bukamata.id – Rencana demo hari ini sempat ramai diperbincangkan publik, terutama melalui media sosial dan pesan berantai. Ajakan aksi di Gedung DPR, Jakarta, mencuat setelah banyak akun dengan ribuan pengikut di platform X maupun WhatsApp ikut menyebarkan seruan tersebut.
Isu utama yang diangkat dalam seruan aksi adalah kritik terhadap tunjangan perumahan sebesar Rp50 juta yang diterima setiap anggota DPR. Seruan ini diklaim berasal dari kelompok yang menamakan diri Revolusi Rakyat Indonesia. Meski demikian, hingga kini tidak ada kepastian dari kelompok mahasiswa maupun serikat buruh besar terkait keterlibatan mereka.
Seruan Aksi 25 Agustus 2025 di Jakarta
Ajakan aksi pada Senin, 25 Agustus 2025, menjadi sorotan lantaran dianggap membawa isu sensitif. Namun, sejumlah tokoh justru mengimbau agar masyarakat tidak ikut serta.
Ketua Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Jumhur Hidayat, menegaskan bahwa ia melarang anggotanya turun ke jalan. Menurutnya, seruan tersebut tidak jelas arah dan penanggung jawabnya.
“Karena tidak jelas siapa penanggung jawab dan apa isu yang dituntutnya, saya melarang semua anggota atau keluarga besar KSPSI, khususnya di Jabodetabek, ikut dalam aksi 25 Agustus,” ujar Jumhur, Sabtu (23/8/2025).
Senada, Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) Kerakyatan juga memastikan tidak ada aksi mahasiswa. Mereka telah menggelar demonstrasi pada 21 Agustus 2025 dan tidak merencanakan aksi lanjutan.
Demo di Pati: Dari Aksi Lanjutan hingga Batal
Tak hanya di Jakarta, demo hari ini juga awalnya direncanakan berlangsung di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Aksi tersebut merupakan kelanjutan dari demonstrasi sebelumnya yang menolak kebijakan Bupati Sudewo menaikkan PBB hingga 250 persen.
Sosok Ahmad Husain Hafid semula menjadi inisiator aksi jilid II yang dijadwalkan pada 25 Agustus 2025. Namun, perkembangan terbaru menunjukkan aksi tersebut dibatalkan.
“Aliansi Masyarakat Pati Timur Bersatu menyatakan demo pada 25 Agustus batal. Saya sudah tidak berkecimpung di situ lagi,” jelas Husain, Selasa (19/8/2025).
Keputusan itu diambil setelah Husain dan Bupati Sudewo bertemu serta bersepakat berdamai. Bahkan, keduanya sempat difoto bersama sambil tersenyum.
Dugaan Penunggang Politik
Husain menegaskan bahwa pembatalan aksi didasari kekhawatiran adanya kepentingan politik yang mencoba menunggangi gerakan tersebut. Ia menilai pergerakan massa telah keluar dari tuntutan awal yang murni dari masyarakat.
“Kayak-kayak ditunggangi politik. Kalau saya dari awal real dari masyarakat. Makanya saya memilih membatalkan, ketimbang hanya jadi jembatan politik,” ujarnya.
Meski mendapat tuduhan menerima imbalan dari Bupati, Husain menepis anggapan itu. Ia bahkan menyampaikan apresiasi kepada Sudewo yang dianggap lebih terbuka dalam merangkul masyarakat.
“Aku lebih suka pemimpin yang benar-benar merangkul masyarakat, dan Pak Sudewo sudah membuktikan itu,” tutupnya.
Kesimpulan
Rencana demo hari ini di Jakarta dan Pati menimbulkan pro-kontra. Di satu sisi, isu yang diangkat cukup sensitif, namun di sisi lain banyak pihak meragukan kejelasan arah gerakan. Sejumlah tokoh buruh dan mahasiswa pun memilih menarik diri agar tidak terseret kepentingan politik.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










