Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Ledakan Misterius Hancurkan Kontrakan 19 Kamar di Cileunyi, Satu Penghuni Terluka

Minggu, 15 Maret 2026 21:53 WIB
CPNS Kemenag

Atur WFA Saat Libur Nyepi–Lebaran 2026, Pemkab Bandung Pastikan Pelayanan Publik Tetap Jalan

Minggu, 15 Maret 2026 21:45 WIB

Pulang Umrah, Bupati Bandung Dadang Supriatna Langsung Tinjau Banjir Bandang Desa Panyadap Solokanjeruk

Minggu, 15 Maret 2026 21:40 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Ledakan Misterius Hancurkan Kontrakan 19 Kamar di Cileunyi, Satu Penghuni Terluka
  • Atur WFA Saat Libur Nyepi–Lebaran 2026, Pemkab Bandung Pastikan Pelayanan Publik Tetap Jalan
  • Pulang Umrah, Bupati Bandung Dadang Supriatna Langsung Tinjau Banjir Bandang Desa Panyadap Solokanjeruk
  • Ramadan 2026 Heboh! Link Video Mukena Pink No Sensor Tersebar, Begini Isi Videonya
  • Bukan Main Layangan, Bocah 10 Tahun Ini Malah Sibuk Masak dan Urus Orang Tua Sakit!
  • Doa Buka Puasa dan Jadwal Adzan Maghrib Bandung 15 Maret 2026
  • Alwi Farhan dan Putri KW Tembus Final Swiss Open 2026, Indonesia Bidik Dua Gelar
  • Selisih 4 Poin di Klasemen, Persib vs Borneo FC Jadi Laga Krusial Perebutan Gelar
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Minggu, 15 Maret 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Dari Keracunan Massal hingga Dapur Fiktif, Program MBG Perlu Evaluasi Menyeluruh

By Aga GustianaJumat, 19 September 2025 09:22 WIB4 Mins Read
Program MBG
Program Makan Bergizi Gratis. (Foto: Humas Bandung)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto sejak awal digadang sebagai terobosan besar untuk meningkatkan kualitas gizi anak sekolah, ibu hamil, hingga balita. Namun, perjalanan program ini diwarnai sederet persoalan serius, mulai dari kasus keracunan massal di berbagai daerah hingga temuan 5.000 dapur MBG fiktif.

Dalam laporan di Sidang Tahunan MPR pada Agustus lalu, Presiden Prabowo menyebut MBG sudah menjangkau 20 juta penerima manfaat. Targetnya, hingga akhir 2025 program ini dapat menyentuh lebih dari 82 juta orang. Dengan anggaran jumbo mencapai Rp 121 triliun, MBG diharapkan menjadi fondasi penting untuk melahirkan generasi sehat, cerdas, dan kuat.

Namun di lapangan, muncul temuan mencengangkan. Anggota Komisi IX DPR RI, Nurhadi, mengungkap adanya 5.000 titik dapur MBG yang ternyata tidak pernah terbangun.

“Angka ini memicu dugaan adanya dapur fiktif, meski BGN menyebut di lokasi tersebut belum dibangun walau sudah tercatat,” ujarnya dalam rapat bersama Badan Gizi Nasional (BGN), Senin (15/9/2025).

Nurhadi menjelaskan, praktik itu melibatkan oknum yang memahami sistem pendaftaran dapur di BGN. “Jadi ada oknum yang tahu sistem BGN, tahu dia cara daftarnya seperti apa dan pakai yayasannya dia. Setelah oknum ini mengunci titiknya, ternyata dia nggak bangun-bangun dapurnya, dan saat menuju 45 hari dijual-lah titik itu dengan ditawarkan ke investor,” katanya.

Menurut Nurhadi, masalah ini tak bisa dianggap enteng karena MBG mengelola anggaran raksasa. “Ribuan titik dapur yang mangkrak bukan sekadar soal teknis, melainkan menyangkut hak anak-anak Indonesia untuk mendapatkan asupan gizi yang layak sesuai mandat program,” tegasnya.

Baca Juga:  DPR RI Setujui Naturalisasi Tiga Pemain, Kevin Diks Siap Perkuat Timnas

Ia mendesak BGN segera mempublikasikan data rinci lokasi, status pembangunan, hingga jadwal operasional dapur. Selain itu, ia mendorong Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) melakukan audit kinerja dan keuangan, bukan sekadar menilai administrasi.

“Program MBG adalah investasi jangka panjang untuk masa depan bangsa, bukan proyek yang boleh dijadikan ajang bisnis. Setiap keterlambatan pembangunan dapur berarti keterlambatan pemenuhan gizi anak-anak Indonesia,” pungkas Nurhadi.

Rangkaian Kasus Keracunan Massal

Selain persoalan dapur fiktif, program MBG juga menghadapi masalah pada kualitas makanan. Sepanjang 2025, tercatat belasan kasus keracunan massal, mulai dari Sukoharjo, Sumba Timur, Bogor, Kulon Progo, hingga Banggai Kepulauan dan Garut.

Ratusan pelajar dilaporkan mengalami gejala mulai dari mual, muntah, hingga diare. Bahkan, kasus di Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah, menimpa lebih dari 250 siswa yang harus mendapatkan perawatan medis darurat.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana mengakui sejumlah faktor penyebab insiden. Salah satunya, dapur MBG yang baru beroperasi langsung melayani ribuan porsi tanpa persiapan matang.

Baca Juga:  131 Siswa Keracunan, Pemkab Garut Tetapkan Status KLB

“Makanya kami kemudian sarankan untuk SPPG baru, itu mulainya bertahap karena ibu-ibu yang biasa masak 4 orang sampai 10 orang itu belum tentu bisa untuk masak langsung 1.000 sampai 3.000 porsi,” kata Dadan (18/9/2025).

Ia juga menyinggung kasus di Maluku Barat Daya yang dipicu pergantian pemasok bahan baku. “Karena ingin meningkatkan kearifan lokal diganti oleh supplier lokal yang mungkin belum siap,” jelasnya.

Dadan menegaskan target pemerintah tetap zero incident. “MBG itu harus zero incident. Kita ingin membuat anak cerdas, sehat, kuat, ya harus makanannya dikonsumsi dengan baik dan tidak menimbulkan gangguan pencernaan,” ujarnya.

KPAI: Keselamatan Anak Harus Jadi Prioritas

Kekhawatiran juga datang dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Wakil Ketua KPAI Jasra Putra menegaskan bahwa kasus keracunan berulang sudah tidak bisa ditolerir.

“Anak usia PAUD memiliki daya tahan tubuh yang jauh lebih lemah dibanding orang dewasa. Ketika mereka mengalami keracunan massal, risikonya sangat besar karena mereka juga belum mampu mendeskripsikan kondisi kesehatannya dengan jelas,” ujarnya.

Hasil survei yang dilakukan KPAI bersama CISDI dan WVI di 12 provinsi menemukan 583 anak pernah menerima makanan MBG dalam kondisi rusak, bau, atau basi. Anak-anak juga mengeluhkan distribusi yang sering terlambat serta adanya buah dan sayuran berulat.

Baca Juga:  Korban MBG Berjatuhan Sampai Ribuan, Perlukah Disetop Sementara? Begini Kata Pakar

“Jangan sampai mengejar target, tetapi mengabaikan keselamatan anak. Apalagi jika kita membayangkan anak-anak usia dini menjadi korban keracunan, itu sungguh memprihatinkan,” tambah Jasra.

Evaluasi Jadi Kunci Keberhasilan

Dengan segala capaian dan problematikanya, para pemangku kepentingan sepakat bahwa program MBG tidak boleh berhenti, tetapi wajib dievaluasi menyeluruh.

Setidaknya ada beberapa aspek yang kini mendesak untuk dibenahi:

  1. Transparansi data dan dapur MBG — menghapus potensi “dapur fiktif” dengan sistem verifikasi lapangan paralel sejak awal.
  2. Penguatan standar higienitas — memastikan setiap dapur menerapkan SOP penyimpanan, pengolahan, hingga distribusi makanan.
  3. Pengawasan berlapis — melibatkan BPK, lembaga independen, dan masyarakat agar anggaran triliunan benar-benar sampai ke anak-anak.
  4. Edukasi gizi — membekali siswa, orang tua, dan pengelola agar memahami pentingnya pola makan sehat.

Seperti ditegaskan Nurhadi, “Keberhasilan program tidak boleh hanya diukur dari jumlah dapur terbangun, melainkan dari kualitas makanan yang benar-benar sampai ke meja anak-anak sekolah.”

Apabila pembenahan dilakukan serius, Program Makan Bergizi Gratis berpotensi menjadi warisan besar bagi masa depan bangsa. Namun tanpa evaluasi menyeluruh, setiap rupiah yang digelontorkan akan sia-sia dan justru mengancam anak-anak yang seharusnya dilindungi.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

dapur fiktif DPR RI keracunan MBG KPAI MBG Program Makan Bergizi Gratis
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Ledakan Misterius Hancurkan Kontrakan 19 Kamar di Cileunyi, Satu Penghuni Terluka

CPNS Kemenag

Atur WFA Saat Libur Nyepi–Lebaran 2026, Pemkab Bandung Pastikan Pelayanan Publik Tetap Jalan

Pulang Umrah, Bupati Bandung Dadang Supriatna Langsung Tinjau Banjir Bandang Desa Panyadap Solokanjeruk

Bukan Main Layangan, Bocah 10 Tahun Ini Malah Sibuk Masak dan Urus Orang Tua Sakit!

Doa Buka Puasa dan Jadwal Adzan Maghrib Bandung 15 Maret 2026

CPNS Kemenag

Mobil Dinas Tak Boleh untuk Mudik, ASN Bandung Diminta Patuhi Aturan

Terpopuler
  • Viral Video Kebun Sawit Ibu Tiri vs Anak Tiri, Apa Isinya? Hati-hati Jebakan Batman!
  • Video Aksi Ibu Tiri vs Anak Tiri di Kebun Sawit Viral, Link Diburu Netizen
  • Video Viral Ukhti Mukena Pink
    Heboh di Media Sosial, Video Ukhti Mukena Pink Bersensor Putih Bikin Netizen Penasaran
  • Video Viral Ukhti Mukena Pink
    Waspada Klaim Full Durasi Video Ukhti Mukena Pink ‘No Sensor’, Ini Faktanya
  • Viral video ukhti mukena pink.
    Hati-hati! Link Video Viral Mukena Pink ‘No Sensor’ Bisa Sebarkan Malware
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.