Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Generasi 2000-an Pasti Kenal! Sosok Cover Lagu MP3 Ini Meninggal Dunia

Kamis, 15 Oktober 2026 21:01 WIB

Viral Pemalakan Sopir di Bandung Barat, Royan Sulaeman alias Gayung Ditangkap

Kamis, 15 Oktober 2026 20:24 WIB

Makin Gacor di Persib, Mariano Peralta Siap Bikin Persik Ketar-ketir?

Kamis, 15 Oktober 2026 20:05 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Generasi 2000-an Pasti Kenal! Sosok Cover Lagu MP3 Ini Meninggal Dunia
  • Viral Pemalakan Sopir di Bandung Barat, Royan Sulaeman alias Gayung Ditangkap
  • Makin Gacor di Persib, Mariano Peralta Siap Bikin Persik Ketar-ketir?
  • Wanita di Bandung Diduga Disekap dan Dianiaya di Apartemen, Uang Rp6 Juta Raib
  • Berburu Kuliner di Purwakarta? Ini 5 Makanan Tradisional yang Cocok Jadi Oleh-Oleh
  • Mayoritas Muslim Tapi Dilarang Berhijab? Kisah Pilu Siswi di Azerbaijan Terusir dari Sekolah
  • Persib Didenda Rp50 Juta, Luka Menalo Rusak LED Board dan Kaca Ruang Ganti
  • Beda Kelas atau Beda Nasib? Aiswarya Bawa Pulang Mahkota, Reno Pulang Dihujat Satu Indonesia!
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 15 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Malu Sumpah! Komentar Pedas Netizen Soroti Kisah Norida yang 18 Tahun Terlantar di Indonesia

By SusanaSelasa, 17 Februari 2026 10:02 WIB4 Mins Read
Setelah 18 tahun hidup penuh keterbatasan di Lombok, Norida Akmal Ayob akhirnya dipulangkan ke Malaysia. Foto: Instagram @nowdots.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Kisah Norida Akmal Ayob (45), warga negara Malaysia yang bertahan hidup selama 18 tahun di Lombok, Indonesia, akhirnya menemukan titik terang.

Pada Sabtu (14/2/2026), Norida resmi kembali ke Malaysia setelah hampir dua dekade hidup dalam keterbatasan ekonomi dan keterasingan sosial.

Kepulangan Norida bukan sekadar perjalanan lintas negara, tetapi juga perjalanan emosional panjang yang sarat perjuangan.

Setelah bertahun-tahun berpisah dari keluarga di kampung halamannya di Lenggong, ia akhirnya kembali ke pangkuan orang-orang terdekatnya dengan harapan memulai lembaran baru kehidupan.

Bertahan Hidup di Negeri Orang

Awalnya, Norida mengikuti suaminya yang merupakan warga negara Indonesia dan menetap di Lombok. Namun, pernikahan tersebut tidak bertahan lama dan berujung pada perpisahan. Sejak saat itu, Norida harus berjuang seorang diri membesarkan dua anaknya tanpa dukungan ekonomi yang memadai.

Untuk menyambung hidup, ia bekerja sebagai penyapu jalan dengan penghasilan yang sangat terbatas. Kondisi ekonomi yang berat membuat kedua anaknya tidak mampu melanjutkan pendidikan dan terpaksa putus sekolah.

Tekanan finansial dan minimnya akses sosial menjadi realitas pahit yang harus dijalani hampir dua dekade lamanya.

Hidup sebagai perempuan di perkawinan lintas negara tanpa perlindungan yang kuat membuat Norida berada dalam posisi rentan. Tanpa jaringan keluarga, dukungan hukum, dan akses ekonomi, ia terjebak dalam lingkaran keterbatasan yang sulit ditembus.

Respons Cepat Pemerintah Malaysia

Kisah Norida akhirnya sampai ke otoritas Malaysia setelah keluarganya melaporkan kondisi yang dialaminya. Laporan tersebut mendapat respons cepat dari pemerintah melalui Kementerian Luar Negeri Malaysia (Wisma Putra) dan Kedutaan Besar Malaysia di Indonesia.

Wakil Menteri Dalam Negeri Malaysia, Shamsul Anuar Nasarah, menyampaikan bahwa pemerintah segera mengambil langkah koordinatif setelah menerima laporan keluarga. Proses pemulangan melibatkan sejumlah lembaga, termasuk Departemen Imigrasi Malaysia dan otoritas imigrasi Indonesia.

Repatriasi tersebut tidak berlangsung instan. Tahapan administratif harus dilalui, mulai dari verifikasi kewarganegaraan, pengurusan dokumen perjalanan, hingga pengaturan keberangkatan resmi.

Kerja sama bilateral antara Malaysia dan Indonesia menjadi kunci agar proses berjalan sesuai ketentuan hukum serta menjamin keamanan Norida dan anak-anaknya.

Dukungan Diplomatik dan Perlindungan Warga Negara

Peristiwa ini menegaskan pentingnya peran perwakilan diplomatik dalam memberikan perlindungan bagi warga negara di luar negeri. Tanpa dukungan negara, warga yang menghadapi persoalan sosial, ekonomi, maupun hukum di negara lain berisiko terjebak dalam situasi berkepanjangan.

Kasus Norida menjadi pengingat tentang kerentanan perempuan dalam perkawinan lintas negara, terutama ketika terjadi perceraian atau konflik rumah tangga. Minimnya perlindungan hukum dan akses ekonomi dapat memperburuk kondisi, terlebih jika harus membesarkan anak seorang diri.

Sorotan dan Respons Warganet

Kepulangan Norida turut memantik respons luas di media sosial. Berdasarkan pantauan dari kolom komentar Instagram @nowdots, Selasa (17/2/2026), banyak warganet memberikan apresiasi kepada pemerintah Malaysia.

“Luar biasa pemerintah Malaysia,” tulis akun @its***.
“Beruntung sekali warga Malaysia,” komentar akun @dev***.
“Terima kasih Malaysia menjadi teladan pemerintah,” ujar akun @sal***.

Namun, tidak sedikit pula komentar bernada kritik dan refleksi sosial. Beberapa warganet menilai peristiwa ini sebagai cerminan persoalan yang lebih luas, termasuk isu kesejahteraan dan mentalitas dalam mengambil keputusan hidup.

“Malu sumpah,” tulis akun @mis***.
“Mentalitas halalin dulu. Ekonomi urusan belakang,” tulis akun @emd***.

Beragam komentar tersebut menunjukkan bahwa kisah Norida tidak hanya dipandang sebagai peristiwa personal, tetapi juga sebagai refleksi sosial tentang tanggung jawab negara, perlindungan warga, serta pentingnya kesiapan ekonomi dalam membangun rumah tangga lintas negara.

Kesempatan Kedua untuk Masa Depan

Bagi Norida, kepulangan ini bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan kesempatan kedua untuk membangun kehidupan yang sempat tertunda selama 18 tahun. Setelah bertahan dalam keterbatasan ekonomi dan tekanan sosial, ia kini memiliki peluang untuk menata kembali masa depan bersama keluarga.

Kisah ini menjadi pelajaran penting tentang arti perlindungan negara terhadap warganya di perantauan. Di balik angka dan prosedur administratif, terdapat kehidupan nyata yang menanti untuk dipulihkan.

Setelah hampir dua dekade bertahan di negeri orang, Norida akhirnya kembali ke tanah airnya dengan satu harapan: kehidupan yang lebih layak dan masa depan yang lebih cerah bagi dirinya dan anak-anaknya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Viral Pemalakan Sopir di Bandung Barat, Royan Sulaeman alias Gayung Ditangkap

Wanita di Bandung Diduga Disekap dan Dianiaya di Apartemen, Uang Rp6 Juta Raib

Mayoritas Muslim Tapi Dilarang Berhijab? Kisah Pilu Siswi di Azerbaijan Terusir dari Sekolah

Prabowo Lantik 9 Pejabat Baru, Maruli Simanjuntak Jadi Wakil Panglima TNI

Jalan Perbatasan Ciwidey–Gununghalu Kini Mulus, KDS: Dorong Ekonomi Warga

Serangan di Arab Saudi Tewaskan 12 Orang, Kemlu Pantau Keselamatan WNI

Terpopuler
  • Humas Era Digital Tak Cukup Viral! Mahasiswa UIN Bandung Dibekali Strategi Algoritma hingga Etika
  • Ramai Kritik Ornamen Candi di Gedung Sate, Warga Sentil Dedi Mulyadi: Estetik Henteu, Fungsional Komo!
  • bsu.kemnaker.go.id untuk mengecek penerima BSU 2025 secara resmi dari Kemnaker.
    BLT Kesra 2026 Kapan Cair? Cek Update Bantuan Sosial Akhir Tahun dan Cara Cek NIK Kemensos
  • Terbongkar! Pengakuan Jujur Anggun C Sasmi Soal Paspor Prancis yang Selama Ini Disembunyikan
  • Viral! Dana Donasi Pak Santoso Tercatat Rp14,3 Juta, Disebut Hanya Terima Rp600 Ribu
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.