bukamata.id – Kasus dugaan perselingkuhan yang menyeret nama selebgram Julia Prastini alias Jule kini menjelma menjadi badai sosial yang bukan hanya mengguncang kehidupan pribadinya, tetapi juga menghantam karier profesional yang selama ini ia bangun.
Jika sebelumnya Jule dikenal sebagai sosok istri idaman dan ibu tiga anak yang kerap tampil harmonis dengan suaminya, chef asal Korea **Na Daehoon, kini citra itu runtuh seketika di mata publik.
Yang menarik, dampak dari isu ini tidak hanya menimpa Jule secara personal, tetapi juga menular ke dunia bisnis. Satu per satu brand yang pernah bekerja sama dengannya mulai bergerak cepat—menegaskan pemutusan kerja sama, menarik materi promosi, bahkan menghapus jejak kolaborasi di media sosial.
Fenomena ini menjadi contoh nyata bagaimana cancel culture di Indonesia bekerja: cepat, masif, dan berakar dari solidaritas netizen yang menuntut tanggung jawab moral publik figur.
Brand Ramai-ramai Angkat Tangan
Gelombang klarifikasi dimulai dari Jumuna Official, brand mukena yang sempat menggandeng Jule untuk kampanye produk. Melalui unggahan di TikTok pada Selasa (21/10/2025), mereka menegaskan bahwa sesi pemotretan bersama Jule telah dilakukan jauh sebelum isu perselingkuhan merebak.
“Kami hanya memilih agency photo yang memfasilitasi teman-teman brand dengan model, salah satunya termasuk Kak Julia, dan kami melakukan pemotretan sebelum adanya kejadian,” tulis pihak Jumuna. Mereka menegaskan tidak lagi memiliki hubungan kerja sama dan tidak ingin dikaitkan dengan urusan pribadi sang selebgram.
Langkah serupa diambil oleh Beauty Charm, brand skincare dan makeup yang mengumumkan pemutusan hubungan kerja sama melalui Instagram.
“Beauty Charm sudah tidak memiliki kerja sama dalam bentuk apa pun dengan Jule (Julia Prastini), dan yang bersangkutan tidak menerima royalti atau keuntungan apa pun dari Beauty Charm,” tulis mereka.
Sementara ITSMOSTLY, brand fashion yang sebelumnya menggandeng Jule, juga memutus kontrak dengan alasan menjaga reputasi. Mereka bahkan menjelaskan bahwa meski foto katalog lama masih beredar, seluruh transaksi hasil penjualan produk tidak lagi mengalir kepada Jule.
“Kami perlu waktu untuk mengganti katalog lama yang masih menampilkan Jule. Mohon pengertiannya,” tulis pihak ITSMOSTLY dengan nada hati-hati.
Tak mau ketinggalan, Yeppushop, brand hijab instan, juga memastikan kontrak mereka dengan Jule sudah berakhir sejak Juni 2025.
“Produk kolaborasi ‘Jule Instant’ sudah berhenti diproduksi sejak Juni 2025, dan semua foto serta video Jule sudah kami takedown,” tulis mereka di Instagram Story.
Netizen: “Cancel Culture yang Bermanfaat”
Fenomena pemutusan kontrak massal ini justru mendapat apresiasi luas dari publik. Banyak netizen menilai bahwa langkah tegas dari brand-brand tersebut menunjukkan keberpihakan pada nilai moral dan rasa empati terhadap pihak yang tersakiti, yakni Daehoon dan anak-anak mereka.
Salah satu komentar yang viral berbunyi: “Akhirnya brand mulai punya empati, bukan cuma ngejar engagement doang.”
Ada pula yang menulis dengan nada lebih emosional: “Kalau masih ada brand yang pakai Jule, siap-siap diboikot rame-rame!”
Beberapa pengguna TikTok bahkan menyerbu kolom komentar brand-brand lain yang belum memberi klarifikasi, menuntut agar mereka segera mengambil sikap. Fenomena ini menunjukkan bagaimana cancel culture di era digital bukan sekadar aksi boikot, tapi bentuk kolektif dari kontrol sosial publik.
Meski tak sedikit yang mengingatkan agar cancel culture tidak berubah jadi perundungan massal, sebagian besar warganet merasa gerakan itu kali ini “berada di pihak yang benar.”
Daehoon: Dari Luka Jadi Cinta Publik
Di sisi lain dari badai yang sama, Na Daehoon justru menjadi sosok yang paling disayangi publik. Ulang tahunnya yang ke-32 pada Rabu (22/10/2025) berubah menjadi momen mengharukan di media sosial.
Dalam unggahannya, Daehoon menulis pesan sederhana namun menyentuh hati:
“Untuk semua yang sudah mengucapkan selamat ulang tahun, terima kasih banyak. Karena kalian, aku kembali menyadari betapa banyak cinta yang aku terima.”
Ia juga menambahkan, “Perasaan ini akan aku jaga selalu, dan aku akan berusaha menjadi pribadi yang lebih hangat lagi.”
Unggahan itu disertai foto Daehoon bersama ketiga anaknya yang masih kecil, dengan kue sederhana bertuliskan “HBD Papah” dari saus di atas nasi goreng buatan anak-anaknya. Pemandangan itu langsung membuat netizen banjir air mata.
Komentar-komentar penuh dukungan membanjiri postingan tersebut:
“Laki-laki sekuat ini pantas dapat cinta sejuta umat.”
“Oppa Daehoon, jangan sedih, kami semua keluarga digitalmu.”
“Dari ‘Chef Korea-nya Jule’ jadi ‘Korea-nya netizen Indonesia’.”
Simpati yang Berbuah Tawaran
Tak hanya dukungan moral, Daehoon bahkan mulai menerima tawaran kerja sama dari berbagai brand. Salah satu yang paling menarik datang dari pengusaha dan influencer terkenal, Maharani Kemala, pemilik MK Skin.
Melalui pesan DM yang kemudian ia unggah di Instagram, Maharani secara terbuka mengajak Daehoon menjadi brand ambassador skincare miliknya.
“Kak Daehoon, apakah masih bisa menerima kerja sama untuk review produk skincare? Kami produksi sendiri dengan ketulusan hati. Semoga Kakak mau membalas DM saya,” tulis Maharani.
Pesan itu belum dibalas oleh Daehoon, namun Maharani justru mengunggah tangkapan layar percakapan tersebut sambil menulis, “Bantu tag biar di-notice ya! Semoga Oppa Daehoon baca.”
Unggahan itu langsung meledak di Instagram. Banyak netizen mendukung ide tersebut, bahkan berseloroh bahwa “Daehoon cocok jadi duta healing, bukan skincare.”
Antara Cancel dan Care
Kasus Jule dan Daehoon menjadi contoh nyata bagaimana cepatnya gelombang cancel culture bekerja di Indonesia. Ketika satu sisi kehilangan dukungan publik dan finansial karena dianggap melanggar nilai moral, sisi lainnya justru mendapat limpahan simpati dan peluang baru.
Namun di balik hiruk-pikuk klarifikasi brand dan komentar warganet, ada satu hal yang menarik: cancel culture kali ini tidak hanya dimaknai sebagai bentuk pembalasan, tapi juga pernyataan sikap kolektif masyarakat tentang etika, empati, dan keadilan emosional.
Dalam dunia digital yang serba transparan, reputasi kini menjadi mata uang paling mahal. Dan di tengah pusaran itu, kisah Jule dan Daehoon menjadi pelajaran tentang bagaimana cepatnya cinta publik bisa berubah arah—dari puja menjadi penolakan, dari simpati menjadi cancel.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









