bukamata.id – Mega proyek pusat data kecerdasan buatan (AI Data Center) bernilai fantastis Rp3,5 triliun di Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, mendadak jadi sorotan publik. Fasilitas canggih bernama AI Campus 2 (CGK4) garapan BDx Data Centers tersebut resmi disetop sementara oleh Pemprov Jabar terhitung sejak Selasa, 29 September 2026.
Keputusan tegas ini diambil bukan tanpa alasan. Dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang belum beres serta sorotan tajam ihwal masifnya penggunaan air mentah menjadi pemicu utama penghentian proyek seluas 11 hektare berdaya jumbo 640 Megawatt (MW) tersebut.
Lantas, mengapa fasilitas teknologi mutakhir ini sampai harus menyedot jutaan liter air? Berikut ulasan mendalamnya.
1. Apa Itu AI Data Center?
Pusat data kecerdasan buatan jauh berbeda dibanding data center konvensional biasa yang sekadar merumahkan file website, surel, atau aplikasi media sosial. Fasilitas di Purwakarta ini berfungsi sebagai dapur pacu atau ‘otak’ superkomputer berdensitas ultra-tinggi.
Di dalamnya, tertanam ribuan klaster unit pengolah grafis (GPU) kelas berat seperti NVIDIA DGX-Ready yang bertugas memproses miliaran algoritma Artificial Intelligence secara simultan dan instan. Kapasitas daya listrik yang ditopang mencapai 640 MW, setara dengan total konsumsi ratusan ribu rumah tangga.
2. Kenapa Butuh Air Sampai Puluhan Juta Liter?
Biang keladi dari tingginya konsumsi air ini bermuara pada persoalan suhu ekstrem dan sistem pendingin (cooling system).
- Panas Ekstrem Chip AI: Ketika ribuan GPU bekerja keras tanpa henti memproses data machine learning, komponen di dalamnya menghasilkan suhu panas membara.
- Pendingin Cair (Liquid Cooling): Kipas angin konvensional sudah pasti angkat tangan. Pengembang wajib menerapkan teknologi direct-to-chip liquid cooling yang digerakkan oleh air.
- Tembus 33 Juta Liter per Hari: Saat beroperasi penuh nanti, fasilitas BDx Jatiluhur diproyeksikan menelan kebutuhan air hingga 33.000 meter kubik atau sekitar 33 juta liter per hari (setara 384 liter per detik).
3. Setara Pasokan Air 6 Desa Sebulan!
Skala konsumsi tersebut tentu memicu kekhawatiran serius di tengah masyarakat serta para petani di hilir, mengingat ancaman terhadap debit irigasi di wilayah Karawang, Subang, Bekasi, hingga suplai air baku ibu kota.
Sebagai perbandingan matematis, jika satu desa dengan populasi 3.000 jiwa rata-rata menghabiskan 180.000 liter air sehari untuk keperluan domestik, maka kebutuhan harian data center AI ini setara dengan total jatah air untuk 6 desa selama sebulan penuh.
Penjelasan Resmi Pemprov Jabar
Menanggapi polemik ini, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memastikan bahwa pihak pengembang tidak boleh sembarangan menyedot air langsung dari badan Waduk Jatiluhur maupun sungai tanpa regulasi ketat.
“Ngambilnya tetap dari Jatiluhur, tapi masuk di PDAM. Maksudnya beli airnya dari PDAM sebagai konsumen komersial,” kata Dedi, Selasa (29/9/2026).
Kendati berstatus sebagai pelanggan komersial PDAM, Pemprov Jabar tetap memilih langkah preventif. Konstruksi dan aktivitas proyek dihentikan sementara sampai seluruh kajian dampak lingkungan, analisis AMDAL, serta kalkulasi pasokan air rampung dievaluasi secara transparan demi melindungi kepentingan masyarakat luas.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










