagai bentuk kekecewaan, hingga sinyal bahwa sang aktris turut merasa geram dengan perlakuan yang diterima Fajar.
Sorotan terhadap Fajar Sadboy pun kian dalam. Sebagai remaja yang baru mencicipi kerasnya industri hiburan, banyak yang merasa Fajar sering kali menjadi “objek” eksploitasi oleh para seniornya demi kepentingan konten.
Krisis Edukasi di Tengah Banjir Konten
Fenomena ini memicu diskusi yang lebih luas tentang tanggung jawab moral para pemilik kanal besar. Podcast Deddy Corbuzier, sebagai salah satu pionir konten digital di Indonesia, memiliki pengaruh yang luar biasa besar. Setiap adegan yang ditayangkan berpotensi menjadi contoh atau ditiru oleh jutaan penonton muda.
Para pengamat media menyayangkan jika tayangan yang memiliki jutaan pengikut justru menyuguhkan konten yang jauh dari nilai edukatif. Tanpa adanya klarifikasi resmi, publik dibiarkan menebak-nebak dan mengonsumsi drama yang belum tentu benar secara utuh. Jika ini memang komedi, maka industri kita sedang mengalami krisis kreativitas. Namun jika ini nyata, maka kita sedang menyaksikan krisis kemanusiaan di depan kamera.
Hingga saat ini, publik masih menanti respons dari pihak Indra Frimawan maupun manajemen Fajar Sadboy. Klarifikasi bukan hanya dibutuhkan untuk menyelamatkan nama baik, tetapi juga untuk memberikan batasan yang jelas bagi masyarakat: mana yang disebut hiburan, dan mana yang disebut penghinaan.
Di akhir hari, layar ponsel mungkin akan terus menyuguhkan drama baru. Namun, kejadian ini meninggalkan satu pelajaran berharga bagi kita semua: Bahwa popularitas bisa dicari dalam sekejap, namun etika dan kehormatan adalah sesuatu yang harus dijaga selamanya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











