Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Perjuangan Tanpa Kenal Lelah: 10 Pemain Indonesia Sukses Bendung Serangan Malaysia di ASEAN Cup 2026

Senin, 28 September 2026 21:41 WIB

Dari Bandung ke Bangkok! Persib Siap Tempur di Shopee Cup, Ini Daftar Lawannya

Senin, 28 September 2026 21:27 WIB
bsu.kemnaker.go.id untuk mengecek penerima BSU 2025 secara resmi dari Kemnaker.

Bansos Tahap 4 2026 Cair Oktober? Ini Rincian PKH, BPNT dan Bantuan Beras untuk KPM

Senin, 28 September 2026 21:19 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Perjuangan Tanpa Kenal Lelah: 10 Pemain Indonesia Sukses Bendung Serangan Malaysia di ASEAN Cup 2026
  • Dari Bandung ke Bangkok! Persib Siap Tempur di Shopee Cup, Ini Daftar Lawannya
  • Bansos Tahap 4 2026 Cair Oktober? Ini Rincian PKH, BPNT dan Bantuan Beras untuk KPM
  • Kasus Pembunuhan Ibu Tiri di Bandung, Polisi Telusuri Motif dan Kondisi Pelaku
  • Kronologi Baliho Roboh di Jalan Buah Batu Bandung: 4 Orang Terjebak, 1 Luka
  • Hujan Deras Picu Banjir Cisarua, Warga Sakit Terjebak hingga Dievakuasi Damkar
  • Persib Tantang Port FC di Thailand, Ikwan Tanamal Bidik Tiga Poin di Shopee Cup
  • DIANGGAP LUCU PADAHAL JENIUS! Sisi Lain Aksi Viral Bocah SD Geguritan yang Bikin Netizen Kagum
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Senin, 28 September 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Cara Ilmiah Redakan Patah Hati, Menurut Ahli

By Aga GustianaMinggu, 12 Januari 2025 21:47 WIB2 Mins Read
Ilustrasi patah hati. (Foto: Pixabay)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Sebuah penelitian yang terbit di jurnal Psychiatric Research pada Mei 2024 mengungkap cara ilmiah untuk meredakan sakit hati akibat putus cinta.

Penelitian ini melibatkan 36 sukarelawan dengan sindrom trauma cinta. Mereka diminta untuk mengenakan headset seharga seharga £400 (setara Rp8,3 juta) beberapa menit dalam sehari. Alat ini berfungsi untuk menstimulasi otak dengan arus listrik ringan.

Mereka dibagi ke dalam tiga kelompok yang masing-masing memakai headset Transcranial Direct Current Stimulation atau stimulasi arus searah transkranial (tDCS) selama 20 menit sebanyak dua kali sehari dalam lima hari.

Satu kelompok diarahkan ke dorsolateral prefrontal cortex (DLPFC), satu kelompok ditujukan pada ventrolateral prefrontal cortex (VLPFC), dan satu lagi headset dimatikan.

Studi neuroimaging sebelumnya menunjukkan hubungan neuropsikologis antara pengalaman patah hati dengan dua bagian otak tersebut.

Penelitian itu menunjukkan tDCS dapat mengurangi sindrom trauma atas cinta selepas patah hati.

Sindrom trauma atas cinta dapat menyebabkan tekanan emosional, depresi, kecemasan, insomnia, perubahan suasana hati, pikiran obsesif, perasaan tidak aman, tidak berdaya, hingga meningkatkan resiko bunuh diri.

“Protokol DLPFC dan VLPFC secara signifikan mengurangi gejala, dan memperbaiki keadaan depresi dan kecemasan setelah intervensi,” kata peneliti dari Universitas Zanjan di Iran dan Universitas Bielefeld di Jerman mengutip The Guardian, Jumat (21/6).

Namun, hasil penelitian itu menyatakan stimulasi DLPFC lebih efisien dibandingkan stimulasi VLPFC untuk menyembuhkan sindrom trauma atas cinta.

Sebulan setelah terapi dihentikan, para relawan masih merasa lebih baik. Para penulis studi mengatakan, “Hasil yang menjanjikan ini membutuhkan replikasi dalam uji coba yang lebih besar.”

Mengutip akun X Rumah Sakit UI, tDCS merupakan alat di bidang neurologi yang dapat memberikan stimulasi langsung ke otak, menstimulus langsung dengan mengirimkan arus listrik berdaya lemah (1-2 mA).

Dalam beberapa tahun terakhir, teknik seperti tDCS telah diperkenalkan pada penelitian klinis. Studi percontohan di NHS dilaporkan sedang menguji headset serupa untuk melihat apakah headset tersebut dapat membantu mengobati depresi ringan.

“Karena emosi negatif mendominasi setelah kegagalan hubungan emosional dan terjadi disregulasi emosi, regulasi emosi dianggap sebagai tujuan pengobatan utama. Meskipun pendekatan pengobatan yang efektif seperti terapi perilaku kognitif sudah ada, pendekatan pengobatan yang inovatif dan komplementer sangat berharga, karena pengobatan tersebut tidak berhasil pada semua pasien,” ungkap penelitian tersebut.

“Mempertimbangkan hubungan antara trauma cinta dan regulasi emosi, yang dikaitkan dengan aktivasi area otak tertentu dan metode pengobatan jaringan yang menangani area otak yang terlibat mungkin menjanjikan.”

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

5 Warmindo di Bandung yang Cocok untuk Kulineran Malam, Pilihan Indomie dengan Banyak Topping

Jejak Aiswarya Rai Terulang? Gede Aiswarya Bikin Indonesia Gempar di Mister Internasional!

Aksi Gila Inces Syahrini di Pestapora 2026! 7 Tahun Vakum Langsung Bagi-bagi Dollar ke Penonton!

Wajib Coba! 4 Kupat Tahu Enak di Bandung, Cocok untuk Sarapan hingga Kuliner Malam

Bikin Ngiler! 4 Rekomendasi Ayam Bakar Bandung 2026, Ada Taliwang hingga Kalasan

Gede Aiswarya Raih Juara 3 Mister International 2026, Momen Reaksi Finalis Viral di Medsos, Ada Apa?

Terpopuler
  • Herwin Muchtar Siap Berebut Kursi Ketua Kadin Kota Bandung, Usung Program Goes Global hingga Digitalisasi
  • HUT ke-38 Bikers Brotherhood 1% MC Digelar di Bandung, Angkat Semangat Persaudaraan
  • Lirik Pemimpin Muda Otentik untuk Jabar, Gema Bangsa Pasang Target Mutlak di Pemilu 2029
  • Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa
    Bursa Pilgub Jabar: Nama Purbaya Yudhi Sadewa Mulai Diperhitungkan, Parpol Pilih Wait and See
  • Heboh Kemunculan ‘Cucu Krakatau’ Seluas 32,8 Hektare Usai Erupsi, Begini Penjelasan Badan Geologi
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.