bukamata.id – Platform media sosial belakangan ini digemparkan oleh viralnya sebuah tembang berbahasa Sunda bertajuk “Lalaki Langit, Lalanang Bejat”.
Lagu yang dipopulerkan oleh Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein, atau yang karib disapa Om Zein, seketika memicu perdebatan sengit dan menjadi sorotan tajam netizen hingga tokoh masyarakat.
Kontroversi mencuat lantaran bait-bait dalam lirik lagu tersebut dituding sebagian kelompok menyebarkan stereotip negatif terhadap kaum perempuan. Protes pun mengalir karena diksi yang dipilih dianggap tidak sensitif terhadap isu gender.
Merespons riuhnya opini publik yang terus menggelinding, Om Zein akhirnya memberikan penjelasan resmi. Orang nomor satu di Purwakarta ini turun tangan meluruskan kesalahpahaman demi mengembalikan esensi asli dari karya seninya tersebut.
Bantah Sindir Pihak Lain, Om Zein: Itu Cerminan Kenakalan Masa Lalu Saya
Bupati Purwakarta ini menepis keras tuduhan bahwa lagu itu dirancang khusus untuk mendiskreditkan atau menyinggung pihak tertentu, terutama kaum hawa. Ia membeberkan bahwa untaian puisi yang kemudian dilagukan itu sejatinya merupakan coretan lama yang mengisahkan lembar kehidupan pribadinya.
“Itu puisi dan lagu diciptakan tahun 2020, bercerita tentang diri saya sendiri. Berawal dari renungan atas perilaku saya sendiri yang menurut saya saat itu saya nakal,” ujar Om Zein secara terbuka kepada redaksi.
Om Zein menegaskan bahwa goresan lirik tersebut adalah pengakuan jujur atas fase kelam dan kekhilafan yang pernah ia lalui di masa lampau. Baginya, lagu ini berfungsi sebagai ruang kontemplasi batin atas perjalanan spiritualnya.
“Saya bersyukur Tuhan menciptakan saya jadi lelaki. Mungkin jika saya diciptakan jadi perempuan, terjadi apa yang saya pikirkan karena saya belum bisa menjaga diri,” tambahnya, menggambarkan kedalaman refleksi diri yang dialaminya kala itu.
Sampaikan Permohonan Maaf Terbuka Kepada Publik
Kendati karya tersebut murni bersifat otokritik personal, Om Zein memaklumi bahwa sudut pandang penikmat seni di ruang digital bisa sangat beragam. Sebagai figur publik yang peka terhadap situasi sosial, ia dengan ksatria menyampaikan permohonan maaf atas kegaduhan yang sempat terjadi di masyarakat.
“Saya mohon maaf jika ada pihak yang merasa tidak nyaman dengan lirik lagu itu. Namun tidak bermaksud menyinggung pihak tertentu. Itu murni cerita tentang diri saya sendiri,” tegas Bupati Purwakarta ini.
Misi Otokritik di Balik Tembang Sunda yang Kontroversial
Melalui klarifikasi komprehensif ini, Om Zein mengetuk kebijaksanaan masyarakat agar dapat membedah karyanya secara lebih objektif dan menyeluruh. Jauh dari motif untuk menjatuhkan kelompok tertentu, lagu “Lalaki Langit, Lalanang Bejat” sejatinya dihadirkan sebagai alarm pengingat bagi dirinya sendiri untuk bertransformasi menjadi figur yang lebih baik.
Penjelasan ini diharapkan sanggup mendinginkan tensi perdebatan di jagat maya, sekaligus memulihkan pemahaman publik bahwa lagu tersebut murni sebuah refleksi personal dari seorang manusia biasa, bukan ekspresi sentimen negatif terhadap pihak lain.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









