bukamata.id – Perjuangan hidup seorang wanita dari kalangan rakyat jelata kembali membuktikan bahwa ketabahan mampu menembus tembok istana. Adalah Susanah, seorang ibu rumah tangga asal Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yang mendadak berada di bawah sorotan lampu kamera nasional usai langkah kakinya memijak Gedung Nusantara, Jakarta, pada Jumat (14/8/2026).
Ibu gigih ini hadir sebagai satu dari delapan sosok istimewa yang diundang dalam helatan Sidang Tahunan MPR serta Sidang Bersama DPR-DPD. Di tengah deretan pejabat negara, sosoknya menjadi simbol nyata keberadaan masyarakat akar rumput yang menggantungkan asa pada uluran tangan negara.
Menyangga Napas Keluarga dari Balik Bungkusan Bawang
Kehidupan sehari-hari Susanah jauh dari kata mewah. Sebagai buruh harian, jemarinya saban hari bergelut dengan tumpukan bawang demi mengumpulkan rupiah. Dari pekerjaan kasar bertaruh peluh itulah ia berjuang menyokong ekonomi keluarga di tengah ketidakpastian penghasilan.
Beban berat di pundaknya sedikit terangkat berkat uluran bansos pemerintah. Susanah tercatat aktif menerima manfaat dari dua tumpuan utama jaringan pengaman sosial:
- Program Keluarga Harapan (PKH): Jaminan penting agar buah hatinya tidak terputus dari bangku sekolah.
- Program Sembako: Penopang gizi dan pasokan pangan harian di meja makan rumahnya.
Kehadiran program tersebut membuktikan bagaimana intervensi negara mampu menjaga martabat serta ketahanan keluarga pekerja rentan seperti dirinya.
Sorotan Publik dan Momen Slip of the Tongue Presiden
Kisah haru perjuangan Susanah kian menyita perhatian manakala Presiden Prabowo Subianto menyapa dirinya secara mendalam dari atas podium pidato kenegaraan.
“Hadir bersama kita Ibu Susanah dari Kabupaten Bogor. Ia bekerja sebagai buruh harian mengupas bawang dengan upah sekitar Rp700 ribu per kilogram. Program Keluarga Harapan dan Program Sembako membantu menjaga pendidikan anak-anaknya,” kata Prabowo dalam pidato resminya.
Pernyataan mengenai besaran honorarium tersebut sontak memantik riak kekagetannya tersendiri di ruang publik digital. Angka “Rp 700 ribu per kilogram” dirasa tidak selaras dengan kalkulasi riil komoditas pasar. Publik lantas meyakini bahwa terjadi kekeliruan pengucapan (slip of the tongue) dari naskah pidato, di mana angka ideal yang lazim diterima buruh pengupas bawang berada di kisaran Rp 700 per kilogram.
Sontak, fenomena unik ini memicu berbagai tanggapan jenaka dari para pengguna media sosial X (Twitter), salah satunya lewat kalkulasi imajiner yang menggelitik.
“Upah dia 700.000/kilogram, kalo bisa 10 kilo sehari dapat 7 jt, sebulan berarti 210 juta rupiah,” seloroh salah satu akun bernama @LambeSahamjja menanggapi video pidato tersebut.
Di luar selipan humor akibat kekeliruan nominal tersebut, hadirnya Susanah di kursi kehormatan Parlemen menegaskan pesan kuat: suara dan perjuangan para ibu pekerja keras dari pelosok desa kini didengar hingga panggung tertinggi republik.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









