bukamata.id – Rangkaian aksi damai mingguan yang dikenal sebagai Aksi Kamisan kembali menjadi sorotan tajam publik. Aksi yang selama bertahun-tahun konsisten diselenggarakan di depan Istana Negara untuk menuntut penyelesaian pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat masa lalu ini kini tengah diterpa polemik setelah sebuah video yang diunggah oleh konten kreator Danu Syarif (@danusyarif) viral di media sosial.
Dalam video viral tersebut, Danu Syarif menampilkan cuplikan suasana Aksi Kamisan di mana seorang individu sedang memberikan orasi di depan massa aksi. Orator tersebut secara terbuka menyatakan berbagai identitas gender dan orientasi seksual di depan mikrofon dengan mengatakan, “Kami lesbian, kami gay, kami biseksual, kami transgender, kami queer, kami intersex, kami aseksual, kami non binary”. Orator tersebut kemudian menegaskan posisi kelompoknya dalam ruang publik dengan kalimat, “Kami ada di antara kalian. Kami ada dan selalu ada,” sebelum menutup orasinya dengan pernyataan bahwa kehadiran mereka bukanlah sebuah ancaman.
Menanggapi tampilan tersebut, Danu Syarif melayangkan kritik keras. Ia secara terbuka mempertanyakan relevansi kehadiran kelompok tersebut dalam sebuah gerakan yang semestinya memiliki fokus spesifik pada isu penegakan HAM dan keadilan bagi para korban pelanggaran berat masa lalu.
Dalam narasi videonya, Danu mengungkapkan rasa herannya terhadap arah aksi tersebut. “Gue lebih ngonten tertarik ini nih, aksi Kamisan yang terkait pejuang HAM memberikan tempat kepada para LGBT, penyintas LGBT nih yang katanya haknya dilanggar,” ujarnya dikutip Sabtu (11/7/2026).
Lebih jauh, Danu melontarkan pandangan kontroversial terkait kodrat manusia dan mengklaim bahwa kehadiran kelompok tersebut justru menjadi bentuk pelanggaran HAM itu sendiri.
“Bro, yang ada mereka yang melanggar HAM daripada orang-orang yang dirayu sama dia… dia melanggar HAM duluan, bukan dia yang dilanggar atau dia jadi korban HAM, enggak”. Ia bahkan mendesak pemerintah untuk mengambil tindakan tegas terhadap fenomena ini dengan mengatakan, “Kita harusnya memerangi terkait LGBT. Kalau bisa ditetapkan hari nasional, hari anti-LGBT se-Indonesia. Pemerintah itu, tolong tuh digaungkan, dibuat hari itu. Itu penyakit”.
Unggahan Danu Syarif tersebut segera memicu perdebatan sengit di kolom komentar media sosial. Mayoritas warganet yang memberikan respons cenderung menunjukkan sikap kontra terhadap kehadiran kelompok LGBT dalam ruang Aksi Kamisan.
Berbagai pandangan muncul dari netizen, di antaranya ada yang menegaskan bahwa terdapat batasan yang jelas antara sikap menghargai sesama manusia dengan persetujuan terhadap perilaku yang mereka anggap sebagai penyimpangan.
“Kami menghargai perbedaan tapi tidak dengan penyimpangan,” ujar netizen.
Selain itu, terdapat netizen yang mengaitkan isu ini dengan kekhawatiran akan degradasi moral dan menekankan pentingnya perlindungan keluarga dengan menulis, “Akhir jaman. Jaga diri dan jaga keluarga masing-masing”.
Pandangan mengenai kodrat manusia tradisional juga menjadi sorotan utama dalam kolom komentar, di mana seorang netizen menegaskan, “Tuhan hanya menciptakan hanya pria dan wanita ..gak ada yg lain”.
Hingga berita ini diturunkan, pihak penyelenggara Aksi Kamisan belum memberikan tanggapan resmi terkait kritik yang dilontarkan oleh Danu Syarif. Perdebatan ini kini telah menjadi isu hangat yang memicu diskusi lebih luas mengenai batasan inklusi dalam ruang aktivisme sosial di Indonesia, serta sejauh mana gerakan HAM dapat mengakomodasi berbagai isu identitas yang muncul di tengah masyarakat yang beragam.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










