bukamata.id – Pembangunan pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI) milik BDx di kawasan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, menjadi sorotan terkait kelengkapan perizinan dan kebutuhan air untuk operasionalnya.
Proyek investasi senilai sekitar Rp3,5 triliun tersebut memiliki kapasitas awal 120 megawatt (MW) dan direncanakan berkembang hingga 640 MW. Kebutuhan airnya diproyeksikan mencapai sekitar 384 liter per detik atau setara 33 juta liter per hari.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebelumnya menyatakan pembangunan proyek dihentikan sementara hingga persyaratan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) diselesaikan.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengatakan, persoalan perizinan tersebut telah menjadi perhatiannya sejak melakukan peninjauan langsung ke lokasi proyek pada 28 Juli 2026.
Menurut Dedi, saat peninjauan, pihak perusahaan menyampaikan bahwa perizinan investasi melalui pemerintah pusat telah terbit. Namun, ia mendapat informasi bahwa dokumen AMDAL dan PBG yang menjadi kewenangan pemerintah daerah belum selesai.
“Saya datang sendiri untuk mengecek lapangan. Tanggal 28 Juli itu jelas, saya nanya, izinnya sudah keluar belum? Pengusahanya mengatakan izinnya sudah keluar karena izinnya itu izin PMA, izinnya di pusat melalui OSS ya,” ujar Dedi usai menghadiri pengukuhan kepengurusan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Barat di Gedung Merdeka, Kota Bandung, Jumat (2/10/2026).
Ia mengaku telah meminta Pemerintah Kabupaten Purwakarta mempercepat proses perizinan yang masih diperlukan. Dedi menegaskan, kunjungan tersebut merupakan bagian dari pengawalan investasi, bukan agenda peresmian proyek.
Kebutuhan Air Jadi Perhatian
Selain perizinan, kebutuhan air dalam operasional pusat data BDx menjadi salah satu aspek yang disorot. Besarnya kebutuhan air memunculkan perhatian terhadap ketersediaan pasokan dan keberlanjutan pelayanan air bersih bagi masyarakat.
Dedi menyebut, berdasarkan informasi yang diterimanya dari PDAM Purwakarta, pasokan air untuk proyek direncanakan berasal dari perusahaan daerah tersebut, yang memperoleh alokasi air dari Waduk Jatiluhur.
Ia mengatakan, alokasi air untuk PDAM Purwakarta mencapai 3.000 liter per detik. Sementara pemanfaatan saat ini disebut baru sekitar 380 liter per detik, antara lain karena keterbatasan modal dan kondisi infrastruktur distribusi.
“PDAM ini memiliki jatah 3.000 liter per detik jatah PDAM Purwakarta (dari Jatiluhur),” kata Dedi.
Ia juga menyebut perusahaan akan menggunakan sekitar 400 liter per detik. Menurutnya, pemanfaatan tersebut masih berada di bawah alokasi air yang dimiliki PDAM Purwakarta.
Dedi menilai investasi BDx berpotensi menambah pendapatan PDAM untuk memperkuat infrastruktur pelayanan air bersih. Ia menyebut kebutuhan pembenahan infrastruktur tersebut bernilai hampir Rp750 miliar.
“Dengan masuknya BDx, maka nanti PDAM akan mendapat uang yang cukup dalam setiap bulan dan dia bisa melakukan pinjaman memperkuat infrastrukturnya yang nilainya hampir Rp750 miliar. Sehingga layanan masyarakat Purwakarta yang memerlukan air bisa terlayani,” ujarnya.
Dedi juga menyatakan bahwa kebutuhan air untuk pertanian di Purwakarta tidak bergantung langsung pada aliran Waduk Jatiluhur. Menurutnya, aliran waduk tersebut dimanfaatkan untuk wilayah lain, termasuk Karawang, Bekasi, Subang hingga Indramayu.
Meski demikian, besaran kebutuhan air proyek, ketersediaan pasokan, dan dampaknya terhadap pelayanan masyarakat tetap menjadi aspek penting dalam pembahasan pembangunan pusat data tersebut.
Di sisi lain, kelengkapan dokumen lingkungan dan persetujuan bangunan menjadi persyaratan yang perlu dituntaskan sebelum pembangunan dapat dilanjutkan sesuai ketentuan yang berlaku.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









