Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Wacana Provinsi Sunda Menguat, DPRD Jabar Sepakati Pembahasan Resmi

Jumat, 3 Juli 2026 16:00 WIB

Umuh Muchtar Isyaratkan Persib Masih Siapkan Kejutan, Peralta dan Ragnar Masih Berpeluang Bergabung

Jumat, 3 Juli 2026 15:40 WIB

Tragis! Remaja Bandung Barat Tewas Dibacok di Purwakarta Usai COD Sajam

Jumat, 3 Juli 2026 15:34 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Wacana Provinsi Sunda Menguat, DPRD Jabar Sepakati Pembahasan Resmi
  • Umuh Muchtar Isyaratkan Persib Masih Siapkan Kejutan, Peralta dan Ragnar Masih Berpeluang Bergabung
  • Tragis! Remaja Bandung Barat Tewas Dibacok di Purwakarta Usai COD Sajam
  • Buronan Negara! Tampang Songong Pria Berbaju Hijau di Balik Tragedi Sembelih Tapir Mesuji!
  • Larissa Chou Resmi Gugat Cerai Ikram Rosadi, Ini Fakta di Balik Keretakan Rumah Tangga
  • Igor Tolic Sambut 3 Pemain Baru Persib, Gabriel Mutombo Jadi Andalan Lini Belakang
  • Mulai 1 Juli 2026, Strava hingga Kling AI Resmi Pungut PPN di Indonesia, Ini Daftar Lengkapnya
  • Viral Cristiano Ronaldo Ucapkan Bismillah Saat Eksekusi Penalti Lawan Kroasia
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Jumat, 3 Juli 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Buronan Negara! Tampang Songong Pria Berbaju Hijau di Balik Tragedi Sembelih Tapir Mesuji!

By Aga GustianaJumat, 3 Juli 2026 15:25 WIB8 Mins Read
Tragedi Tapir Mesuji. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Jalan Lintas Timur (Jalintim) Sumatera, tepatnya di kawasan Register 45, Kabupaten Mesuji, Lampung, mendadak riuh pada Kamis (2/7/) sore itu. Sesosok makhluk anggun berkulit hitam-putih kontras melangkah ragu di tepi aspal. Tapir (Tapirus indicus), sang fosil hidup yang pemalu, keluar dari rimbunnya hutan. Tubuhnya yang tambun bergoyang pelan, matanya yang kecil menatap nanar deretan kendaraan yang merayap melambat.

Bagi pengguna jalan yang melintas, kemunculan satwa langka dilindungi ini adalah sebuah keajaiban visual yang langka. Mereka mengerem kendaraan, terpaku, dan mengabadikan momen magis tersebut dengan kamera ponsel. Tapir itu tidak mengamuk. Ia hanya tersesat, berjalan lunglai mencari sejumput makanan untuk mengusir rasa lapar yang menggerogoti perutnya. Namun, pesona magis itu tak bertahan lama. Ketika sang tapir memutuskan berbalik arah dan berlindung di balik rimbunnya perkebunan singkong warga, takdir baiknya seketika runtuh.

Hanya dalam hitungan jam, kekaguman netizen di media sosial berubah menjadi horor yang menyayat hati. Video keindahan satwa itu berganti dengan rekaman visual yang begitu sadis: sesosok tapir terbujur kaku dengan kepala yang sudah terpisah sempurna dari badannya. Dan di balik lensa kamera yang merekam kebrutalan itu, terpampang jelas sebuah potret keangkuhan yang kini dicari-cari seantero negeri: tampang seorang pria berbaju hijau yang dengan ringannya mengacungkan jari tengah ke arah kamera sambil menginjak jasad tapir.

Potret Angkuh yang Menantang Nurani

Dunia maya meradang, bukan sekadar karena kematian tragis satwa yang dilindungi undang-undang tersebut, melainkan karena ekspresi dan gestur tanpa dosa yang ditunjukkan oleh para eksekutornya. Dalam potongan video yang viral, tampang pria berbaju hijau itu menjadi simbol dari matinya empati manusia. Wajahnya yang terekam jelas tidak menunjukkan secuil pun rasa bersalah atau ketakutan. Sebaliknya, ada guratan kepuasan, sebuah kebanggaan semu seolah-olah ia baru saja menaklukkan monster yang mengancam desa, bukan menyembelih seekor hewan kelaparan yang tak berdaya.

Acungan jari tengah yang ia layangkan ke arah kamera adalah sebuah penghinaan terbuka. Bukan hanya kepada hukum yang melindungi satwa tersebut, tetapi juga kepada nurani publik yang menyaksikan. Wajah itu—yang kini telah dikantongi identitasnya oleh penyidik Polres Mesuji—menjadi buronan yang paling dicari, sebuah representasi dari kekejaman yang terorganisir di tengah ladang singkong.

Pria berbaju hijau itu tidak sendiri. Ia adalah bagian dari komplotan yang berbagi peran layaknya predator berdarah dingin. Saat ini, polisi memang telah berhasil meringkus empat orang pelaku berinisial WS, KS, TS, dan MPY. Namun, publik tidak akan puas sebelum dua wajah utama yang menjadi arsitek pembantaian ini mengenakan baju tahanan oranye. Mereka adalah WG, sang pelempar tombak pertama, dan MSR—sang jagal utama yang memegang golok di leher sang tapir.

Baca Juga:  Pembukaan Bandung Zoo Dinilai Prematur di Tengah Dugaan Stres Satwa

Amarah Netizen Memuncak: “SDM Rendah, Gragas Banget!”

Gelombang kecaman langsung membanjiri kolom komentar di berbagai platform media sosial setelah video mutilasi dan penangkapan para pelaku mencuat. Netizen tidak habis pikir bagaimana satwa eksotis yang seharusnya dilindungi justru berakhir mengenaskan di tangan sekelompok orang. Sikap rakus dan minimnya edukasi para pelaku menjadi sasaran kemarahan publik.

“SDM rendah graggas banget, kasihan Tapir yg malang,” ujar salah satu netizen yang meluapkan rasa geramnya melihat ketidakberdayaan satwa langka tersebut di hadapan kebrutalan warga.

Bagi sebagian besar netizen, tindakan menyembelih hingga memasak daging tapir adalah hal yang sangat tidak masuk akal di tengah melimpahnya opsi bahan pangan lain. Publik merasa heran dengan jalan pikiran para pelaku yang langsung melihat hewan eksotis tersebut sebagai objek konsumsi.

“Kok bisaaa.. Apa aja dimakan buset.. Gak geli apa pas motong.. Kan harusnya kaya aneh nih hewan.. Usir aja ahh.. Kok bisa kepikiran di makan.. Udah kaya survival aja.. Kaya gak ada makanan lain blasss,” tulis netizen lain dengan nada tidak percaya dan penuh keheranan.

Tak sekadar mengecam aksi jagal tersebut, sebagian warganet juga merefleksikan kejadian ini sebagai peringatan serius atas rusaknya hubungan antara manusia dan lingkungan sekitar. Tragedi ini dinilai mencerminkan egoisme manusia yang hanya tahu cara mengeksploitasi tanpa peduli pada kelestarian ekosistem.

“Bagaimana mungkin kita berharap alam bersahabat, jika setiap hari kita terus mengambil tanpa pernah menjaga?” sesal seorang netizen yang menyoroti hilangnya kesadaran konservasi di masyarakat.

Kronologi Jagal di Ladang Singkong: Dihantam Dongkrak, Berakhir di Kuali Rica-Rica

Untuk memahami betapa durjananya tampang-tampang yang kini tengah diburu polisi dan dikutuk oleh netizen, kita harus menengok kembali kronologi malam jahanam tersebut. Perburuan ini bermula dari informasi kerabat seorang warga berinisial SG yang melihat tapir tersebut masuk ke area perkebunan. Alih-alih menghubungi pihak BKSDA (Balai Conservation Sumber Daya Alam) atau pihak berwajib untuk mengamankan satwa liar yang tersesat, sekelompok pria justru berkumpul, mempersenjatai diri dengan tombak, golok, hingga perkakas besi. Mereka melihat tapir bukan sebagai kekayaan alam yang harus dijaga, melainkan sebagai tumpukan daging gratis yang berjalan.

Baca Juga:  Manajemen Baru Bandung Zoo Bantah Isu Penelantaran Bayi Orang Utan Tama

Pengejaran brutal pun dimulai. Di bawah temaram malam di ladang singkong Register 45, monster yang sebenarnya mulai beraksi. WG, pria yang kini statusnya menjadi buronan (DPO), menjadi orang pertama yang merobek kulit tapir tersebut. Menggunakan seluruh tenaganya, WG melempar tombak ke arah perut sebelah kiri satwa malang itu hingga ia tersungkur.

Melihat mangsanya jatuh dan mengerang kesakitan, nafsu membunuh komplotan ini makin menjadi. WS, pelaku yang kini sudah ditangkap, mengambil kembali tombak tersebut dan menancapkannya untuk kedua kali ke tubuh tapir. Tak mau ketinggalan, KS melemparkan tombak ketiga. Begitu kuatnya benturan hingga gagang tombak itu patah berantakan.

Dalam kondisi terluka parah dan bersimbah darah, tapir itu masih mencoba merangkak, mencari jalan pulang ke hutan yang aman. Namun langkah kakinya terhenti. Dengan kejam, WS mengambil sebuah dongkrak besi yang berat. Tanpa ampun, ia menghantamkan besi tebal itu berkali-kali ke arah kepala dan hidung sensitif sang tapir hingga satwa malang itu mengalami kejang-kejang hebat di atas tanah.

Saat satwa malang itu berada dalam kondisi sekarat, tidak berdaya, dan hanya bisa menatap sayu dengan sisa nafasnya, muncullah MSR. Pria yang kini tengah melarikan diri dan diburu polisi ini bertindak sebagai eksekutor utama. Dengan tampang tanpa belas kasihan, MSR menghujamkan golok tajam ke leher tapir, menggoroknya hingga kepala satwa dilindungi itu terpisah sepenuhnya dari badannya.

Kekejaman tidak berhenti setelah nafas tapir itu habis. Di bawah komando TS dan MPY, tubuh tapir seberat ratusan kilogram itu dimutilasi menjadi potongan-potongan kecil. Daging satwa langka dilindungi negara ini kemudian dibagikan kepada warga sekitar untuk dikonsumsi.

Bahkan, saat aparat Polres Mesuji menggerebek lokasi kejadian, mereka menemukan fakta yang membuat bulu kuduk merinding. Sebagian daging hewan malang yang beberapa jam lalu viral karena kelucuannya di jalan raya, telah berada di dalam kuali. Satwa dilindungi itu telah diolah dan dimasak menjadi rica-rica oleh para pelaku, menyisakan tulang-belulang yang berserakan sebagai barang bukti.

Identitas Dikantongi, Polisi: “Menyerahlah!”

Kini, fokus utama penegakan hukum tertuju pada pengejaran dua pelaku yang melarikan diri, terutama MSR sang jagal utama dan pria berbaju hijau yang memamerkan jari tengahnya dengan angkuh. Wajah-wajah mereka yang sempat terekam kamera kini menjadi dasar pencarian intensif oleh tim opsnal Satreskrim Polres Mesuji.

Baca Juga:  Macan Tutul Jawa Diserang! Kamera Trap Rekam Kejahatan Pemburu Liar di Sanggabuana

Kapolres Mesuji, AKBP Muhammad Firdaus, menegaskan bahwa pelarian kedua pelaku ini tidak akan berlangsung lama. Pihak kepolisian telah mengantongi seluruh identitas, alamat, hingga jaringan keluarga para buronan ini.

“Empat orang sudah kami amankan beserta barang bukti berupa tombak, golok, kulit tapir, hingga sisa daging dan tulang. Masih ada dua pelaku lain yang sedang kami lakukan pengejaran. Identitas mereka sudah kami kantongi,” ujar AKBP Muhammad Firdaus dengan nada tegas.

Pihak kepolisian juga memberikan ultimatum keras kepada MSR dan rekannya yang kini tengah bersembunyi di bawah bayang-bayang ketakutan. Tampang angkuh yang sebelumnya mereka pamerkan di video kini harus digantikan dengan pertanggungjawaban hukum.

“Kami mengimbau kepada dua pelaku yang masih dalam pencarian untuk segera menyerahkan diri. Semakin cepat kooperatif, tentu akan mempermudah proses hukum yang sedang berjalan,” tambah Kapolres.

Jerat Hukum untuk Para Perusak Ekosistem

Negara tidak tinggal diam melihat arogansi para pembantai satwa ini. Langkah cepat Polres Mesuji di bawah pimpinan Kasatreskrim Iptu Adi Setiawan yang langsung mengamankan barang bukti berupa sisa tulang, kulit, dan alat-alat jagal menunjukkan keseriusan pihak kepolisian.

Para pelaku tidak bisa lagi berkelit dengan alasan tidak tahu atau sekadar ikut-ikutan. Atas aksi sadis dan sengaja ini, mereka dijerat dengan Pasal 40A ayat (1) huruf d Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Ancaman hukuman penjara yang berat kini menanti di depan mata mereka.

Tragedi rica-rica tapir di Mesuji ini menjadi tamparan keras bagi kampanye perlindungan satwa di Indonesia. Di saat dunia internasional berjuang mempertahankan populasi Tapirus indicus yang kian menyusut akibat deforestasi, di sebuah sudut di Mesuji, Lampung, satwa itu justru berakhir mengenaskan di tangan sekelompok orang yang kehilangan akal sehat dan rasa kemanusiaannya.

Kini, masyarakat luas menunggu momen ketika tampang angkuh pria berbaju hijau yang mengacungkan jari tengah dan wajah dingin MSR sang jagal utama terpampang di depan rilis media Polres Mesuji—bukan lagi sebagai sosok penakluk hutan yang pongah, melainkan sebagai tersangka yang tertunduk lesu di balik jeruji besi, mempertanggungjawabkan setiap tetes darah tapir malang yang mereka sembelih demi sepiring rica-rica.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

pembunuhan tapir lampung Satwa Dilindungi tampang pelaku sembelih tapir tapir mesuji
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Wacana Provinsi Sunda Menguat, DPRD Jabar Sepakati Pembahasan Resmi

Tragis! Remaja Bandung Barat Tewas Dibacok di Purwakarta Usai COD Sajam

Mulai 1 Juli 2026, Strava hingga Kling AI Resmi Pungut PPN di Indonesia, Ini Daftar Lengkapnya

Viral Video Dugaan Transaksi Obat Terlarang di KBB, BNN Turunkan Tim Khusus!

Cara cek bansos PKH tahap 4 2025 pakai KTP.

Bansos 2026 Tahap 3 Cair! Ini Jadwal, Besaran, dan Cara Cek Penerima Terbaru

Melawan Arus! Kisah Andi Saputra, Mantan Jurnalis yang Menjadi ‘Suara Tunggal’ Pembela Nadiem Makarim

Terpopuler
  • Ini Link Bagan 32 Besar Piala Dunia 2026 untuk Pantau Jadwal dan Skema Pertandingan
  • Link Live Pagi Ini: Portugal vs Kroasia 32 Besar Piala Dunia 2026, Siapa Lolos?
  • Jangan Asal Klik! Video Handuk Putih Anak vs Ibu Viral, Begini Fakta dan Bahaya Link Palsunya
  • Lirik Lagu Lalaki Langit Lalanang Bejat Viral! Ini Isi Lagu Om Zein yang Tuai Polemik
  • Swatt Lasagna Viral! Kue Premium Bandung Ini Ternyata Langganan Para Artis Top
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.