bukamata.id – Di tengah riuhnya kehidupan mahasiswa, Mojang Bandung, Nabila Fitriani memilih berjalan dengan ritme yang berbeda. Bukan sekadar mengejar aktivitas, tapi juga mencari makna.
Mahasiswi Fakultas Dakwah Universitas Islam Bandung ini mengaku tengah berada dalam fase yang tidak sederhana—fase mengenali diri sendiri, sebuah proses yang menurut Mojang Bandung ini justru menjadi titik penting dalam perjalanan hidupnya.
“Sekarang lagi di fase mengenali diri. Lebih sering ngobrol sama diri sendiri, nanya sebenarnya aku maunya apa, tujuan hidup ke mana. Dan ternyata itu berat,” ujarnya saat ditemui di Kota Bandung.
Di balik kesibukannya sebagai mahasiswa semester akhir, Mojang Bandung ini aktif berorganisasi, membangun relasi, hingga tetap meluangkan waktu untuk keluarga. Sosoknya dikenal berbeda tergantung lingkungan.
“Kalau dulu di pesantren dikenal ‘oces’, ekstrovert banget. Tapi di kampus malah dibilang ambis, aktif, nggak bisa diam,” katanya sambil tersenyum.
Di tengah pencarian jati diri itu, Mojang Bandung ini mengambil satu keputusan besar: menjadi penghafal Al-Qur’an.
Bukan karena prestasi akademik semata, tapi karena kesadaran yang sederhana namun dalam.
“Aku merasa belum punya prestasi yang membanggakan. Jadi aku memilih menghafal Al-Qur’an, setidaknya jadi pegangan untuk bantu orang tua di akhirat,” tuturnya.
Namun, jalan tersebut bukan tanpa tantangan. Mojang Bandung ini mengakui, menjaga hafalan di tengah kesibukan dunia modern menjadi ujian tersendiri.
“Tantangannya itu kesadaran diri. Kadang bentrok sama kegiatan. Dunia itu selalu ada alasannya, jadi menyeimbangkan dengan akhirat itu nggak mudah,” ungkapnya.
Selain fokus pada ibadah personal, Mojang Bandung ini juga aktif menjadi relawan di panti asuhan. Di sanalah ia menemukan sisi lain dari kehidupan—tentang empati dan rasa syukur.
“Ketika ketemu anak-anak yang kurang kasih sayang, rasanya sedih. Tapi di sisi lain jadi bersyukur, ternyata kondisi kita masih jauh lebih baik,” katanya.
Pengalaman itu mengubah cara pandangnya terhadap hidup. Bagi Mojang Bandung ini, kebahagiaan bukan hanya soal pencapaian, tapi juga tentang hadir untuk orang lain.
Sebagai anak asli Bandung, Mojang Bandung ini menggambarkan kotanya dengan tiga kata: asri, tiris, dan meaningful.
“Tiris itu dinginnya Bandung kalau hujan. Asri karena masih banyak pohon. Dan meaningful karena penuh sejarah,” jelasnya.
Namun, Mojang Bandung ini juga melihat tantangan di balik perkembangan kota. Banyak ruang dan fasilitas yang dibangun, tapi kurang dirawat.
Karena itu, jika diberi kesempatan, ia tidak ingin sekadar membangun—melainkan menjaga.
“Banyak orang mau bikin sesuatu, tapi sedikit yang mau menjaga. Aku pengen jaga Bandung, supaya tetap jadi tempat pulang yang nyaman,” katanya.
Di akhir perbincangan, Mojang Bandung ini menyampaikan pesan sederhana untuk anak muda yang sedang berjuang, khususnya di Bandung.
“Semangat, jangan menyerah. Kamu keren, kamu hebat. Mungkin menurut orang lain biasa aja, tapi sebenarnya kamu sudah luar biasa sesuai kapasitasmu,” ucapnya.
Bagi Mojang Bandung ini, hidup bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, tapi siapa yang tetap berjalan dengan makna.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










