Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Ini Modus Ustaz SAM Diduga Pelecehan Santri, Janji Beasiswa Jadi Alat Kepercayaan

Selasa, 17 Maret 2026 20:21 WIB

Video Ibu Tiri dan Anak Tiri di Sawit Muncul di TikTok, Ada Link Telegram?

Selasa, 17 Maret 2026 20:00 WIB
Persib

Persib di Puncak Klasemen, Bojan Hodak Sebut Super League Masuk Periode Penentu

Selasa, 17 Maret 2026 19:32 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Ini Modus Ustaz SAM Diduga Pelecehan Santri, Janji Beasiswa Jadi Alat Kepercayaan
  • Video Ibu Tiri dan Anak Tiri di Sawit Muncul di TikTok, Ada Link Telegram?
  • Persib di Puncak Klasemen, Bojan Hodak Sebut Super League Masuk Periode Penentu
  • Suaranya Mirip Dubbing Iklan, Ibu-Ibu Viral Ini Maki Pengunjung Minimarket Pakai Bahasa ‘Naskah Sinetron’!
  • Kapan Lebaran 2026? Ini Prediksi Terbaru, Bisa Berbeda Tanggal!
  • Kata Inara Rusli Soal Video Syur: Akui Ada Rekaman, Bantah Tuduhan Perzinaan
  • Waktu Maghrib Kota Bandung Hari Ini Jam Berapa? Jangan Lewatkan Doa Buka Puasa
  • Kantongi Belasan Miliar dari Kompetisi Asia, Intip Proyek ‘Los Galacticos’ Persib Bandung Musim Depan
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Selasa, 17 Maret 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Diskusi Publik, Rafael Situmorang Soroti Hak Dasar Rakyat dalam Wacana Pilkada Lewat DPRD

By Muhammad Rafki Razif KiransyahRabu, 21 Januari 2026 14:12 WIB2 Mins Read
Diskusi bertajuk “Pilkada di Tangan DPRD: Ikhtiar Efisiensi atau Pengebirian Daulat Rakyat?” di Gedung Indonesia Menggugat, Rabu (21/1/2026). (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Wacana pengembalian mekanisme pemilihan kepala daerah melalui DPRD kembali mengemuka dan memantik diskusi publik. Sejumlah elemen masyarakat menggelar diskusi bertajuk “Pilkada di Tangan DPRD: Ikhtiar Efisiensi atau Pengebirian Daulat Rakyat?” di Gedung Indonesia Menggugat, Rabu (21/1/2026).

Diskusi ini menjadi ruang bertukar gagasan sekaligus kritik terhadap arah demokrasi lokal di Indonesia, khususnya menyikapi isu efisiensi anggaran yang belakangan kerap dijadikan alasan dalam perbincangan sistem Pilkada.

Salah satu narasumber, Rafael Situmorang, Anggota Komisi I DPRD Jawa Barat, menegaskan bahwa hak memilih dan dipilih merupakan hak dasar warga negara yang tidak boleh dikurangi atas nama efisiensi.

“Saya memandang hak memilih dan hak dipilih itu hak dasar. Artinya negara harus memfasilitasi itu. Jangan gara-gara efisiensi, hak dasar dihilangkan,” tegas Rafael.

Baca Juga:  Jelang Pilkada, PWI Ciamis Ajak Masyarakat Perangi Hoaks dengan Edukasi

Menurutnya, kedaulatan rakyat adalah prinsip fundamental dalam demokrasi. Konsekuensinya, negara memiliki kewajiban untuk menyediakan ruang dan anggaran agar hak tersebut benar-benar bisa dijalankan.

“Berangkat dari itu, kedaulatan itu jelas. Hak dasar harus difasilitasi oleh negara dan menjadi konsekuensi negara untuk mengeluarkan anggaran,” ujarnya.

Meski demikian, Rafael juga menyampaikan catatan kritis terhadap praktik demokrasi di Indonesia saat ini. Ia menilai rendahnya kualitas pendidikan politik menjadi salah satu akar persoalan yang kerap mencederai proses demokrasi.

Baca Juga:  14 Tuntutan Menggema dalam Aksi 'Indonesia Gelap' Mahasiswa Bandung untuk Prabowo Subianto

“Kalau soal praktik, saya punya kesimpulan bahwa pendidikan politik di Indonesia masih rendah. Semakin tinggi pendidikan kita, semakin dewasa kita dalam berdemokrasi,” katanya.

Ia menekankan, perbaikan demokrasi tidak cukup hanya berbicara soal sistem, tetapi juga menyentuh kualitas pemilih, penyelenggara, serta partai politik sebagai pilar utama demokrasi.

“Akuntabilitas negara dan akuntabilitas partai politik harus diperbaiki. Perbaikan sistem ini harus terus kita lakukan, dari sisi penyelenggara, sisi pemilih, dan partai politik,” ujarnya.

Baca Juga:  Banyak Warga Berpenghasilan di Bawah Rp400 Ribu, Rafael Situmorang Soroti Kondisi Ekonomi Pekerja Kecil

Dalam forum tersebut, Rafael juga menyampaikan bahwa partai politik harus berani melakukan otokritik, khususnya dalam menjalankan fungsi pendidikan politik kepada masyarakat.

“Ini juga otokritik bagi partai politik, bagaimana memberikan pemahaman kepada pemilih,” katanya.

Diskusi publik ini diharapkan menjadi ruang refleksi bersama agar wacana perubahan sistem Pilkada tidak semata dilihat dari aspek teknis dan anggaran, tetapi juga dari sudut pandang hak konstitusional warga negara serta kualitas demokrasi Indonesia ke depan.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

akuntabilitas partai demokrasi lokal efisiensi anggaran hak memilih pendidikan politik Pilkada DPRD Rafael Situmorang
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Ini Modus Ustaz SAM Diduga Pelecehan Santri, Janji Beasiswa Jadi Alat Kepercayaan

Kapan Lebaran 2026? Ini Prediksi Terbaru, Bisa Berbeda Tanggal!

Waktu Maghrib Kota Bandung Hari Ini Jam Berapa? Jangan Lewatkan Doa Buka Puasa

Polisi Umumkan Tol Gedebage Dibuka 24 Jam saat Arus Mudik Lebaran 2026

Laba Tembus Rp1,15 Triliun, bank bjb Buktikan Ketahanan Finansial di Tengah Gejolak Ekonomi 2025

Bukan Sembarang Prajurit! Prada Nawawi Harumkan Indonesia di Langit Libya, Netizen: Tentara Allah!

Terpopuler
  • Viral Video Kebun Sawit Ibu Tiri vs Anak Tiri, Apa Isinya? Hati-hati Jebakan Batman!
  • Video Aksi Ibu Tiri vs Anak Tiri di Kebun Sawit Viral, Link Diburu Netizen
  • Video Viral Ukhti Mukena Pink
    Netizen Penasaran! Video Mukena Pink ‘No Sensor’ Viral, Banyak yang Buru Link Aslinya
  • Video Viral Ukhti Mukena Pink
    Waspada Klaim Full Durasi Video Ukhti Mukena Pink ‘No Sensor’, Ini Faktanya
  • Viral video ukhti mukena pink.
    Hati-hati! Link Video Viral Mukena Pink ‘No Sensor’ Bisa Sebarkan Malware
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.