bukamata.id – Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Barat memperkuat pengawasan terhadap aktivitas di ruang digital selama pelaksanaan Operasi Antik Lodaya 2026. Operasi pemberantasan peredaran narkotika tersebut dijadwalkan berlangsung selama 10 hari, mulai 7 hingga 16 Oktober 2026.
Irwasda Polda Jabar Kombes Pol. Benny Subandi mengatakan pengawasan ruang digital menjadi salah satu bagian dari upaya kepolisian untuk memutus mata rantai peredaran narkotika di wilayah Jawa Barat.
Menurut Benny, penanganan kasus narkotika tidak cukup hanya dengan menangkap pelaku yang berada di tingkat bawah. Setiap pengungkapan harus dikembangkan untuk mengetahui struktur jaringan secara lebih menyeluruh.
“Penanganan tidak bisa dilakukan secara parsial. Setiap pengungkapan wajib dikembangkan untuk mengetahui siapa pengendalinya, dari mana barang berasal, bagaimana jalur distribusinya, hingga siapa saja yang terlibat dalam jaringan tersebut,” kata Benny di Bandung, Kamis (1/10/2026).
Operasi Antik Lodaya Sasar Jaringan Narkotika
Dalam Operasi Antik Lodaya 2026, Polda Jabar mengedepankan pola penanganan dari hulu hingga hilir. Artinya, penyidik tidak hanya berfokus pada orang yang menjadi kurir atau pengedar di lapangan, tetapi juga berupaya mengungkap asal narkotika, jalur distribusi, hingga pihak yang berada di balik jaringan.
Benny menjelaskan, keterpaduan antarfungsi kepolisian menjadi bagian penting dalam menentukan sasaran operasi. Informasi intelijen akan menjadi salah satu dasar dalam menentukan langkah penindakan.
Informasi tersebut kemudian dikembangkan melalui berbagai tahapan, mulai dari upaya preemtif dan preventif hingga penegakan hukum terhadap pihak yang diduga terlibat dalam jaringan peredaran narkotika.
Aktivitas Digital Ikut Diawasi
Polda Jabar juga memperkuat pemantauan terhadap aktivitas yang berkaitan dengan peredaran narkotika di ruang digital.
Langkah tersebut dilakukan seiring dengan berkembangnya pola komunikasi dan transaksi yang dapat memanfaatkan teknologi digital. Pengawasan di ruang digital diharapkan dapat membantu aparat mengidentifikasi aktivitas yang berkaitan dengan jaringan narkotika.
“Informasi tersebut kemudian ditindaklanjuti melalui langkah preemtif dan preventif hingga penindakan, termasuk memperkuat pengawasan terhadap aktivitas yang berkaitan dengan peredaran narkotika di ruang digital,” ujar Benny.
Menurut dia, pendekatan tersebut diperlukan untuk memutus berbagai mata rantai yang berpotensi memperluas peredaran gelap narkotika di Jawa Barat.
Personel Diminta Profesional
Selain mengejar target pengungkapan jaringan narkotika, Benny mengingatkan personel yang terlibat dalam Operasi Antik Lodaya 2026 agar tetap menjalankan tugas sesuai ketentuan.
Setiap tindakan kepolisian di lapangan, kata dia, harus mengacu pada standar operasional prosedur (SOP) dan koridor hukum yang berlaku.
Pengawasan internal juga akan diperkuat selama operasi berlangsung. Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi potensi penyimpangan sekaligus mencegah penyalahgunaan kewenangan oleh personel.
Benny menegaskan seluruh jajaran harus menjalankan operasi secara profesional dengan mengedepankan koordinasi antarbagian.
“Setiap jajaran diharapkan dapat menjalankan tugas secara adaptif, responsif, kolaboratif, dan solutif demi menjaga kondusivitas wilayah Jawa Barat,” ujarnya.
Dengan pelaksanaan Operasi Antik Lodaya 2026 pada 7–16 Oktober, Polda Jabar menargetkan penanganan peredaran narkotika dilakukan secara lebih menyeluruh, mulai dari pemetaan informasi, pengawasan aktivitas digital, pengungkapan jaringan hingga penindakan terhadap pihak-pihak yang terlibat.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










