bukamata.id – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menanggapi kritik anggota DPR Atalia Praratya soal kepadatan ruang kelas di sekolah negeri Jawa Barat. Namun, dalam responsnya, Dedi justru menyinggung minimnya pembangunan sekolah di masa pemerintahan Ridwan Kamil — suami Atalia sendiri.
Atalia sebelumnya mengungkapkan keprihatinannya setelah menemukan fakta bahwa satu kelas di sejumlah sekolah diisi oleh 43 hingga 50 siswa. Kondisi ini dinilai tidak ideal bagi proses belajar-mengajar.
Menanggapi hal itu, Dedi memberikan penjelasan melalui video di akun Instagram pribadinya @dedimulyadi71, dan menyebut persoalan ini tidak bisa dilepaskan dari kebijakan pemerintah sebelumnya.
“Kita harus menampung jumlah siswa hampir 800.000 anak. Dan yang terserap sekolah pemerintah tidak semuanya. Hanya 40 persen,” ujar Dedi, dikutip Minggu (3/8/2025).
“Kenapa ini terjadi? Karena di Provinsi Jawa Barat sejak tahun 2020 sampai saat ini membangun sekolah baru sedikit,” sambungnya.
Dedi Singgung Data Pembangunan Era Ridwan Kamil
Dalam video tersebut, Dedi membeberkan data pembangunan sekolah selama masa jabatan Ridwan Kamil sebagai Gubernur Jabar, yang dinilai minim dan tidak sebanding dengan pertumbuhan jumlah siswa.
- 2020: Tidak ada sekolah baru dibangun
- 2021: Hanya 2 SMA
- 2022: 1 unit sekolah
- 2023: 6 sekolah (1 SMA, 3 SMK, 2 SLB)
- 2024: 5 sekolah (3 SMA, 1 SMK, 1 SLB)
Sebagai perbandingan, Dedi menyebut bahwa pada tahun 2025, pemerintahannya telah membangun 15 sekolah baru yang terdiri dari 11 SMK, 2 SLB, dan 2 SMA.
“Tahun depan, insya Allah saya akan bangun 50 unit. Agar anak-anak di Jabar bisa sekolah dengan baik,” janji Dedi.
Klarifikasi Terkait Kelas Padat
Terkait temuan Atalia soal kelas dengan lebih dari 40 siswa, Dedi mengklarifikasi bahwa kondisi itu tidak terjadi di seluruh sekolah di Jawa Barat.
“Dan tidak semua, Bu. Hanya 38 sekolah yang merekrut. Itu kami lakukan terpaksa, dibanding dia tidak sekolah padahal rumahnya dekat sekolah. Kalau dia harus bergeser ke tempat jauh, bisa jadi putus sekolah,” jelasnya.
Dedi juga mengimbau agar Atalia tidak membandingkan sekolah negeri dengan “sekolah rakyat” yang kapasitas siswanya lebih kecil, karena sekolah-sekolah tersebut mendapatkan perhatian langsung dari pemerintah pusat.
“Sekolah rakyat bisa seperti itu karena mendapat atensi dari Presiden Prabowo,” ujarnya.
Penutup dengan Sentuhan Sindiran Halus
Meski sempat menyentil pemerintahan sebelumnya, Dedi tetap menutup pernyataannya dengan ucapan terima kasih atas perhatian Atalia terhadap dunia pendidikan.
“Untuk itu, saya ucapkan terima kasih atas perhatian Ibu yang begitu peduli dunia pendidikan di Jawa Barat. Salam hormat buat Pak RK, semoga Bapak dan Ibu sehat dan bahagia selalu,” pungkas Dedi.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










