bukamata.id – Suara benturan sepatu bot plastik dan gemerisik kain seragam olahraga beradu dengan riuh tawa anak-anak mengisi pelataran sekolah dasar di suatu sudut Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Di bawah terik matahari tropis yang menyengat, sebuah lapangan sekolah berlantai semen hijau menjadi saksi bisu dari lahirnya sebuah fenomena digital. Di tempat inilah Devina, seorang bocah perempuan yang duduk di bangku kelas 3 Sekolah Dasar, memperlihatkan kepiawaian mengolah bola yang membuat siapa saja terkesan, bahkan merinding.
Mengenakan seragam sekolah hijau berpadu jilbab putih yang tampak berkibar mengikuti setiap gerakannya, Devina tampil tanpa keraguan sedikit pun. Di hadapannya, berdiri sejumlah teman sekelasnya—sebagian besar anak laki-laki dengan postur tubuh yang sekilas tampak lebih besar. Namun, ukuran fisik sama sekali tidak menyurutkan nyalinya. Dengan ketenangan yang jarang dimiliki anak seusianya, Devina menguasai bola seolah benda bundar itu direkatkan di telapak kakinya.
Video pendek yang awalnya diunggah oleh guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) melalui akun media sosial @pjokbersamayusuf tersebut mendadak meledak di dunia maya. Video berdurasi singkat itu menyebar luas di berbagai platform, mulai dari Instagram, TikTok, hingga YouTube, menjadikannya buah bibir warganet Indonesia. Mereka menjulukinya sebagai salah satu permata tersembunyi dari pelosok negeri yang siap menerangi masa depan olahraga futsal tanah air.
Seni Mengolah Bola: Bukan Sekadar Lari dan Menendang
Ada alasan kuat mengapa aksi Devina berhasil membius jutaan pasang mata di jagat maya. Permainan futsal anak-anak seusia Sekolah Dasar umumnya diwarnai dengan kepanikan: mengejar bola secara bergerombol, menendang sekuat tenaga tanpa arah, atau mudah kehilangan keseimbangan saat mendapat pressing. Namun, Devina mempertontonkan standar permainan yang sama sekali berbeda.
Pertama, perihal kontrol kaki atau footwork. Dalam tayangan video yang viral tersebut, terlihat bagaimana Devina mampu melakukan gocekan halus menggunakan sol sepatu atau telapak kakinya. Sentuhan-sentuhan ringan ini membuat bola berputar rapat di dekat tubuhnya, menyulitkan lawan untuk merebutnya secara bersih. Saat dikepung oleh dua hingga tiga pemain lawan sekaligus, ia tidak panik membuang bola. Sebaliknya, ia meliuk-liuk dengan tenang, mencari ruang kosong, dan melepaskan umpan matang atau melewati lawan dengan gerakan tipuan tubuh yang natural.
Kedua, keberanian dalam berduel. Futsal adalah olahraga yang menuntut fisik yang kuat dan ketahanan mental yang tinggi. Devina tidak canggung untuk beradu badan secara sehat di atas lapangan semen yang keras. Beberapa klip bahkan memperlihatkan pemain lawan yang berjenis kelamin laki-laki sampai jatuh terduduk atau kehilangan keseimbangan saat mencoba menghentikan laju dribble-nya. Aksi-aksi “kejam” namun elegan di lapangan inilah yang kemudian memancing warganet memberikan label jenaka namun penuh kagum: Devina vs Everybody.
Di balik penampilan gemilang di lapangan terbuka tersebut, tersimpan sebuah pesan mendalam tentang bagaimana bakat alami yang diasah dengan kegemaran murni mampu memecahkan batasan-batasan konvensional. Di sekolah dasar tempatnya menimba ilmu, sepak bola dan futsal jalanan bukan lagi sekadar permainan pengisi jam istirahat, melainkan panggung teater tempat bakat luar biasa diasah tanpa rekayasa.
Riuh Suara Warganet: Dari Kekaguman hingga Harapan Kolektif
Media sosial tidak hanya menjadi tempat berlalu lalangnya video viral, tetapi juga menjelma menjadi ruang publik di mana aspirasi, decak kagum, dan refleksi mendalam tumpah ruah. Kolom komentar di akun pengunggah video dipenuhi oleh berbagai respons emosional dari warganet yang terpukau oleh aksi sang bocah asal Deli Serdang.
Banyak warganet yang terpukau hingga memberikan apresiasi tinggi dengan menyamakan gaya permainannya dengan para megabintang lapangan hijau dunia. Sebagaimana diungkapkan oleh salah seorang netizen dalam kolom komentar: “Gocekan ala messi, Tendangan ala ronaldo dan perebutan bola ala ramos.” Ungkapan ini merangkum betapa komprehensifnya kemampuan Devina: kelincahan gocekannya mengingatkan pada Lionel Messi, ketegasan tendangannya mencerminkan Cristiano Ronaldo, sementara keberanian serta determinasinya dalam merebut bola seolah memperlihatkan karakter Sergio Ramos.
Namun, di balik decak kagum tersebut, terselip pula refleksi kritis mengenai realitas pembinaan olahraga di tanah air. Seorang warganet menuliskan sebuah renungan yang sarat makna: “Makin yakin sebenernya di indo ini ada yang bakatnya kaya messi dan kerja kerasnya kaya ronaldo, tapi gapernah dapat kesempatan dilirik oleh scout club professional, jadi mereka gapernah dapat kesempatan jadi prmain bola pro.” Kegelisahan ini menyoroti sebuah tantangan klasik dalam ekosistem olahraga nasional: betapa pentingnya peran pemandu bakat (scout) dan pemerataan akses pembinaan hingga ke akar rumput agar talenta-talenta luar biasa tidak tenggelam begitu saja.
Merespons fenomena ini, warganet lainnya beramai-ramai memberikan dukungan moral kepada sang guru pengunggah video untuk terus mengawal dan mendokumentasikan perkembangan sang anak agar jalurnya tetap terjaga. Dukungan tersebut disuarakan secara lugas: “Atas nama netijen seinstagram coba fokus perdalam teknik dia, pak. Bakat dia bisa jd nyangkut ntr di timnas putri.. kontenin aja teruuss. Joss,” ujar netizen memberikan dorongan penuh semangat. Seruan ini menunjukkan betapa besarnya harapan publik agar bakat istimewa Devina mendapatkan wadah yang tepat, tidak sekadar menjadi viral sesaat, melainkan bertransformasi menjadi investasi jangka panjang prestasi bangsa.
Ketika Mata Elang Eropa Melirik ke Deli Serdang
Efek domino dari viralnya video tersebut ternyata melompat jauh melampaui batas linimasa media sosial biasa. Gelombang kekaguman yang awalnya datang dari komentar netizen lokal perlahan berubah menjadi perhatian serius dari level tertinggi kepelatihan sepak bola dan futsal nasional.
Tak tanggung-tanggung, video aksi Devina berhasil menarik perhatian langsung dari pelatih kepala Timnas Futsal Putri Indonesia, Coach Luis Estrela. Juru taktik asal Portugal yang memiliki lisensi elit UEFA A Futsal tersebut tampak terpukau dengan insting bermain sang bocah cilik. Melalui kolom komentar di salah satu unggahan yang menampilkan aksi Devina, Coach Luis meninggalkan jejak pertanyaan singkat yang langsung menyedot perhatian publik: “Name and contact of this player?”
Kehadiran komentar dari pelatih berkaliber internasional ini bukan sekadar angin lalu. Sejak dipercaya memegang kendali Timnas Futsal Putri Indonesia, pelatih yang sebelumnya sukses membawa klub raksasa Portugal SL Benfica Feminino meraih berbagai gelar juara bergengsi ini dikenal sangat teliti dalam memantau potensi pemain muda berbakat. Respons cepat yang ditunjukkan oleh Coach Luis menegaskan bahwa bakat murni Devina memiliki kualitas visual yang bahkan terbaca jelas oleh kacamata seorang pelatih profesional Eropa.
Banyak pihak langsung menyambut antusias interaksi tersebut. Kolom komentar dipenuhi oleh dukungan dan harapan agar bakat Devina tidak terbuang sia-sia. Para pencinta futsal tanah air beramai-ramai menandai berbagai pihak terkait, mulai dari akademisi olahraga hingga federasi, agar talenta muda seperti Devina mendapatkan jalur pembinaan yang terarah, profesional, dan berkelanjutan.
Menatap Masa Depan Futsal Putri Indonesia
Fenomena Devina membuka kembali mata publik terhadap potensi luar biasa yang seringkali tersembunyi di daerah-daerah pelosok Indonesia. Selama ini, bakat-bakat olahraga potensial seringkali terkendala oleh akses fasilitas, infrastruktur yang memadai, atau kurangnya sorotan media. Namun, era digital telah mengubah lanskap tersebut, di mana ketulusan bermain dan skill luar biasa dapat berbicara sendiri menembus batas geografis.
Tentu saja, perjalanan Devina masih amat panjang. Di usianya yang masih belia, kelas 3 SD, fokus utama bagi seorang anak perempuan berprestasi ini adalah tetap menikmati masa-masa sekolahnya, bermain dengan gempita, serta menjaga kesehatan mental dan fisiknya. Peran orang tua, guru sekolah, khususnya guru PJOK yang pertama kali mengabadikan momen tersebut, serta ekosistem olahraga lokal di Deli Serdang akan sangat krusial dalam melindungi dan mengarahkan sang anak.
Pembinaan usia dini adalah fondasi paling vital dalam piramida prestasi olahraga prestasi. Jika bakat alami Devina diasah dengan porsi latihan yang tepat, fasilitas yang mendukung, serta perlindungan psikologis yang baik dari tekanan publik yang terlalu dini, bukan tidak mungkin beberapa tahun ke depan kita akan melihat nama Devina berdiri gagah di bawah lampu stadion internasional, mengenakan lambang Garuda di dada, dan mengharumkan nama bangsa di kancah futsal dunia.
Dari pelataran semen hijau di Deli Serdang, sebuah mimpi besar telah resmi dimulai. Langkah kaki kecil berbalut jilbab putih itu telah menorehkan jejak inspirasi, membuktikan bahwa ketekunan, keberanian, dan bakat sejati akan selalu menemukan jalannya untuk bersinar terang.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










