bukamata.id – Kebijakan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang melarang kegiatan study tour bagi sekolah-sekolah di wilayahnya mulai menunjukkan dampak signifikan, terutama bagi sektor pariwisata dan transportasi.
Salah satu yang paling terdampak adalah perusahaan penyedia jasa transportasi bus pariwisata, seperti PO Tifanha di Cirebon.
Manager Marketing PO Tifanha, Irfan Firmansyah, mengungkapkan bahwa sejak kebijakan ini diterapkan, pemesanan bus mengalami penurunan drastis. Bahkan, sekitar 50 persen konsumen yang sudah memesan jasa mereka memilih untuk membatalkan perjalanan.
“Sangat berdampak sekali pada perusahaan otobus. Sedikitnya 50 persen konsumen kami memilih untuk membatalkan pesanan,” ujar Irfan dikutip Senin (10/3/2025).
Menurutnya, sebagian besar sekolah yang sebelumnya telah merencanakan perjalanan study tour pascalebaran 2025, khususnya pada April dan Mei, terpaksa membatalkan agenda mereka.
Data sementara dari PO Tifanha mencatat ada 30 pemesanan untuk periode tersebut, namun 10 di antaranya sudah dibatalkan. Sementara itu, sisanya memilih untuk mengubah tujuan perjalanan ke dalam kota atau dalam provinsi.
Selain kerugian akibat pembatalan pesanan, perubahan rute perjalanan juga menjadi tantangan bagi perusahaan transportasi wisata.
Banyak sekolah yang awalnya merencanakan perjalanan ke Jawa Tengah dan Jawa Timur kini memilih destinasi dalam kota atau dalam provinsi.
Hal ini mengurangi pendapatan perusahaan, karena perjalanan jarak jauh biasanya lebih menguntungkan.
“Kami juga harus mengembalikan uang konsumen akibat kondisi ini. Padahal, banyak dari mereka yang telah melakukan pemesanan jauh-jauh hari,” tambah Irfan.
Ia menjelaskan bahwa study tour sekolah merupakan agenda tahunan yang menjadi salah satu sumber pendapatan utama bagi perusahaan bus pariwisata.
Selain periode April-Mei, bulan Oktober biasanya diisi dengan kunjungan industri, sementara akhir tahun menjadi waktu favorit untuk study tour liburan semester.
Meski mengalami kerugian signifikan, PO Tifanha berupaya bertahan dengan mencari pasar baru di luar segmen sekolah. Irfan menegaskan bahwa layanan bus mereka masih tetap tersedia bagi pelanggan dari kalangan perkantoran serta wisata religi atau ziarah, yang tidak terdampak oleh kebijakan ini.
“Kami berharap ada solusi dari pemerintah agar sektor transportasi wisata bisa tetap bertahan. Untuk saat ini, kami akan fokus pada pelanggan di luar sekolah,” pungkasnya.
Kebijakan larangan study tour ini memang bertujuan untuk memastikan keselamatan siswa, namun dampaknya terhadap sektor ekonomi, khususnya transportasi dan pariwisata, juga perlu mendapat perhatian lebih lanjut dari pemerintah.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










