bukamata.id – Konten di media sosial kini menjadi salah satu cara cepat untuk meraih popularitas. Namun, kontroversi terbaru yang melibatkan kreator asal Cianjur, Mak Mak Daster, menjadi pengingat penting bahwa etika dan adab harus mendahului ambisi viral atau FYP.
Mak Mak Daster menjadi sorotan publik setelah unggahan videonya memicu gelombang kecaman. Dalam konten tersebut, ia tampak menginjak-injak kuburan dan menendang papan nisan, aksi yang ditujukan untuk menarik perhatian dan meningkatkan jumlah penonton.
Video itu viral dengan cepat di berbagai platform media sosial, termasuk Instagram dan TikTok. Banyak netizen menilai tindakan tersebut tidak pantas, menyinggung nilai moral, serta dapat merusak norma sosial. Komentar pedas pun membanjiri unggahannya:
“Maaf nehh bukk, meskipun itu bukan kuburan beneran. Tapi tindakan dari konten ibu itu tetap nggak bisa dibenarkan,” tulis akun @mau***.
“Demi konten gini amat polahnya, banyak orang bikin konten tidak mendidik sama sekali,” komentar @ret***.
“Sebenarnya dia bikin video klarifikasi dulu baru video utama… emang disengaja biar penontonnya nonton 2 episode,” tambah @ain***.
“Segitunya cari duit,” kritik akun @can***.
Klarifikasi dan Permintaan Maaf
Merespons kecaman publik, Mak Mak Daster menyampaikan klarifikasi dan permintaan maaf terbuka. Ia menegaskan bahwa kuburan yang ditampilkan dalam video bukan kuburan asli, melainkan properti palsu yang dibuat khusus untuk kebutuhan konten horor.
“Assalamualaikum, kami dari kreator Cianjur Selatan bade nyuhunkeun dihapunteun perkawis konten kuburan. Bade klarifikasi eta teh kuburan palsu, jadi sebetulnya itu kuburan properti kita buat untuk film horor,” ungkapnya, dikutip dari Instagram @feedgramindo, Rabu (4/2/2026).
Meskipun properti tersebut palsu, banyak warganet menekankan bahwa konten tetap harus mempertimbangkan nilai etika dan adab, karena cara penyajian dan konteksnya tetap dapat menimbulkan kontroversi dan menyinggung publik.
Pelajaran Bagi Kreator Lain
Komentar dari kreator lain juga menyoroti hal ini. Dari akun TikTok @anugrah_05yzzfy:
“Tah ning aya keluarga nu bogaen makam, hiji aa nu make daster naha jeng ngomong ieu makam bobodoan, rek ngabobodo warga Cianjur,” ungkapnya.
Peristiwa ini menjadi pelajaran bagi semua kreator bahwa konten viral harus dibangun dengan tanggung jawab, bukan sekadar demi menarik viewers atau FYP. Konten yang baik bukan hanya menghibur, tetapi juga memberi nilai positif, edukasi, dan tetap menghormati norma sosial.
Profil Mak Mak Daster
Mak Daster merupakan kreator asal Bandung yang kini fokus membuat konten di Cianjur Selatan. Ia dikenal melalui konten komedi dan viral, dengan 49,2 ribu pengikut di Instagram serta akun TikTok @emakdaster5.
Aktivitasnya yang semula bertujuan menghibur kini menjadi bahan refleksi bagi komunitas kreator di media sosial.
Konten Viral dan Batasan Etika
Kasus ini menjadi pengingat penting bagi para kreator bahwa menjadi viral bukanlah segalanya. Konten yang hanya mengandalkan sensasi tanpa memperhatikan adab sosial atau moral justru bisa merusak reputasi kreator dan memunculkan kritik publik yang luas.
Para ahli media sosial menekankan bahwa kreator konten memiliki tanggung jawab moral karena karya mereka tidak hanya dikonsumsi oleh orang dewasa, tetapi juga remaja dan anak-anak. Konten yang bersifat provokatif atau menyinggung kepercayaan tertentu dapat menimbulkan dampak psikologis dan sosial yang serius.
Melalui peristiwa ini, masyarakat dan kreator sama-sama diingatkan bahwa berkarya di media sosial bukan sekadar mengejar popularitas, tetapi juga harus mengutamakan adab, etika, dan tanggung jawab sosial.
Konten yang baik tidak hanya viral, tetapi juga memberi dampak positif bagi penonton dan lingkungan sekitarnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










