Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Duel Hidup-Mati Grup F Piala Dunia 2026: Prediksi Skor dan Statistik Agresif Jepang vs Swedia

Kamis, 25 Juni 2026 23:06 WIB

Borong Primogem Gratis! Segera Tukar 6 Kode Redeem Genshin Impact Terbaru Juni 2026 Ini Sebelum Hangus

Kamis, 25 Juni 2026 22:40 WIB

Regulasi Baru Mulai 1 Juli 2026: Registrasi Kartu SIM Wajib Rekam Wajah, Ini Skema Daftarnya

Kamis, 25 Juni 2026 22:09 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Duel Hidup-Mati Grup F Piala Dunia 2026: Prediksi Skor dan Statistik Agresif Jepang vs Swedia
  • Borong Primogem Gratis! Segera Tukar 6 Kode Redeem Genshin Impact Terbaru Juni 2026 Ini Sebelum Hangus
  • Regulasi Baru Mulai 1 Juli 2026: Registrasi Kartu SIM Wajib Rekam Wajah, Ini Skema Daftarnya
  • Saingi Pasar Tablet Murah, Intip Spesifikasi Poco Pad C1 yang Dibanderol Rp2 Jutaan
  • Jangan Panik, Lakukan 5 Penyelamatan Ini Jika Terlanjur Klik APK Undangan Palsu
  • Jadwal Siaran Langsung Piala Dunia Jumat 26 Juni 2026: Laga Hidup-Mati Jerman dan Belanda Berburu Tiket 32 Besar
  • Lebih Sangar dari Intel! Emak-emak Ini Sendirian Obrak-Abrik Sarang Sabu 24 Jam, Polisi Baru Gerak Pas Viral?
  • Peringati Hari Asyura, Cucun Ahmad Syamsurijal Santuni 1.448 Anak Yatim dan Resmikan Rumah Layak Huni
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Jumat, 26 Juni 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Malu Sumpah! Komentar Pedas Netizen Soroti Kisah Norida yang 18 Tahun Terlantar di Indonesia

By SusanaSelasa, 17 Februari 2026 10:02 WIB4 Mins Read
Setelah 18 tahun hidup penuh keterbatasan di Lombok, Norida Akmal Ayob akhirnya dipulangkan ke Malaysia. Foto: Instagram @nowdots.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Kisah Norida Akmal Ayob (45), warga negara Malaysia yang bertahan hidup selama 18 tahun di Lombok, Indonesia, akhirnya menemukan titik terang.

Pada Sabtu (14/2/2026), Norida resmi kembali ke Malaysia setelah hampir dua dekade hidup dalam keterbatasan ekonomi dan keterasingan sosial.

Kepulangan Norida bukan sekadar perjalanan lintas negara, tetapi juga perjalanan emosional panjang yang sarat perjuangan.

Setelah bertahun-tahun berpisah dari keluarga di kampung halamannya di Lenggong, ia akhirnya kembali ke pangkuan orang-orang terdekatnya dengan harapan memulai lembaran baru kehidupan.

Bertahan Hidup di Negeri Orang

Awalnya, Norida mengikuti suaminya yang merupakan warga negara Indonesia dan menetap di Lombok. Namun, pernikahan tersebut tidak bertahan lama dan berujung pada perpisahan. Sejak saat itu, Norida harus berjuang seorang diri membesarkan dua anaknya tanpa dukungan ekonomi yang memadai.

Untuk menyambung hidup, ia bekerja sebagai penyapu jalan dengan penghasilan yang sangat terbatas. Kondisi ekonomi yang berat membuat kedua anaknya tidak mampu melanjutkan pendidikan dan terpaksa putus sekolah.

Tekanan finansial dan minimnya akses sosial menjadi realitas pahit yang harus dijalani hampir dua dekade lamanya.

Hidup sebagai perempuan di perkawinan lintas negara tanpa perlindungan yang kuat membuat Norida berada dalam posisi rentan. Tanpa jaringan keluarga, dukungan hukum, dan akses ekonomi, ia terjebak dalam lingkaran keterbatasan yang sulit ditembus.

Respons Cepat Pemerintah Malaysia

Kisah Norida akhirnya sampai ke otoritas Malaysia setelah keluarganya melaporkan kondisi yang dialaminya. Laporan tersebut mendapat respons cepat dari pemerintah melalui Kementerian Luar Negeri Malaysia (Wisma Putra) dan Kedutaan Besar Malaysia di Indonesia.

Wakil Menteri Dalam Negeri Malaysia, Shamsul Anuar Nasarah, menyampaikan bahwa pemerintah segera mengambil langkah koordinatif setelah menerima laporan keluarga. Proses pemulangan melibatkan sejumlah lembaga, termasuk Departemen Imigrasi Malaysia dan otoritas imigrasi Indonesia.

Repatriasi tersebut tidak berlangsung instan. Tahapan administratif harus dilalui, mulai dari verifikasi kewarganegaraan, pengurusan dokumen perjalanan, hingga pengaturan keberangkatan resmi.

Kerja sama bilateral antara Malaysia dan Indonesia menjadi kunci agar proses berjalan sesuai ketentuan hukum serta menjamin keamanan Norida dan anak-anaknya.

Dukungan Diplomatik dan Perlindungan Warga Negara

Peristiwa ini menegaskan pentingnya peran perwakilan diplomatik dalam memberikan perlindungan bagi warga negara di luar negeri. Tanpa dukungan negara, warga yang menghadapi persoalan sosial, ekonomi, maupun hukum di negara lain berisiko terjebak dalam situasi berkepanjangan.

Kasus Norida menjadi pengingat tentang kerentanan perempuan dalam perkawinan lintas negara, terutama ketika terjadi perceraian atau konflik rumah tangga. Minimnya perlindungan hukum dan akses ekonomi dapat memperburuk kondisi, terlebih jika harus membesarkan anak seorang diri.

Sorotan dan Respons Warganet

Kepulangan Norida turut memantik respons luas di media sosial. Berdasarkan pantauan dari kolom komentar Instagram @nowdots, Selasa (17/2/2026), banyak warganet memberikan apresiasi kepada pemerintah Malaysia.

“Luar biasa pemerintah Malaysia,” tulis akun @its***.
“Beruntung sekali warga Malaysia,” komentar akun @dev***.
“Terima kasih Malaysia menjadi teladan pemerintah,” ujar akun @sal***.

Namun, tidak sedikit pula komentar bernada kritik dan refleksi sosial. Beberapa warganet menilai peristiwa ini sebagai cerminan persoalan yang lebih luas, termasuk isu kesejahteraan dan mentalitas dalam mengambil keputusan hidup.

“Malu sumpah,” tulis akun @mis***.
“Mentalitas halalin dulu. Ekonomi urusan belakang,” tulis akun @emd***.

Beragam komentar tersebut menunjukkan bahwa kisah Norida tidak hanya dipandang sebagai peristiwa personal, tetapi juga sebagai refleksi sosial tentang tanggung jawab negara, perlindungan warga, serta pentingnya kesiapan ekonomi dalam membangun rumah tangga lintas negara.

Kesempatan Kedua untuk Masa Depan

Bagi Norida, kepulangan ini bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan kesempatan kedua untuk membangun kehidupan yang sempat tertunda selama 18 tahun. Setelah bertahan dalam keterbatasan ekonomi dan tekanan sosial, ia kini memiliki peluang untuk menata kembali masa depan bersama keluarga.

Kisah ini menjadi pelajaran penting tentang arti perlindungan negara terhadap warganya di perantauan. Di balik angka dan prosedur administratif, terdapat kehidupan nyata yang menanti untuk dipulihkan.

Setelah hampir dua dekade bertahan di negeri orang, Norida akhirnya kembali ke tanah airnya dengan satu harapan: kehidupan yang lebih layak dan masa depan yang lebih cerah bagi dirinya dan anak-anaknya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Kedutaan Besar Malaysia di Indonesia Norida Akmal Ayob pemulangan WNI Malaysia perkawinan lintas negara repatriasi Malaysia Indonesia Shamsul Anuar Nasarah Wisma Putra WNI Malaysia di Lombok
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Lebih Sangar dari Intel! Emak-emak Ini Sendirian Obrak-Abrik Sarang Sabu 24 Jam, Polisi Baru Gerak Pas Viral?

Peringati Hari Asyura, Cucun Ahmad Syamsurijal Santuni 1.448 Anak Yatim dan Resmikan Rumah Layak Huni

Ilustrasi gempa

Gempa Dahsyat Magnitudo 7,5 Guncang Venezuela, Puluhan Tewas dan Ratusan Terluka

Dedi Mulyadi Alihkan Sayembara Rp250 Juta untuk Korban YTR, Diserahkan saat Hari Bhayangkara

Masa Lalu Taufik Hidayat Terungkap, Ayah Sebut Anak Temperamental Sejak Kecil

Kisruh SPMB 2026, Ombudsman Semprot Disdik Jabar: Sosialisasi Minim Banget!

Terpopuler
  • Viral Handuk Putih Anak vs Ibu, Warganet Berburu Link Asli! Ternyata Isinya Bikin Kaget
  • Viral! Video ‘Handuk Putih Ibu dan Anak’ Bikin Netizen Penasaran, Ini Faktanya
  • Cut Salwa Jadi Trending Topic, Benarkah Ada Video 10 Menit? Ini Fakta yang Terungkap
  • Api Mendadak Berkobar di RM Tamagochi Bandung, Diduga Berawal dari Meja Konsumen
  • Link Video Cut Salwa Viral di TikTok dan X, Ini Fakta Sebenarnya
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.