bukamata.id – Di era media sosial, ada nama yang selalu berhasil mencuri perhatian publik: Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Bukan hanya karena kebijakan kontroversial atau aksi sosialnya yang sering viral, tetapi juga karena kehidupan pribadinya yang tak jarang menjadi buah bibir netizen. Julukan Si Gubernur Konten pun seolah lahir untuknya.
Belum lama ini, perhatian publik kembali tertuju pada Kang Dedi setelah pertemuannya dengan politisi Malaysia, Young Syefura Othman, atau yang akrab disapa Rara, di Lembur Pakuan, Kecamatan Dawuan, Kabupaten Subang, Jawa Barat, pada Kamis (11/12/2025).
Momen itu terekam jelas dalam akun YouTube @KANGDEDIMULYADICHANNEL. Suasana pertemuan tampak hangat, cair, dan penuh canda. Gelak tawa terdengar saat Kang Dedi bercanda soal “melamar” Rara.
“Ya nanti saya ke Malaysia bawa lamaran,” ujarnya, yang langsung disambut tawa Rara.
Candaan itu pun diperjelas oleh Kang Dedi. “Lamaran untuk jadi karyawannya. Jadi pegawainya, jadi ajudannya,” tambahnya sambil tersenyum. Tidak hanya itu, salah satu staf Rara yang ikut dalam pertemuan turut tertawa dan mengatakan, “Kami didukung.”
Namun, Kang Dedi tak puas begitu saja. Dengan nada bercanda yang khas, ia menanyakan, “Nanti kalau dilamar ada yang marah enggak orang Malaysia?” Staf itu pun menjawab sambil tersenyum, “Aduh enggak tahu tuh.”
Video pertemuan ini pun dengan cepat menjadi viral. Warganet ramai membahas chemistry keduanya, menuliskan komentar jenaka sekaligus mendoakan agar Kang Dedi dan Rara berjodoh. Salah satunya ditulis oleh akun @rita_reza di YouTube:
“Ni hiyang tos masihan lampu hijau, OTW hajat seserahan Sa JABAR ka negri Upin Ipin.”
Mengenal sosok Rara, ia lahir pada 9 November 1989 dan kini berusia 36 tahun. Ia aktif sebagai Anggota Dewan Rakyat Malaysia dan kerap membagikan aktivitas politik serta hobinya melalui Instagram @young.syefura. Sementara itu, Kang Dedi Mulyadi lahir pada 11 April 1971, kini berusia 54 tahun.
Kehidupan pribadi Rara memang penuh liku. Ia pernah menikah dua kali, pertama dengan Mohd Masyhur Abdullah pada 2016 hingga berpisah pada 2019, dan kemudian dengan Mohd Edrin Nordin pada 2021 hingga bercerai pada 2024. Ada juga spekulasi soal anak, setelah ia mengunggah foto bersama anak laki-laki pada November 2024. Namun Rara menegaskan bahwa sosok itu hanyalah “anak buah.”
Sementara itu, kisah perceraian Kang Dedi juga sempat menjadi perhatian publik. Ia resmi bercerai dengan Anne Ratna Mustika pada 22 Februari 2023. Majelis Hakim Pengadilan Agama Purwakarta, yang diketuai Hakim Lia Yuliasih, memutuskan:
“Memutuskan, satu mengabulkan gugatan cerai penggugat, dua menjatuhkan talak satu kepada tergugat yaitu Dedi Mulyadi, tiga membebankan biaya perkara sebesar Rp 875.000.”
Setelah perceraian, Anne Ratna Mustika kembali menikah dengan Iskandar pada 16 Desember 2023. Ia tak lagi ragu menunjukkan kebahagiaannya di media sosial, berbeda dengan mantan suaminya. Kang Dedi tetap memilih menyendiri, menegaskan tidak akan menikah lagi meski telah menjadi Gubernur Jawa Barat.
Keputusan itu ia sampaikan dalam podcast Info A1 yang diunggah melalui Instagram @dedimulyadi71 pada 26 April 2024. Saat diwawancarai Pemimpin Redaksi Kumparan, Arifin Abydhad, soal kemungkinan memiliki pendamping, Kang Dedi menjawab tegas:
“Nggak.”
“Serius?” kejar Arifin.
“Serius,” balas Kang Dedi.
Arifin pun bertanya, apakah sebaiknya seorang Gubernur memiliki seorang istri sebagai ‘Ibu Jabar Satu’. Kang Dedi justru mempertanyakan kebiasaan itu:
“Emang sebuah keharusan jadi gubernur harus ada istrinya?”
Menurutnya, seorang pemimpin yang tidak memiliki pendamping justru lebih bebas dalam mengambil keputusan. “Justru kalau menurut saya sendiri itu jauh lebih bebas,” ujarnya.
Praktisi komunikasi politik, Ipang Wahid, yang hadir dalam wawancara, menebak keputusan Kang Dedi ini terinspirasi dari Presiden terpilih Prabowo Subianto, yang sejak bercerai dengan Titiek Soeharto pada 1998, memilih tidak menikah lagi. “Jangan-jangan mencontoh Pak Presiden Terpilih?” ujarnya, yang ditanggapi Kang Dedi dengan tawa.
Kang Dedi menekankan, status duda memberinya kebebasan. Ia bisa membuat keputusan tanpa terganggu emosi atau konflik rumah tangga. “Sendiri itu kan harusnya lebih bebas, bisa ngambil keputusan. Eh nanti jangan sampai, misalnya kenapa gubernurnya kok kelihatannya kusem? ‘lagi tengkar sama istri’,” ujarnya sambil tersenyum.
Selain itu, menjadi duda membuatnya bebas dari rasa cemburu atau masalah yang kadang muncul dalam hubungan rumah tangga. “Pergi kemana-mana tidak ada yang mencemburui, kan udah nggak ada masalah,” katanya. Ia pun menegaskan bahwa stigma tentang duda hanyalah mitos.
“Kenapa sih (tak menikah) masalah? itu kan mitos,” ujar Kang Dedi.
“Iya dong, sekali-kali dong Jawa Barat punya Gubernur duda,” tambahnya disambut tawa Arifin dan Ipang.
“Sama (seperti) presiden,” celetuk Arifin.
“Presiden juga duda,” sahut Ipang.
Di tengah hiruk-pikuk media sosial, Dedi Mulyadi tetap mempertahankan prinsip hidupnya: menjadi pemimpin bukan soal status pernikahan, tetapi soal kebebasan untuk memimpin dengan jernih dan bertanggung jawab. Dengan gaya khasnya yang selalu santai dan jenaka, tak heran setiap langkahnya selalu menjadi perbincangan publik, bahkan hingga di kancah internasional.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News








