Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Kebakaran Hebat Lahap Desa Adat Sade Lombok, 150 Rumah Warga Hangus dalam Sekejap

Minggu, 23 Agustus 2026 18:06 WIB
Segera cair bansos KLJ Agustus 2025,

Jangan Salah! Ini Cara Cek PKH Tahap 3 2026 Lewat HP, Status Bansos hingga Desil DTSEN

Minggu, 23 Agustus 2026 17:00 WIB

Bukan Sekadar Menang! Saddil Ramdani Beberkan Misi Besar Persib vs Manila Digger

Minggu, 23 Agustus 2026 16:14 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Kebakaran Hebat Lahap Desa Adat Sade Lombok, 150 Rumah Warga Hangus dalam Sekejap
  • Jangan Salah! Ini Cara Cek PKH Tahap 3 2026 Lewat HP, Status Bansos hingga Desil DTSEN
  • Bukan Sekadar Menang! Saddil Ramdani Beberkan Misi Besar Persib vs Manila Digger
  • Bukan Asli Ajaran Nabi? Konser Diberi Izin Tapi Maulid Dilarang, Ada Apa dengan Arab Saudi?
  • Jelang Muktamar NU ke-35, PKB Kabupaten Bandung Gelar Mujahadah dan Tirakat Politik
  • 72 Ribu Hektare Lebih Dilalap Api! Ini Daftar Wilayah dengan Karhutla Terluas di Indonesia
  • Arcamanik Membiru! Ratusan Warga Meriahkan Pesta Rakyat Demokrat Jabar
  • Thailand Kena Mental? Vietnam Curi Kemenangan 2-0 di Rajamangala, Comeback Jadi Misi Mustahil
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Minggu, 23 Agustus 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Malu Sumpah! Komentar Pedas Netizen Soroti Kisah Norida yang 18 Tahun Terlantar di Indonesia

By SusanaSelasa, 17 Februari 2026 10:02 WIB4 Mins Read
Setelah 18 tahun hidup penuh keterbatasan di Lombok, Norida Akmal Ayob akhirnya dipulangkan ke Malaysia. Foto: Instagram @nowdots.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Kisah Norida Akmal Ayob (45), warga negara Malaysia yang bertahan hidup selama 18 tahun di Lombok, Indonesia, akhirnya menemukan titik terang.

Pada Sabtu (14/2/2026), Norida resmi kembali ke Malaysia setelah hampir dua dekade hidup dalam keterbatasan ekonomi dan keterasingan sosial.

Kepulangan Norida bukan sekadar perjalanan lintas negara, tetapi juga perjalanan emosional panjang yang sarat perjuangan.

Setelah bertahun-tahun berpisah dari keluarga di kampung halamannya di Lenggong, ia akhirnya kembali ke pangkuan orang-orang terdekatnya dengan harapan memulai lembaran baru kehidupan.

Bertahan Hidup di Negeri Orang

Awalnya, Norida mengikuti suaminya yang merupakan warga negara Indonesia dan menetap di Lombok. Namun, pernikahan tersebut tidak bertahan lama dan berujung pada perpisahan. Sejak saat itu, Norida harus berjuang seorang diri membesarkan dua anaknya tanpa dukungan ekonomi yang memadai.

Untuk menyambung hidup, ia bekerja sebagai penyapu jalan dengan penghasilan yang sangat terbatas. Kondisi ekonomi yang berat membuat kedua anaknya tidak mampu melanjutkan pendidikan dan terpaksa putus sekolah.

Tekanan finansial dan minimnya akses sosial menjadi realitas pahit yang harus dijalani hampir dua dekade lamanya.

Hidup sebagai perempuan di perkawinan lintas negara tanpa perlindungan yang kuat membuat Norida berada dalam posisi rentan. Tanpa jaringan keluarga, dukungan hukum, dan akses ekonomi, ia terjebak dalam lingkaran keterbatasan yang sulit ditembus.

Respons Cepat Pemerintah Malaysia

Kisah Norida akhirnya sampai ke otoritas Malaysia setelah keluarganya melaporkan kondisi yang dialaminya. Laporan tersebut mendapat respons cepat dari pemerintah melalui Kementerian Luar Negeri Malaysia (Wisma Putra) dan Kedutaan Besar Malaysia di Indonesia.

Wakil Menteri Dalam Negeri Malaysia, Shamsul Anuar Nasarah, menyampaikan bahwa pemerintah segera mengambil langkah koordinatif setelah menerima laporan keluarga. Proses pemulangan melibatkan sejumlah lembaga, termasuk Departemen Imigrasi Malaysia dan otoritas imigrasi Indonesia.

Repatriasi tersebut tidak berlangsung instan. Tahapan administratif harus dilalui, mulai dari verifikasi kewarganegaraan, pengurusan dokumen perjalanan, hingga pengaturan keberangkatan resmi.

Kerja sama bilateral antara Malaysia dan Indonesia menjadi kunci agar proses berjalan sesuai ketentuan hukum serta menjamin keamanan Norida dan anak-anaknya.

Dukungan Diplomatik dan Perlindungan Warga Negara

Peristiwa ini menegaskan pentingnya peran perwakilan diplomatik dalam memberikan perlindungan bagi warga negara di luar negeri. Tanpa dukungan negara, warga yang menghadapi persoalan sosial, ekonomi, maupun hukum di negara lain berisiko terjebak dalam situasi berkepanjangan.

Kasus Norida menjadi pengingat tentang kerentanan perempuan dalam perkawinan lintas negara, terutama ketika terjadi perceraian atau konflik rumah tangga. Minimnya perlindungan hukum dan akses ekonomi dapat memperburuk kondisi, terlebih jika harus membesarkan anak seorang diri.

Sorotan dan Respons Warganet

Kepulangan Norida turut memantik respons luas di media sosial. Berdasarkan pantauan dari kolom komentar Instagram @nowdots, Selasa (17/2/2026), banyak warganet memberikan apresiasi kepada pemerintah Malaysia.

“Luar biasa pemerintah Malaysia,” tulis akun @its***.
“Beruntung sekali warga Malaysia,” komentar akun @dev***.
“Terima kasih Malaysia menjadi teladan pemerintah,” ujar akun @sal***.

Namun, tidak sedikit pula komentar bernada kritik dan refleksi sosial. Beberapa warganet menilai peristiwa ini sebagai cerminan persoalan yang lebih luas, termasuk isu kesejahteraan dan mentalitas dalam mengambil keputusan hidup.

“Malu sumpah,” tulis akun @mis***.
“Mentalitas halalin dulu. Ekonomi urusan belakang,” tulis akun @emd***.

Beragam komentar tersebut menunjukkan bahwa kisah Norida tidak hanya dipandang sebagai peristiwa personal, tetapi juga sebagai refleksi sosial tentang tanggung jawab negara, perlindungan warga, serta pentingnya kesiapan ekonomi dalam membangun rumah tangga lintas negara.

Kesempatan Kedua untuk Masa Depan

Bagi Norida, kepulangan ini bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan kesempatan kedua untuk membangun kehidupan yang sempat tertunda selama 18 tahun. Setelah bertahan dalam keterbatasan ekonomi dan tekanan sosial, ia kini memiliki peluang untuk menata kembali masa depan bersama keluarga.

Kisah ini menjadi pelajaran penting tentang arti perlindungan negara terhadap warganya di perantauan. Di balik angka dan prosedur administratif, terdapat kehidupan nyata yang menanti untuk dipulihkan.

Setelah hampir dua dekade bertahan di negeri orang, Norida akhirnya kembali ke tanah airnya dengan satu harapan: kehidupan yang lebih layak dan masa depan yang lebih cerah bagi dirinya dan anak-anaknya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Kebakaran Hebat Lahap Desa Adat Sade Lombok, 150 Rumah Warga Hangus dalam Sekejap

Segera cair bansos KLJ Agustus 2025,

Jangan Salah! Ini Cara Cek PKH Tahap 3 2026 Lewat HP, Status Bansos hingga Desil DTSEN

Bukan Asli Ajaran Nabi? Konser Diberi Izin Tapi Maulid Dilarang, Ada Apa dengan Arab Saudi?

Jelang Muktamar NU ke-35, PKB Kabupaten Bandung Gelar Mujahadah dan Tirakat Politik

72 Ribu Hektare Lebih Dilalap Api! Ini Daftar Wilayah dengan Karhutla Terluas di Indonesia

Arcamanik Membiru! Ratusan Warga Meriahkan Pesta Rakyat Demokrat Jabar

Terpopuler
  • Deretan Kode Redeem FF 19 Agustus 2026: Amankan Evolution Stone dan Skin Spesial Kemerdekaan!
  • Mengenang 50 Tahun Kebersamaan, Alumni ITB 76 Unjuk Budaya Lokal Lewat Karnaval Sisingaan di Bandung
  • Garena Free Fire
    Kode Redeem FF Terbaru 21 Agustus 2026: Serbu Evolution Stone dan Skin Senjata Gratis!
  • Menembus Angka 75,90: Menguji Rekor IPM Jawa Barat di Tengah Bayang Ketimpangan
  • Jabar Masih Dibelit Masalah, Kehadiran Dedi Mulyadi di NTT Dinilai Tak Urgent
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.