Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Pangandaran Hidden Gems: Dari Gua Mistis hingga Air Terjun Biru yang Wajib Dikunjungi

Rabu, 27 Mei 2026 02:00 WIB

Liburan ke Bandung Tak Perlu Mahal! Ini 15 Spot Wisata Gratis & Murah Meriah

Rabu, 27 Mei 2026 01:00 WIB

Surga Kuliner Bogor: Dari Bapatong hingga Pizza Meteran, Ini 18 Rekomendasi Wajib!

Selasa, 26 Mei 2026 22:41 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Pangandaran Hidden Gems: Dari Gua Mistis hingga Air Terjun Biru yang Wajib Dikunjungi
  • Liburan ke Bandung Tak Perlu Mahal! Ini 15 Spot Wisata Gratis & Murah Meriah
  • Surga Kuliner Bogor: Dari Bapatong hingga Pizza Meteran, Ini 18 Rekomendasi Wajib!
  • Tak Perlu Jauh! Ini 9 Rekomendasi Tempat Wisata Hits di Purwakarta yang Bisa Dijangkau dari Stasiun
  • Pengusaha Tasikmalaya Bawa Rp1,3 Miliar Cash, Nekat Tawar Ikan Koi Irfan Hakim dan Bos Hartono tapi Ditolak!
  • Rumor Transfer Mariano Peralta: Rebutan Persija dan Persib, Hingga Gestur Bojan Hodak yang Jadi Sorotan
  • Bandung Kembali Dilanda Banjir, 772 KK Terdampak di Dayeuhkolot
  • TikTok Memanas! Video ‘TKW Taiwan 3 vs 1’ Viral, Banyak Link Diduga Jebakan Digital
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Rabu, 27 Mei 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Adu Sabar! Aksi Petugas Rekam KTP ODGJ Ini Malah Bak Shooting Film Action

By Aga GustianaSabtu, 4 April 2026 16:47 WIB5 Mins Read
Viral perekaman foto KTP ODGJ di Temanggung bak shooting film. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Sebuah pekarangan rumah sederhana di salah satu desa di Kabupaten Temanggung mendadak berubah menjadi lokasi set yang sibuk. Bukan untuk produksi layar lebar atau konten kreatif selebgram, melainkan sebuah misi kemanusiaan yang menguras peluh dan kesabaran. Sejumlah pria berseragam dinas tampak pontang-panting. Ada yang memegang laptop, ada yang mengarahkan lensa kamera, dan dua orang lainnya sigap membentangkan kain merah panjang sebagai latar belakang.

Suasananya riuh, persis bak shooting film kolosal yang penuh arahan sutradara. Bedanya, sang “aktor utama” dalam adegan ini adalah seorang warga penyandang disabilitas mental atau Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang sulit diprediksi gerakannya.

Perjuangan Tim Gempita (Gerakan Melayani Penduduk Rentan Administrasi Kependudukan) dari Disdukcapil Kabupaten Temanggung ini mendadak viral setelah akun TikTok @wulan_semar dan akun informasi regional mengunggah cuplikan proses perekaman e-KTP jemput bola tersebut. Video itu memotret realita betapa berharganya selembar kartu identitas bagi mereka yang sering terlupakan oleh sistem.

Diplomasi Rokok dan Bujuk Rayu

Mendapatkan foto wajah yang presisi dari seorang ODGJ bukanlah perkara mudah. Dalam video yang beredar, terlihat petugas harus mengikuti ke mana pun target bergerak. Saat target duduk, petugas ikut berjongkok. Saat target berdiri dan berjalan menjauh, tim pembawa kain merah harus berlari kecil menyesuaikan posisi agar latar belakang tetap tertutup warna merah standar pasfoto negara.

Baca Juga:  Link Video Vell TikTok Blunder Diburu Warganet, Pakar Ingatkan Hal Mengerikan yang Bisa Terjadi pada HP Anda!

“Alhamdulillah perjalanan Tim Gempita kali ini mendapat support luar biasa dari kepala desa setempat. Beliau turun langsung mendampingi tim bahkan sangat sibuk membujuk target agar bersedia difoto,” tulis keterangan dalam unggahan tersebut.

Bahkan, demi mendapatkan atensi sang warga, petugas harus menggunakan metode “diplomasi” khusus. Mulai dari iming-iming makanan hingga sebungkus rokok agar sang warga mau diam sejenak di depan kamera.

Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Temanggung, Bagus Pinuntun, mengonfirmasi bahwa aksi dalam video tersebut merupakan bagian dari pelayanan rutin bagi penduduk rentan.

“Pencatatan kependudukan yang berwujud KTP itu boleh dikatakan pencatatan kependudukan versi paling sempurna. Dilengkapi dengan bukti yang bersangkutan difoto, sidik jari, kemudian face recognition,” kata Bagus saat dikonfirmasi, Sabtu (4/4/2026).

Mengapa Harus Ribet? Antara Sistem dan Realita Lapangan

Viralnya video ini memicu perdebatan hangat di kolom komentar. Tak sedikit netizen yang mempertanyakan mengapa prosesnya harus se-manual dan se-repot itu. Beberapa bahkan membandingkan teknologi birokrasi Indonesia dengan kecerdasan buatan (AI) yang dianggap bisa memanipulasi latar belakang secara instan tanpa perlu kain merah manual.

Berikut adalah beberapa potongan komentar netizen yang mewakili dua sisi mata uang:

“Salut buat petugasnya, sabarnya seluas samudra. Bayangin kalau yang difoto tiba-tiba ngamuk.”

“Hari gini masih bawa kain merah manual? Kenapa nggak pakai aplikasi atau AI buat ganti background-nya? Kasihan petugasnya harus lari-lari gitu, kelihatan ribet banget sistem kita.”

“Buat apa sih dipaksain kalau emang susah? Kasihan juga ODGJ-nya kayak tertekan gitu.”

@Kemanusiaan_First: “KTP itu kunci bansos dan BPJS, mending ribet sekarang daripada mereka sakit nggak bisa berobat karena nggak punya identitas. Semangat Pak Kades!”

Menanggapi anggapan bahwa proses tersebut “ribet” atau bisa digantikan dengan teknologi manipulasi gambar, Bagus Pinuntun memberikan penjelasan teknis yang mendasar. Menurutnya, perekaman data kependudukan terikat pada sistem SIAK (Sistem Informasi Administrasi Kependudukan) yang terpusat di Kemendagri dengan standar keamanan tinggi.

Baca Juga:  Modus Jalur Khusus Masuk Akpol, Warga Pekalongan Rugi Miliaran: 'Katanya Bisa Lolos, Ternyata Tipu-tipu'

Sistem Face Recognition (FR) memerlukan keaslian data tanpa manipulasi digital berlebih untuk memastikan validitas identitas. Penggunaan kain merah secara fisik memastikan bahwa sistem dapat mendeteksi objek manusia secara kontras tanpa distorsi algoritma yang bisa menyebabkan kegagalan verifikasi di pusat data.

“Alat yang kita gunakan itu ada dua alat. Alat yang sifatnya mobile dan alat sifatnya tidak mobile. Yang dibawa kawan-kawan itu portable. Alat ini spesifik kalau lengkap pasti ada data base, siak, ada iris, ada sidik jari dan lain sebagainya,” tambah Bagus.

Mengejar 80 Persen Presisi Demi Akses Kesehatan

Bagus menjelaskan bahwa untuk penduduk rentan seperti ODGJ atau lansia yang lumpuh, sistem memberikan sedikit fleksibilitas namun tetap mengedepankan akurasi. Jika sidik jari sulit diambil karena kondisi fisik yang sudah rusak atau tidak kooperatif, maka pemindaian iris mata dan foto wajah menjadi tumpuan utama.

Baca Juga:  SALUT! Misi Sunyi Penjual Cilok di Bandung Mencerdaskan Bangsa dari Jalanan

“Untuk penduduk rentan ini kan tidak bisa diambil semua secara sempurna seperti sidik jari kesusahan, ambil wajahnya juga susah tidak bisa sempurna. Ketidaksempurnaan ini oleh sistem difasilitasi sehingga ketika ngambil, makanya komputer ditenteng terus agar sinyal dan foto pas menyambung,” jelasnya.

Target utama dari keribetan bak shooting film ini adalah mencapai minimal 80 persen presisi foto agar data bisa masuk ke server pusat. Tanpa data yang masuk ke sistem, warga ODGJ tersebut tidak akan pernah memiliki NIK yang aktif. Tanpa NIK, mereka secara otomatis “terhapus” dari daftar penerima bantuan sosial (Bansos) maupun layanan kesehatan gratis melalui BPJS yang dibiayai pemerintah.

Perjuangan di lapangan memang terkadang terlihat melelahkan dan mengundang tawa bagi yang melihat, namun bagi Tim Gempita, ini adalah balapan dengan waktu. Setiap wajah yang berhasil terekam adalah satu nyawa yang kembali mendapatkan hak-hak dasarnya sebagai warga negara.

Maka, meski harus berjongkok di atas tumpukan batu atau berlari membawa kain merah di tengah terik matahari, proses ini tetap dijalani. Karena di balik lembaran kartu identitas yang “ribet” itu, ada jaminan akses kesehatan dan perlindungan sosial yang selama ini tak tersentuh oleh mereka yang rentan.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Aktor Utama Santai Sebat Bak Shooting Film Berita Temanggung Disdukcapil Temanggung KTP ODGJ Temanggung Rekam KTP Ribet viral hari ini
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Pangandaran Hidden Gems: Dari Gua Mistis hingga Air Terjun Biru yang Wajib Dikunjungi

Liburan ke Bandung Tak Perlu Mahal! Ini 15 Spot Wisata Gratis & Murah Meriah

Surga Kuliner Bogor: Dari Bapatong hingga Pizza Meteran, Ini 18 Rekomendasi Wajib!

Tak Perlu Jauh! Ini 9 Rekomendasi Tempat Wisata Hits di Purwakarta yang Bisa Dijangkau dari Stasiun

TikTok Memanas! Video ‘TKW Taiwan 3 vs 1’ Viral, Banyak Link Diduga Jebakan Digital

Fenomena Viral TikTok ‘TKW Taiwan 3 Vs 1’, Netizen Berburu Link hingga Terancam Phishing

Terpopuler
  • Tebing Keraton
    Menjelajahi Pesona “Swiss van Java”: 5 Destinasi Unggulan di Bandung Barat yang Wajib Dikunjungi
  • Dulu Dipuja, Dokter Cantik Ini Kini Kurus Kering Digerogoti Penyakit Misterius? Ini Fakta Mengejutkannya!
  • Viral Video ‘3 vs 1’ TKW Taiwan: Jebakan Link Phishing di Balik Konten Sensasional
  • Link Full Video Bu Guru Bahasa Inggris Ramai Dicari, Ini Fakta Sebenarnya
  • Link Video Viral Guru Bahasa Inggris vs Murid Durasi Panjang Jadi Buruan Netizen, Hati-hati Modus Malware!
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.