Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru
pembunuhan

Tragis! Perempuan di Bandung Tewas Ditikam Mantan Kakak Ipar, Diduga Karena Dendam Lama

Minggu, 10 Mei 2026 20:03 WIB

Link Video Bu Guru Bahasa Inggris Diburu Netizen, Identitas Pemeran Masih Misterius

Minggu, 10 Mei 2026 19:22 WIB

Dua Gol Adam Alis Hancurkan Mimpi Juara Persija, Persib Kian Kokoh di Puncak

Minggu, 10 Mei 2026 18:00 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Tragis! Perempuan di Bandung Tewas Ditikam Mantan Kakak Ipar, Diduga Karena Dendam Lama
  • Link Video Bu Guru Bahasa Inggris Diburu Netizen, Identitas Pemeran Masih Misterius
  • Dua Gol Adam Alis Hancurkan Mimpi Juara Persija, Persib Kian Kokoh di Puncak
  • Al Ghazali dan Alyssa Daguise Resmi Jadi Orang Tua, Nama Putrinya Curi Perhatian
  • 4 Rumah Makan Sunda di Bandung Ini Bikin Nagih, Wajib Dicoba saat Liburan
  • NONTON GRATIS? Ini Link Siaran Langsung Persija vs Persib di Stadion Segiri
  • Sinte ‘Sweet Time’ Beredar di Lembang, Polisi Ringkus Dua Pemuda Muda
  • Duel Gengsi! Persib vs Persija di Segiri, Drama Cuaca hingga Absennya Pemain Kunci
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Minggu, 10 Mei 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Cara Ilmiah Redakan Patah Hati, Menurut Ahli

By Aga GustianaMinggu, 12 Januari 2025 21:47 WIB2 Mins Read
Ilustrasi patah hati. (Foto: Pixabay)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Sebuah penelitian yang terbit di jurnal Psychiatric Research pada Mei 2024 mengungkap cara ilmiah untuk meredakan sakit hati akibat putus cinta.

Penelitian ini melibatkan 36 sukarelawan dengan sindrom trauma cinta. Mereka diminta untuk mengenakan headset seharga seharga £400 (setara Rp8,3 juta) beberapa menit dalam sehari. Alat ini berfungsi untuk menstimulasi otak dengan arus listrik ringan.

Mereka dibagi ke dalam tiga kelompok yang masing-masing memakai headset Transcranial Direct Current Stimulation atau stimulasi arus searah transkranial (tDCS) selama 20 menit sebanyak dua kali sehari dalam lima hari.

Satu kelompok diarahkan ke dorsolateral prefrontal cortex (DLPFC), satu kelompok ditujukan pada ventrolateral prefrontal cortex (VLPFC), dan satu lagi headset dimatikan.

Baca Juga:  Begini Penjelasan Ilmiah Soal Sering Mimpi Buruk Berulang-ulang

Studi neuroimaging sebelumnya menunjukkan hubungan neuropsikologis antara pengalaman patah hati dengan dua bagian otak tersebut.

Penelitian itu menunjukkan tDCS dapat mengurangi sindrom trauma atas cinta selepas patah hati.

Sindrom trauma atas cinta dapat menyebabkan tekanan emosional, depresi, kecemasan, insomnia, perubahan suasana hati, pikiran obsesif, perasaan tidak aman, tidak berdaya, hingga meningkatkan resiko bunuh diri.

“Protokol DLPFC dan VLPFC secara signifikan mengurangi gejala, dan memperbaiki keadaan depresi dan kecemasan setelah intervensi,” kata peneliti dari Universitas Zanjan di Iran dan Universitas Bielefeld di Jerman mengutip The Guardian, Jumat (21/6).

Baca Juga:  Arab Saudi Dulu Subur dan Hijau: Penelitian Ungkap Jejak Sungai, Danau, dan Migrasi Kuno

Namun, hasil penelitian itu menyatakan stimulasi DLPFC lebih efisien dibandingkan stimulasi VLPFC untuk menyembuhkan sindrom trauma atas cinta.

Sebulan setelah terapi dihentikan, para relawan masih merasa lebih baik. Para penulis studi mengatakan, “Hasil yang menjanjikan ini membutuhkan replikasi dalam uji coba yang lebih besar.”

Mengutip akun X Rumah Sakit UI, tDCS merupakan alat di bidang neurologi yang dapat memberikan stimulasi langsung ke otak, menstimulus langsung dengan mengirimkan arus listrik berdaya lemah (1-2 mA).

Dalam beberapa tahun terakhir, teknik seperti tDCS telah diperkenalkan pada penelitian klinis. Studi percontohan di NHS dilaporkan sedang menguji headset serupa untuk melihat apakah headset tersebut dapat membantu mengobati depresi ringan.

Baca Juga:  Main Game Ternyata Punya Dampak Positif Bagi Anak, Begini Kata Studi

“Karena emosi negatif mendominasi setelah kegagalan hubungan emosional dan terjadi disregulasi emosi, regulasi emosi dianggap sebagai tujuan pengobatan utama. Meskipun pendekatan pengobatan yang efektif seperti terapi perilaku kognitif sudah ada, pendekatan pengobatan yang inovatif dan komplementer sangat berharga, karena pengobatan tersebut tidak berhasil pada semua pasien,” ungkap penelitian tersebut.

“Mempertimbangkan hubungan antara trauma cinta dan regulasi emosi, yang dikaitkan dengan aktivasi area otak tertentu dan metode pengobatan jaringan yang menangani area otak yang terlibat mungkin menjanjikan.”

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

ilmiah patah hati Studi
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Link Video Bu Guru Bahasa Inggris Diburu Netizen, Identitas Pemeran Masih Misterius

Al Ghazali dan Alyssa Daguise Resmi Jadi Orang Tua, Nama Putrinya Curi Perhatian

4 Rumah Makan Sunda di Bandung Ini Bikin Nagih, Wajib Dicoba saat Liburan

Video ‘Bu Guru Bahasa Inggris dan Murid Viral di TikTok, Waspada Penipuan!

TERUNGKAP! Fakta di Balik Video Viral Guru Bahasa Inggris yang Gegerkan TikTok dan X

Bikin Pangling! 6 Wisata Hits Purwakarta 2026 Ini Punya Vibes ala Luar Negeri

Terpopuler
  • Link Full Video Guru Bahasa Inggris Viral Banyak Dicari, Publik Diingatkan Bahaya Phishing
  • Link Video Guru Bahasa Inggris Viral Berdurasi Panjang Ramai Dicari, Ini Faktanya
  • Heboh! Link Video Viral Guru Bahasa Inggris Full Durasi Ramai Dicari Netizen
  • Video ‘Bu Guru Bahasa Inggris dan Murid Viral di TikTok, Waspada Penipuan!
  • Link Video Viral ‘Vell TikTok Blunder’, Warganet Ramai Cari Versi Asli
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.