Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Menelusuri Jejak Spiritual dan Sejarah di Majalengka: 9 Destinasi Wisata Religi yang Penuh Misteri

Kamis, 17 September 2026 06:00 WIB

Super Air Jet Buka Lagi Rute Bandung-Medan dan Bandung-Bali, Cek Jadwal Lengkapnya

Kamis, 17 September 2026 05:00 WIB

Borneo FC Dibikin Tak Berkutik! Dewa United Cetak Dua Gol di Menit 90+ dan Rebut Puncak

Kamis, 17 September 2026 04:00 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Menelusuri Jejak Spiritual dan Sejarah di Majalengka: 9 Destinasi Wisata Religi yang Penuh Misteri
  • Super Air Jet Buka Lagi Rute Bandung-Medan dan Bandung-Bali, Cek Jadwal Lengkapnya
  • Borneo FC Dibikin Tak Berkutik! Dewa United Cetak Dua Gol di Menit 90+ dan Rebut Puncak
  • Tak Cuma 3 Poin! Persib Bawa Pulang Bonus Rp883 Juta Usai Menang atas FC Seoul
  • Menjelajah Kelezatan Karawang: 10 Wisata Kuliner Legendaris yang Menggoyang Lidah
  • Rekomendasi Kuliner Legendaris Garut: 4 Tempat Makan Ikonik yang Wajib Dicoba
  • Bio Farma Transfer Teknologi Vaksin ke Sejumlah Negara, Dorong Diplomasi Kesehatan Indonesia
  • Persib Bungkam FC Seoul 1-0, Maung Bandung Langsung Kuasai Puncak Grup E ACL Two
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 17 September 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Sosok Febrie Adriansyah, Sang Pemburu Jadi Buruan? Menguak Sisi Lain Kasus Korupsi yang Mengguncang Negeri!

By Aga GustianaKamis, 9 Juli 2026 09:18 WIB6 Mins Read
Febrie Adriansyah. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Nama Dr. Febrie Adriansyah, S.H., M.H., mendadak kembali menjadi pusat gravitasi pemberitaan nasional pada Rabu, 8 Juli 2026. Sebagai Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung RI, sosok yang dikenal dingin dan taktis ini kini berdiri di tengah pusaran sorotan setelah rumahnya dijaga ketat oleh aparat TNI, menyusul operasi penggeledahan besar-besaran yang dilakukan oleh tim gabungan Korps Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Kortas Tipidkor) Polri dan Ditreskrimsus Polda Metro Jaya.

Operasi yang menyasar berbagai lokasi di Jakarta Selatan hingga hunian mewah di Sentul ini bukan sekadar penggeledahan biasa. Penemuan brankas-brankas tersembunyi—salah satunya tertanam di balik dinding kayu sebuah restoran di Cipete—yang berisi tumpukan uang asing serta emas batangan senilai ratusan miliar rupiah, memberikan atmosfer dramatis layaknya film laga. Situasi yang melibatkan penjagaan ketat oleh satuan Brimob bersenjata laras panjang hingga keterlibatan personel TNI di kediaman Febrie, memicu spekulasi luas di tengah masyarakat mengenai arah penyidikan kasus korupsi dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) terkait perkara PLN batu bara, PT Asabri, dan Krakatau Steel.

Sang Jaksa dari Jambi: Rekam Jejak yang Membentuk Karakter

Di balik seragam korps Adhyaksa yang ia kenakan, Febrie Adriansyah memiliki akar yang sederhana. Lahir di Jakarta pada 19 Februari 1968, ia justru menghabiskan masa kecil hingga remajanya di Jambi. Kota inilah yang menempa mentalitas dan karakternya sebelum ia melangkah ke jenjang pendidikan tinggi di Universitas Negeri Jambi. Semangat belajarnya tak berhenti di sana; ia terus mematangkan keilmuan hukumnya dengan menempuh studi S2 dan S3 Ilmu Hukum di Universitas Airlangga, Surabaya, sebuah modal intelektual yang membawanya menjadi salah satu arsitek penegakan hukum paling disegani di Indonesia saat ini.

Karier Febrie adalah potret dedikasi yang panjang. Ia memulai debutnya sebagai jaksa di Kejaksaan Negeri Sungai Penuh, Jambi, pada tahun 1996. Perjalanannya menapaki tangga karier tidak instan. Ia pernah memegang kendali di berbagai daerah, mulai dari Kepala Kejaksaan Negeri Bandung, Asisten Tindak Pidana Khusus (Aspidsus) Kejaksaan Tinggi Jawa Timur, hingga menjabat sebagai Wakajati di Yogyakarta dan DKI Jakarta. Kepemimpinannya semakin matang saat ia dipercaya menjadi Kepala Kejaksaan Tinggi Nusa Tenggara Timur dan kemudian kembali ke Jakarta untuk memimpin Kejati DKI Jakarta pada Juli 2021. Puncak kariernya sebagai Jampidsus yang diemban sejak 10 Januari 2022, menjadikannya ujung tombak negara dalam memberantas mega korupsi yang merongrong ekonomi bangsa.

“Jampidsus” dan Rekam Jejak Penakluk Kasus Kakap

Sejak menduduki kursi Jampidsus, Febrie dikenal sebagai sosok yang tidak mengenal kompromi. Di bawah komandonya, Kejaksaan Agung seolah bertransformasi menjadi institusi yang paling aktif membongkar skandal korupsi “kelas kakap”. Ia memimpin tim yang berhasil menguliti berbagai kasus yang sebelumnya dianggap sulit disentuh.

Publik tentu masih ingat dengan keberaniannya menangani Mega Skandal Korupsi Tata Niaga Timah di PT Timah (2015–2022) yang merugikan negara hingga angka fantastis, Rp271 triliun. Di bawah pengawasannya, nama-nama besar dari berbagai kalangan, termasuk figur publik, tidak luput dari proses hukum. Selain itu, penanganan kasus korupsi BTS 4G Bakti Kominfo yang menyeret mantan menteri, kasus korupsi Jiwasraya, hingga rekayasa jual beli emas ilegal PT Antam yang merugikan negara triliunan rupiah, menjadi bukti nyata “taring” Febrie dalam menuntaskan perkara.

Tindakan tegasnya terhadap mafia peradilan, seperti dalam kasus suap Ronald Tannur yang melibatkan oknum hakim dan mantan pejabat Mahkamah Agung, semakin menegaskan posisinya sebagai jaksa yang berani melawan arus. Baginya, penegakan hukum bukan sekadar formalitas, melainkan upaya untuk memulihkan kerugian negara dan memberikan efek jera yang nyata bagi para koruptor.

Kekayaan dan Transparansi LHKPN

Di tengah sorotan yang mengarah kepadanya, data harta kekayaan Febrie Adriansyah menjadi subjek perhatian publik. Berdasarkan situs e-LHKPN KPK dengan laporan terbaru per 31 Desember 2024, total kekayaan Febrie tercatat sebesar Rp18.261.445.180.

Rincian kekayaannya menunjukkan dominasi aset berupa tanah dan bangunan yang tersebar di Jakarta Selatan, Tangerang Selatan, dan Bandung, dengan nilai mencapai Rp14,8 miliar. Selain itu, ia melaporkan kepemilikan alat transportasi berupa kendaraan mewah seperti Toyota Alphard dan Toyota Land Cruiser, serta beberapa aset lainnya. Menariknya, dalam laporan tersebut, Febrie tercatat memiliki utang Rp0, yang menunjukkan profil keuangan yang bersih dan stabil. Kekayaan yang ia miliki tentu menjadi poin yang kini sedang dicermati oleh publik di tengah operasi penegakan hukum yang melibatkan berbagai lokasi elit tersebut.

Kegelisahan Publik: Ketika Keadilan Terasa Jauh

Di balik gegap gempita penggeledahan dan angka-angka fantastis yang ditemukan penyidik, media sosial menjadi wadah tumpahan kekecewaan masyarakat. Publik seolah sudah mencapai titik jenuh melihat drama korupsi yang tak kunjung usai. Komentar-komentar pedas dan curahan hati masyarakat ini mencerminkan rasa frustrasi terhadap sistem yang dirasa belum memberikan keadilan bagi “rakyat kecil”.

“Asli muak gw sama berita yg GK lain kasus korupsi, knp sich GK di buat hukum yg berat buat pelaku korupsi biar ada jera,” ujar salah seorang netizen yang mewakili perasaan banyak orang.

Tak sedikit pula yang membandingkan kontrasnya kehidupan para koruptor dengan perjuangan hidup rakyat biasa. Seorang ibu rumah tangga menuliskan curahan hatinya, “Disaat kami pejuang cuan halal harus berangkat setelah subuh, pulang pada saat Isya, dan kami emak-emak saat sampai rumah dan libur kerja masih harus beberes urusan rumah… eeee itu ada orang yang dengan mudahnya nyolong duit negara hidup bermewah-mewahan… ckckckck.”

Rasa skeptisisme masyarakat pun semakin tebal ketika melihat tumpukan uang dan emas hasil sitaan. Pertanyaan mengenai ke mana perginya dana-dana tersebut setelah disita menjadi tanda tanya besar. “Kira-kira semua uang korupsi yang dikumpulkan itu dikemanakan yak? Dikembalikan ke negara atau dibagi-bagi?” tanya seorang netizen, menyiratkan keraguan akan transparansi pengembalian aset negara ke tangan rakyat.

Titik Balik di Tengah Badai

Operasi penggeledahan yang dilakukan oleh tim gabungan Polri dan Polda Metro Jaya pada Juli 2026 ini menandai babak baru dalam penyidikan kasus korupsi PLN, Asabri, dan Krakatau Steel. Penemuan brankas yang tertanam di dinding restoran hingga emas seberat 74 kilogram dan uang tunai senilai Rp476 miliar di kawasan hunian elit Sentul, menunjukkan betapa kompleks dan canggihnya modus operandi para pelaku dalam menyembunyikan aset hasil tindak pidana.

Irjen Totok Suharyanto selaku Kakortas Tipidkor Polri menegaskan bahwa langkah ini adalah bagian dari joint investigation yang sangat serius, merespons atensi langsung dari Presiden Republik Indonesia. Bagi Febrie Adriansyah, situasi di mana kediamannya harus dijaga ketat oleh aparat TNI di tengah operasi ini tentu merupakan ujian berat dalam kariernya.

Sebagai seorang jaksa yang selama ini berada di garda terdepan dalam membongkar kedok korupsi, posisi Febrie kini berada di titik krusial. Publik sedang mengamati dengan saksama bagaimana ia dan institusi Kejaksaan Agung merespons serangkaian peristiwa ini. Apakah ini adalah bagian dari upaya sistematis untuk melemahkan perlawanan terhadap pemberantasan korupsi, ataukah ini adalah babak baru dalam pembersihan internal aparat penegak hukum?

Febrie Adriansyah tetap menjadi sosok yang enigmatik. Dengan rekam jejak yang panjang, integritas yang diuji melalui puluhan kasus besar, dan kini menghadapi dinamika hukum yang luar biasa di rumahnya sendiri, kisah sang Jampidsus ini belum mencapai babak akhir. Bagi Indonesia, kasus ini menjadi ujian besar bagi komitmen penegakan hukum yang adil, transparan, dan tanpa pandang bulu, di mana pun akar korupsi itu disembunyikan—bahkan jika harus dicari di balik dinding-dinding restoran yang paling tersembunyi sekalipun.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Super Air Jet Buka Lagi Rute Bandung-Medan dan Bandung-Bali, Cek Jadwal Lengkapnya

Bio Farma Transfer Teknologi Vaksin ke Sejumlah Negara, Dorong Diplomasi Kesehatan Indonesia

Warga Bandung Jangan Asal Beli! 25 Merek Beras Fortifikasi Diduga Tak Sesuai Label

Kebakaran Ciumbuleuit Bongkar Dugaan Penimbunan Sampah Ilegal, 19 Warga Terdampak

Viral! Gegara Puntung Rokok, WNI Ini Masuk Penjara di Malaysia

DIKULITI DI FORUM DUNIA?! Nama Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda Mendadak Jadi Sorotan PBB!

Terpopuler
  • Jadwal Lengkap FC Seoul vs Persib Bandung di ACL 2: Waktu Kick-off dan Link Nonton
  • Semarak HUT TNI ke-81, Ribuan Peserta Siap Ikuti Fun Run di Cimahi
  • Game Free Fire
    Deretan Kode Redeem FF 15 September 2026, Klaim Reward Senjata Eksklusif Sekarang Juga!
  • Tradisi 60 Tahun Berujung Hujatan! Menelusuri Fakta di Balik Hebohnya Simbang Kulon Night Carnival 2026
  • Link Live Streaming ACL 2: FC Seoul vs Persib Bandung, Nonton Gratis di Sini!
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.