bukamata.id – Operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Panyandaan, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), dihentikan sementara selama 20 hari setelah muncul dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Penghentian tersebut dilakukan setelah 14 siswa SDN Garuda, Cisarua, mengalami sejumlah keluhan setelah menyantap menu MBG pada Selasa (29/9/2026).
Ketua Satgas MBG Bandung Barat Fauzan Azima mengatakan, masa penghentian operasional dimanfaatkan untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap proses kerja dapur SPPG Panyandaan.
“Dapur SPPG tersebut saat ini sudah disuspend selama 20 hari,” kata Fauzan saat dikonfirmasi, Jumat (2/10/2026).
Berdasarkan laporan investigasi Puskesmas Cisarua, 14 siswa berusia 10-14 tahun mengalami keluhan setelah mengonsumsi makanan MBG. Mereka terdiri atas 10 siswa perempuan dan empat siswa laki-laki.
Sejumlah gejala yang dilaporkan antara lain pusing, mual, perut terasa melilit, sesak napas, muntah hingga diare.
Investigasi juga menemukan adanya perubahan rasa dan aroma pada protein hewani sebelum makanan didistribusikan kepada para siswa.
Dalam pemeriksaan organoleptik Batch 2 sekitar pukul 06.20 WIB, protein hewani yang diperiksa disebut memiliki rasa dan aroma asam. Namun, hasil pemeriksaan terhadap sampel berikutnya tidak menunjukkan perubahan serupa pada seluruh potongan protein.
Meski sempat ditemukan perubahan pada makanan, proses distribusi sebelumnya tetap berjalan. Setelah kembali ditemukan protein hewani dengan aroma dan rasa asam, distribusi kemudian dihentikan dan makanan ditarik.
Fauzan mengatakan temuan tersebut menjadi bagian penting dalam evaluasi selama dapur SPPG Panyandaan dihentikan sementara.
” Dengan adanya temuan tersebut, kami ingin memastikan tidak ada lagi makanan yang berisiko diberikan kepada penerima manfaat. Karena itu, selama masa suspend ini seluruh proses akan menjadi bahan evaluasi,” ujarnya.
SPPG Panyandaan Pernah Dikaitkan Kasus Serupa
Penghentian operasional kali ini juga menjadi perhatian karena dapur SPPG Panyandaan sebelumnya pernah dikaitkan dengan dugaan keracunan makanan MBG pada 2025.
Fauzan menyebut kejadian di SDN Garuda merupakan kasus kedua yang berkaitan dengan dapur tersebut. Karena itu, evaluasi tidak hanya diarahkan pada kejadian terbaru, tetapi juga terhadap keseluruhan proses operasional.
“Iya betul. Ini merupakan kasus kedua yang terjadi di dapur tersebut. Karena itu, kami tidak ingin hanya melihat kejadian yang sekarang, tetapi juga mengevaluasi seluruh proses yang ada di dapur,” katanya.
Kasus sebelumnya terjadi pada Oktober 2025. Saat itu, sebanyak 502 siswa SMPN 1 Cisarua dan SDN Garuda dilaporkan mengalami dugaan keracunan massal setelah mengonsumsi makanan MBG yang diproduksi dari dapur tersebut.
“Kasus sebelumnya menjadi catatan bagi kami. Dengan adanya kejadian kedua, tentu evaluasinya harus lebih menyeluruh, terutama terkait keamanan pangan dan proses pengolahan makanan,” ujar Fauzan.
Proses Produksi hingga Distribusi Akan Dievaluasi
Dalam laporan investigasi Puskesmas Cisarua, terdapat dugaan sementara bahwa perubahan kondisi protein hewani berkaitan dengan proses pemasakan yang hanya dilakukan satu kali.
Kondisi tersebut diduga membuat sebagian potongan makanan belum matang secara maksimal. Namun, laporan investigasi tersebut belum menetapkan dugaan tersebut sebagai penyebab final perubahan kondisi makanan.
Fauzan memastikan seluruh tahapan akan diperiksa sebelum SPPG Panyandaan kembali menjalankan operasional.
“Kami akan periksa bagaimana proses produksi, pengolahan sampai distribusi sebelum dapur tersebut kembali beroperasi,” tandasnya.
Selama masa suspend 20 hari, evaluasi akan mencakup keamanan pangan, proses pengolahan makanan hingga mekanisme distribusi menu MBG kepada penerima manfaat.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










