Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

HUT ke-28 IJTI, Korda Bandung Gerak Cepat Salurkan 6.000 Liter Air untuk Warga Kekeringan di Ibun

Rabu, 26 Agustus 2026 11:37 WIB

Buruan Daftar! Seleksi Petugas Haji 2027 Dibuka, Ini Jadwal dan Syarat Lengkap PPIH

Rabu, 26 Agustus 2026 11:18 WIB

Mimpi Jadi Nyata! Carlos Baleba Resmi Gabung Manchester United

Rabu, 26 Agustus 2026 10:35 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • HUT ke-28 IJTI, Korda Bandung Gerak Cepat Salurkan 6.000 Liter Air untuk Warga Kekeringan di Ibun
  • Buruan Daftar! Seleksi Petugas Haji 2027 Dibuka, Ini Jadwal dan Syarat Lengkap PPIH
  • Mimpi Jadi Nyata! Carlos Baleba Resmi Gabung Manchester United
  • Harga Emas Antam Hari Ini 26 Agustus 2026: 1 Gram Masih Rp2,768 Juta, Cek Daftar Lengkapnya
  • Pesta Biru 2026 Pecah! 32 Penggawa Persib Diperkenalkan, Target Gelar Keempat Makin Nyata
  • Dari Veteran Perang Dingin Italia Jadi KRI Gajah Mada: Sejarah Kapal Induk Pertama Indonesia!
  • Aktor Revaldo Kembali Tersandung Kasus Narkoba untuk Kesembilan Kalinya, Polisi Amankan Sabu di Apartemen
  • Gunung Geulis Sukabumi Membara! 4 Hektare Lahan Hangus, Api Mulai Dekati Pemukiman Warga
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Rabu, 26 Agustus 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Adu Sabar! Aksi Petugas Rekam KTP ODGJ Ini Malah Bak Shooting Film Action

By Aga GustianaSabtu, 4 April 2026 16:47 WIB5 Mins Read
Viral perekaman foto KTP ODGJ di Temanggung bak shooting film. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Sebuah pekarangan rumah sederhana di salah satu desa di Kabupaten Temanggung mendadak berubah menjadi lokasi set yang sibuk. Bukan untuk produksi layar lebar atau konten kreatif selebgram, melainkan sebuah misi kemanusiaan yang menguras peluh dan kesabaran. Sejumlah pria berseragam dinas tampak pontang-panting. Ada yang memegang laptop, ada yang mengarahkan lensa kamera, dan dua orang lainnya sigap membentangkan kain merah panjang sebagai latar belakang.

Suasananya riuh, persis bak shooting film kolosal yang penuh arahan sutradara. Bedanya, sang “aktor utama” dalam adegan ini adalah seorang warga penyandang disabilitas mental atau Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang sulit diprediksi gerakannya.

Perjuangan Tim Gempita (Gerakan Melayani Penduduk Rentan Administrasi Kependudukan) dari Disdukcapil Kabupaten Temanggung ini mendadak viral setelah akun TikTok @wulan_semar dan akun informasi regional mengunggah cuplikan proses perekaman e-KTP jemput bola tersebut. Video itu memotret realita betapa berharganya selembar kartu identitas bagi mereka yang sering terlupakan oleh sistem.

Diplomasi Rokok dan Bujuk Rayu

Mendapatkan foto wajah yang presisi dari seorang ODGJ bukanlah perkara mudah. Dalam video yang beredar, terlihat petugas harus mengikuti ke mana pun target bergerak. Saat target duduk, petugas ikut berjongkok. Saat target berdiri dan berjalan menjauh, tim pembawa kain merah harus berlari kecil menyesuaikan posisi agar latar belakang tetap tertutup warna merah standar pasfoto negara.

“Alhamdulillah perjalanan Tim Gempita kali ini mendapat support luar biasa dari kepala desa setempat. Beliau turun langsung mendampingi tim bahkan sangat sibuk membujuk target agar bersedia difoto,” tulis keterangan dalam unggahan tersebut.

Bahkan, demi mendapatkan atensi sang warga, petugas harus menggunakan metode “diplomasi” khusus. Mulai dari iming-iming makanan hingga sebungkus rokok agar sang warga mau diam sejenak di depan kamera.

Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Temanggung, Bagus Pinuntun, mengonfirmasi bahwa aksi dalam video tersebut merupakan bagian dari pelayanan rutin bagi penduduk rentan.

“Pencatatan kependudukan yang berwujud KTP itu boleh dikatakan pencatatan kependudukan versi paling sempurna. Dilengkapi dengan bukti yang bersangkutan difoto, sidik jari, kemudian face recognition,” kata Bagus saat dikonfirmasi, Sabtu (4/4/2026).

Mengapa Harus Ribet? Antara Sistem dan Realita Lapangan

Viralnya video ini memicu perdebatan hangat di kolom komentar. Tak sedikit netizen yang mempertanyakan mengapa prosesnya harus se-manual dan se-repot itu. Beberapa bahkan membandingkan teknologi birokrasi Indonesia dengan kecerdasan buatan (AI) yang dianggap bisa memanipulasi latar belakang secara instan tanpa perlu kain merah manual.

Berikut adalah beberapa potongan komentar netizen yang mewakili dua sisi mata uang:

“Salut buat petugasnya, sabarnya seluas samudra. Bayangin kalau yang difoto tiba-tiba ngamuk.”

“Hari gini masih bawa kain merah manual? Kenapa nggak pakai aplikasi atau AI buat ganti background-nya? Kasihan petugasnya harus lari-lari gitu, kelihatan ribet banget sistem kita.”

“Buat apa sih dipaksain kalau emang susah? Kasihan juga ODGJ-nya kayak tertekan gitu.”

@Kemanusiaan_First: “KTP itu kunci bansos dan BPJS, mending ribet sekarang daripada mereka sakit nggak bisa berobat karena nggak punya identitas. Semangat Pak Kades!”

Menanggapi anggapan bahwa proses tersebut “ribet” atau bisa digantikan dengan teknologi manipulasi gambar, Bagus Pinuntun memberikan penjelasan teknis yang mendasar. Menurutnya, perekaman data kependudukan terikat pada sistem SIAK (Sistem Informasi Administrasi Kependudukan) yang terpusat di Kemendagri dengan standar keamanan tinggi.

Sistem Face Recognition (FR) memerlukan keaslian data tanpa manipulasi digital berlebih untuk memastikan validitas identitas. Penggunaan kain merah secara fisik memastikan bahwa sistem dapat mendeteksi objek manusia secara kontras tanpa distorsi algoritma yang bisa menyebabkan kegagalan verifikasi di pusat data.

“Alat yang kita gunakan itu ada dua alat. Alat yang sifatnya mobile dan alat sifatnya tidak mobile. Yang dibawa kawan-kawan itu portable. Alat ini spesifik kalau lengkap pasti ada data base, siak, ada iris, ada sidik jari dan lain sebagainya,” tambah Bagus.

Mengejar 80 Persen Presisi Demi Akses Kesehatan

Bagus menjelaskan bahwa untuk penduduk rentan seperti ODGJ atau lansia yang lumpuh, sistem memberikan sedikit fleksibilitas namun tetap mengedepankan akurasi. Jika sidik jari sulit diambil karena kondisi fisik yang sudah rusak atau tidak kooperatif, maka pemindaian iris mata dan foto wajah menjadi tumpuan utama.

“Untuk penduduk rentan ini kan tidak bisa diambil semua secara sempurna seperti sidik jari kesusahan, ambil wajahnya juga susah tidak bisa sempurna. Ketidaksempurnaan ini oleh sistem difasilitasi sehingga ketika ngambil, makanya komputer ditenteng terus agar sinyal dan foto pas menyambung,” jelasnya.

Target utama dari keribetan bak shooting film ini adalah mencapai minimal 80 persen presisi foto agar data bisa masuk ke server pusat. Tanpa data yang masuk ke sistem, warga ODGJ tersebut tidak akan pernah memiliki NIK yang aktif. Tanpa NIK, mereka secara otomatis “terhapus” dari daftar penerima bantuan sosial (Bansos) maupun layanan kesehatan gratis melalui BPJS yang dibiayai pemerintah.

Perjuangan di lapangan memang terkadang terlihat melelahkan dan mengundang tawa bagi yang melihat, namun bagi Tim Gempita, ini adalah balapan dengan waktu. Setiap wajah yang berhasil terekam adalah satu nyawa yang kembali mendapatkan hak-hak dasarnya sebagai warga negara.

Maka, meski harus berjongkok di atas tumpukan batu atau berlari membawa kain merah di tengah terik matahari, proses ini tetap dijalani. Karena di balik lembaran kartu identitas yang “ribet” itu, ada jaminan akses kesehatan dan perlindungan sosial yang selama ini tak tersentuh oleh mereka yang rentan.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Harga Emas Antam Hari Ini 26 Agustus 2026: 1 Gram Masih Rp2,768 Juta, Cek Daftar Lengkapnya

Game Free Fire

Banjir Item Gratis! Kode Redeem FF 26 Agustus 2026 Siap Klaim, Ada Skin M1887 dan Diamond

Dari Oncom hingga Cokelat Keju, Surabi Waroeng Setiabudhi Punya Pesona yang Bikin Nagih

Bukan Sub-Zero Lagi! Joe Taslim Resmi Gantikan Steven Yeun Jadi Musuh Spider-Man?

Kuliner Unik Bandung yang Wajib Dicoba! Roti Labu Kukus Lembut dengan Topping Berlimpah

Sering Dikira Buas, Ternyata Ini Sejarah Asli Anjing Pitbull dan Alasan Dijuluki Sahabat Petani

Terpopuler
  • Janji Penguatan UMKM Dipertanyakan di Tengah Masifnya Penertiban PKL Kota Bandung
  • Mengenang 50 Tahun Kebersamaan, Alumni ITB 76 Unjuk Budaya Lokal Lewat Karnaval Sisingaan di Bandung
  • Garena Free Fire
    Kode Redeem FF Terbaru 21 Agustus 2026: Serbu Evolution Stone dan Skin Senjata Gratis!
  • Lepas Saat Dijemur, Pitbull Ngamuk Serang Anak 9 Tahun di Arjasari Bandung
  • Loyalis Fanatik Mulai Tergerus, Warga Makin Berani Kritik Dedi Mulyadi!
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.